JAKARTA — Serangan di Selat Hormuz telah menyebabkan puluhan kapal tanker minyak berisi penuh terjebak di Teluk Persia, mengganggu alur ekspor dan meningkatkan risiko penghentian produksi.
Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, setidaknya 40 very large crude carrier (VLCC) atau kapal tanker minyak berukuran sangat besar, masing-masing mengangkut sekitar 2 juta barel minyak, saat ini menganggur di perairan Teluk. Pemilik dan nakhoda kapal menyatakan bahwa mereka menunggu situasi keamanan lebih jelas sebelum mencoba melintasi Selat Hormuz. Perusahaan pelayaran besar juga telah menyarankan kapal untuk tetap berlindung di lokasi aman.
“Ketidakefisienan kemungkinan akan meningkat seiring perkembangan terbaru, karena kami memperkirakan para pemilik kapal akan mengadopsi pendekatan wait and see,” tulis analis Fearnley Securities Fredrik Dybwad dan Sigurd Gjone Gabrielsen dalam sebuah catatan.
Meski Iran belum secara resmi menutup akses ke titik sempit tersebut setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dimulai pada Sabtu pekan lalu, Teheran telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas. Hingga Senin pagi, sedikitnya tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan. Lebih dari separuh klub asuransi maritim terbesar dunia juga telah menghentikan perlindungan risiko perang bagi kapal yang memasuki Teluk.
Akibatnya, selat yang menghubungkan sejumlah produsen minyak terbesar dunia dengan para pembelinya itu praktis tidak dapat dilalui. Dalam 24 jam terakhir, hanya segelintir kapal tanker besar yang tercatat keluar dari jalur tersebut. Berdasarkan data pelacakan, hanya dua kapal tanker Iran yang dikenai sanksi AS yang terlihat mendekati pintu masuk selat.
Data platform pelacakan kapal Vortexa menunjukkan hanya empat supertanker yang melintasi jalur itu pada 1 Maret, turun tajam dari 22 kapal sehari sebelumnya. Jumlah kapal yang tertahan di Teluk Persia diperkirakan lebih besar jika memperhitungkan kapal tanker berukuran kecil. Banyak kapal memilih mematikan sinyal transponder atau ‘go dark’ guna mengurangi risiko, sementara gangguan sinyal turut menyulitkan proses pelacakan.
Joint Maritime Information Center (JMIC), kelompok penasihat angkatan laut multinasional yang berfokus di kawasan tersebut, telah menaikkan tingkat peringatan keamanan ke level kritis, level tertinggi. Langkah itu diambil menyusul serangan rudal dan drone yang terkonfirmasi terhadap sejumlah kapal komersial di Teluk Oman, perairan sekitar Musandam, dan pesisir Uni Emirat Arab. Satu kapal tanker berbendera AS, Stena Imperative, dilaporkan terkena proyektil.
Dalam perkembangan terbaru, JMIC menyatakan kapal tanker Sea La Donna yang sebelumnya dilaporkan terdampak kini tidak lagi dianggap sebagai korban serangan, menandakan situasi yang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.
Otoritas registrasi kapal, termasuk Liberia dan Kepulauan Marshall yang masing-masing merupakan registri terbesar dan ketiga terbesar di dunia, juga menginstruksikan kapal untuk menerapkan tingkat keamanan tertinggi. Artinya, operasi bongkar muat kargo harus dihentikan sementara.
Anjloknya lalu lintas pelayaran ini telah mengguncang negara-negara importir minyak dan berpotensi mengancam produsen. Dengan kapasitas penyimpanan terbatas serta minimnya kapal kosong di dalam Teluk, tangki penyimpanan dapat penuh apabila krisis berlarut-larut hingga berminggu-minggu, sehingga produsen terpaksa menghentikan produksi.
Analis JPMorgan & Chase memperkirakan penutupan efektif lebih dari 25 hari dapat memaksa penghentian produksi minyak. Selain minyak mentah, Selat Hormuz juga menjadi jalur vital bagi pengiriman gas alam cair (LNG). Qatar, eksportir LNG terbesar kedua dunia yang menyumbang sekitar 20% pasokan global tahun lalu, harus mengirimkan muatannya melalui selat tersebut menuju pembeli di Asia dan Eropa.
Sejumlah kapal kontainer juga dilaporkan menghentikan perjalanan atau berbalik arah saat melintas. Kekhawatiran turut meluas ke Laut Merah, menyusul ancaman milisi Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Teheran untuk melanjutkan serangan terhadap kapal kargo. Beberapa operator kapal kontainer terbesar dunia bahkan telah mengalihkan rute pelayaran guna menghindari kawasan tersebut.