Bencana Alam yang Mengguncang Tanah Air pada Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dengan tantangan bagi Indonesia. Sejak awal tahun hingga akhir, negara ini terus menghadapi berbagai bencana alam yang menimbulkan kerugian besar baik dalam hal jiwa maupun materi. Dari banjir, longsor, hingga erupsi gunung api, semua peristiwa tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki keunikan geografis yang membuatnya rentan terhadap bencana.
- Bencana Alam yang Mengguncang Tanah Air pada Tahun 2025
- Data Bencana yang Menyedihkan
- Banjir dan Longsor yang Terjadi di Berbagai Wilayah
- Bencana Geologi dan Musim Kemarau
- Hujan Kembali Mengguncang Indonesia
- Penyebab Bencana di Wilayah Sumatera
- Penelitian tentang Perkebunan Kelapa Sawit
- Keberlanjutan Lingkungan dan Pengelolaan Lahan
Data Bencana yang Menyedihkan
Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 3.212 peristiwa bencana alam. Mayoritas dari peristiwa ini adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.587 jiwa meninggal dunia, 235 orang masih hilang, 5.713 luka-luka, serta lebih dari 10 juta orang mengungsi atau menderita akibat bencana.
Korban terbesar adalah warga di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) yang terkena dampak banjir dan longsor. Jumlah korban jiwa di wilayah tersebut mencapai 1.141 orang. Peristiwa ini menunjukkan betapa parahnya kondisi yang dialami oleh masyarakat di daerah-daerah tersebut.
Banjir dan Longsor yang Terjadi di Berbagai Wilayah
Pada awal tahun 2025, hujan turun secara terus-menerus di berbagai wilayah. Sungai-sungai meluap, air menggenangi permukiman, sawah, hingga jalan utama. Aceh, Sumbar, dan Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Di daerah perbukitan, longsor datang tiba-tiba, menimbun rumah-rumah dan menyebabkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Pada medio Februari-Maret, banjir dahsyat melanda wilayah Jabodetabek. Banjir yang disebut sebagai “banjir kiriman” dari Bogor menyebabkan aktivitas publik lumpuh total. BMKG menyatakan bahwa banjir yang merendam kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi berasal dari Bogor yang diguyur hujan intensitas sangat deras. Tingginya banjir di Bekasi mencapai 4 meter karena pengaruh air kiriman dari DAS Ciliwung dan hujan deras dengan intensitas 165-208 mm per hari.
Di Jakarta, ratusan RT terendam banjir dan 1.446 orang harus mengungsi. Sementara itu, di Bogor, 346 orang terpaksa mengungsi, sedangkan di Kota Depok, banjir melanda 19 lokasi. Di Kabupaten Tangerang, banjir melanda 6 wilayah kecamatan, dengan jumlah korban terdampak mencapai 3.000 orang.
Bencana Geologi dan Musim Kemarau
Memasuki Mei, bencana geologi mulai memperhatikan. Aktivitas gunung api meningkat, termasuk erupsi Gunung Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur yang memuntahkan kolom abu vulkanik tinggi. Meskipun skala erupsi terbatas, warga di sekitar gunung harus meningkatkan kewaspadaan.
Pada Juni hingga Agustus, musim kemarau membawa ancaman berbeda. Kekeringan melanda Jawa Timur dan NTT, sementara kebakaran hutan dan lahan mulai muncul di Sumatera dan Kalimantan. Meski tidak sebesar tahun-tahun dengan El Nino kuat, asap tipis sempat mengganggu kualitas udara dan aktivitas warga.

Hujan Kembali Mengguncang Indonesia
Memasuki Oktober, hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. Banjir dan longsor kembali terjadi, menandai awal musim hujan. Bencana pun silih berganti datang pada November dan Desember. Hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari memicu banjir bandang dan longsor besar di sejumlah wilayah Pulau Sumatera. Ini menjadi rangkaian bencana paling mematikan sepanjang 2025.
Per 30 Desember 2025, BNPB mencatat sebanyak 1.141 orang meninggal dunia, 163 jiwa masih hilang, 52 kabupaten/kota terdampak, dan hampir 500 ribu orang mengungsi, serta kerusakan infrastruktur terjadi secara masif. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat di berbagai daerah, sementara aktivitas publik lumpuh.
Penyebab Bencana di Wilayah Sumatera
Banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera diyakini tak lepas dari faktor ‘brutalisme’ perkebunan kelapa sawit. Ekspansi perkebunan monokultural itu menggunduli kawasan-kawasan hutan alami dan dataran tinggi sehingga memperparah dampak bencana tanah longsor dan banjir bandang alias galodo.

Penelitian tentang Perkebunan Kelapa Sawit
Peneliti Senior Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, Sugeng Budiharta menilai Presiden Prabowo Subianto perlu mengevaluasi total model ekspansif perkebunan kelapa sawit mengacu pada zonasi berdasarkan kriteria geologis maupun geografis. Menurutnya, tidak sulit menganalisa apa sebab bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) saat ini.
Meskipun bukan menjadi faktor atau penyebab tunggal, namun kata Sugeng, ekspansi perkebunan kelapa sawit ke kawasan-kawasan hutan alami di dataran-dataran tinggi yang bercurah hujan tinggi menjadi salah satu faktor penyebab. “Secara keilmuan, sebenarnya tidak sulit untuk menganalisa penyebab dari apa yang terjadi (banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera) ini. Ekspansif perkebunan kelapa sawit, dan juga pertambangan ilegal merupakan kondisi yang harus dievaluasi,” kata Sugeng kepada , beberapa waktu lalu.

Keberlanjutan Lingkungan dan Pengelolaan Lahan
Sugeng menerangkan, Sumatera merupakan wilayah dengan landscape lereng-lereng perbukitan dataran tinggi dan pegunungan dengan kontur tanah vulkanis gembur subur yang bercurah hujan tinggi. Geografis dan geologis di Sumatera itu, kata Sugeng, sebetulnya tak cocok untuk ekspansi perkebunan monokultural seperti kelapa sawit.
“Bentang alam di Sumatra itu kan umumnya bergunung-gunung dan berbukit-bukit dengan kelerengan cukup terjal. Di situ juga tanahnya vulkanik yang gembur dan subur dengan curah hujan tinggi. Dengan kondisi seperti itu memang sangat rawan longsor dan banjir bandang. Untuk itu harus dijaga tutupan hutannya dan tidak boleh ada pembukaan lahan secara ekstensif termasuk untuk kebun sawit apalagi tambang,” ujar Sugeng.
Tahun 2025 pun ditutup dengan satu teguran keras bahwa alam telah memberi pesan, dan Indonesia tak lagi punya kemewahan untuk mengabaikannya. Alam menyampaikan sabda dengan caranya. Manusia memang tak berkehendak atas segala bencana yang terjadi. Tapi manusia bisa mencegahnya, salah satu caranya adalah tidak serakah mengeksploitasi alam.