Kisah Tangis dan Harapan Penyintas Banjir Tirawan

Ratna Purnama
4 Min Read

Kehidupan Penyintas Banjir di Huntara Sementara

Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, para penyintas banjir di wilayah Tapanuli Tengah terus berjuang untuk membangun kembali kehidupan mereka. Salah satu contohnya adalah Tirawan Siregar (57), seorang perempuan paruh baya yang tinggal di salah satu Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun secara mandiri oleh keluarganya sendiri.

Proses Pembangunan Rumah Sementara

Kepulan asap putih yang mengepul dari sebuah tungku api menjadi tanda bahwa proses memasak lemang sedang berlangsung. Lemang tersebut merupakan makanan tradisional yang biasa disajikan saat Lebaran. Di balik aroma lezatnya, ada kesedihan yang mendalam bagi Tirawan dan keluarganya.

Tirawan mengungkapkan bahwa pembangunan rumah sementara ini dilakukan dengan tangan sendiri. Suaminya membangun rumah tersebut selama sepekan menggunakan kayu-kayu bekas yang tersisa setelah rumah lama mereka hanyut terbawa banjir pada November 2025 lalu.

Ruang Tinggal yang Sederhana

Rumah sementara yang dibangun oleh suami Tirawan memiliki ukuran yang cukup kecil, mirip dengan rumah singgah warung kopi. Hanya terdapat tiga sekat dalam rumah tersebut, dan tidak ada pintu atau jendela. Di bagian sekat tengah hanya terdapat satu alas tidur yang diperoleh dari bantuan pemerintah.

Sementara itu, di sekat kanan hanya terdapat karpet yang digunakan sebagai tempat tidur menantu dan cucu-cucunya. Baju-baju hanya digulung-gulung dengan satu ikatan kain besar dan ditumpuk menjadi satu. Selama siang hari, rumah ini terasa sangat panas karena atapnya hanya menggunakan seng bekas dari rumah lama mereka.

Perasaan Sedih Saat Menyambut Lebaran

Tirawan menyebutkan bahwa tahun ini sangat sedih bagi dirinya dan keluarga. Mereka tidak memiliki rumah lagi, sehingga harus bergantung pada bantuan orang lain. Ia mengatakan bahwa memasak lemang menjadi obat pelipur duka agar bisa menyambut Lebaran dengan semangat.

“Lemang ini sebagai bentuk sambut lebaran dan sebagai obat di hati kami. Karena tidak ada lagi yang bisa dimasak selain lemang,” ujarnya.

Selain itu, Tirawan juga membuat lemang agar anak-anak dapat merayakan Lebaran meski masih tinggal di pengungsian. Ia membeli lemang sebanyak 6 liter dan akan membagikannya kepada tetangga.

Masalah Bantuan dan Ketidakpastian

Tirawan mengeluhkan kurangnya kejelasan dari pemerintah tentang kapan Huntara akan selesai dibangun. Ia mengatakan bahwa uang bantuan sebesar Rp 600 ribu diberikan hanya sekali, yang digunakan untuk pindah dari pengungsian ke kontrakan. Namun, kontrakan tidak bisa ditempati karena tidak ada yang bisa disewa per bulan.

Ia memilih membangun rumah secara mandiri karena uang kontrakan baru didapat setelah tiga bulan dari waktu menerima bantuan sosial tersebut. Meskipun sudah terdaftar dalam pendataan Huntara, sampai saat ini belum ada kejelasan kapan hunian tersebut akan selesai.

Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Tirawan berharap pemerintah secepatnya membangun Huntara dan mencari lahan untuk mata pencarian mereka. Ia berharap Lebaran ini ada bantuan dari pemerintah dan rumah perlindungan mereka segera selesai, agar hati mereka sedikit lebih tenang.

“Kami harapkan lebaran ini ada bantuan dari pemerintah dan segera selesai rumah perlindungan kami, biar hati kami sedikit senang. Dan mata pencarian kami yaitu menderes kareta kembali bisa terlaksana secepatnya,” ujarnya.


Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *