Kehidupan Sehari-hari 2 Perempuan Penjual Takjil di Kota Gorontalo
Di tengah suasana Ramadan yang khas, dua perempuan muda asal Kota Gorontalo menunjukkan semangat dan kreativitas dalam menjalani usaha. Imelda (21 tahun) dan Erza (22 tahun), warga dari Dulalowo Timur, Kecamatan Kota Tengah, membuka lapak takjil di depan rumah mereka. Mereka tidak hanya menjual kue-kue manis, tetapi juga berbagai jenis makanan yang cocok untuk berbuka puasa.
Lapak takjil mereka berdiri di Jalan Pangeran Hidayat I atau Jalan ex Cendana. Lokasi ini strategis karena berada di sebelah kiri jalan jika datang dari arah JDS, dan di sebelah kanan jika datang dari arah Jalan Arif Rahman Hakim. Lapak ini buka setiap hari mulai pukul 14.00 Wita hingga menjelang berbuka puasa.
Beragam Menu yang Disediakan
Menurut Imelda, lapak takjil mereka tidak hanya menyediakan kue-kue manis. Mereka juga menyediakan makanan seperti bubur, nasi kuning lengkap dengan lauk, ayam bumbu RW, ayam bakar iloni, dan ayam bakar rica. Selain itu, ada juga menu ikan seperti mujair yang bisa dibuat dengan berbagai cara, seperti bakar rica, bakar iloni, atau goreng.
“Menu makanan ini cukup diminati karena praktis untuk berbuka puasa bersama keluarga,” kata Imelda.
Selain makanan, mereka juga menyediakan berbagai jajanan manis seperti dodol cokelat dan kue talam. Menurut Erza, kue talam menjadi yang paling banyak dicari pembeli dan biasanya habis lebih cepat dibanding menu lainnya.
Harga Terjangkau untuk Semua Kalangan
Imelda dan Erza sepakat memberikan harga yang terjangkau agar semua kalangan bisa membelinya. Harga kue berkisar antara Rp6.000 hingga Rp23.000 untuk yang paling mahal.
Lapak takjil ini juga menyediakan berbagai minuman segar. Pilihannya cukup beragam, seperti es mango, mojito dengan rasa jeruk, leci, dan melon, serta es cincau yang sangat diminati oleh pembeli.
Layanan Pesan Antar dan Operasional Lapak
Meski waktu berbuka telah tiba, Imelda dan Erza tetap bertahan melayani pembeli hingga sekitar pukul 18.00 sampai 19.00 Wita. Mereka juga menerima pesanan melalui WhatsApp. Pembeli bisa memesan dulu, lalu barang akan diantar menggunakan ojek online atau dijemput sendiri.
Latar Belakang Usaha
Pembukaan lapak takjil ini tidak terlepas dari usaha keluarga mereka. Di belakang rumah, keluarga mereka memiliki kafe. Selama Ramadan, kafe tersebut tidak beroperasi di siang hari. Karena alasan tersebut, bunda mereka sebagai pemilik mengajak Imelda dan Erza untuk mencoba membuka lapak takjil.
Sebagian menu dibuat sendiri oleh mereka, seperti martabak dan beberapa olahan ikan. Sementara menu lainnya berasal dari titipan warga. Proses memasak dibantu oleh beberapa orang di dapur belakang, sedangkan Imelda dan Erza bertugas melayani pembeli di lapak.
Keberlanjutan Usaha
Dengan berbagai menu yang beragam dan harga yang terjangkau, lapak takjil Imelda dan Erza berhasil menarik banyak pembeli. Mereka tidak hanya menjual produk buatan sendiri, tetapi juga menerima titipan jualan dari warga sekitar. Setiap hari, menu jajanan yang tersedia selalu berbeda, sehingga membuat para pembeli merasa tertarik untuk kembali.
Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi dengan semangat dan dedikasi. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjalani bisnis, tetapi juga membangun hubungan baik dengan komunitas sekitar.