Sambal Bakar Indonesia Akuisisi Eat Sambel, Perkuat Pasar Sambal FMCG

Lani Kaylila
5 Min Read

Perluasan Ekosistem Sambal: SBIG Akuisisi Eat Sambel

Dunia kuliner Tanah Air kembali mencatatkan langkah besar. Sambal Bakar Indonesia Group (SBIG), satu grup kuliner sambal yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, resmi mengakuisisi brand sambal digital Eat Sambel dengan valuasi mencapai ratusan miliar rupiah.

Pengumuman akuisisi ini disampaikan secara resmi dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (12/12/2025) di gerai Sambal Bakar Indonesia Alam Sutera. Suasana acara berlangsung hangat, dihadiri jajaran direksi dan komisaris SBIG, serta Founder dan manajemen Eat Sambel.

Bagi SBIG, langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan bagian dari perjalanan panjang membangun ekosistem kuliner sambal yang lebih modern, terintegrasi, dan berdaya saing. Akuisisi Eat Sambel menjadi penanda keseriusan SBIG memperluas sayap dari bisnis restoran ke sektor fast moving consumer goods (FMCG) dan consumer packaged goods (CPG).

CEO Sambal Bakar Indonesia Group, Richard Theodore, menyebut sambal bukan hanya produk kuliner, tetapi juga identitas budaya yang memiliki potensi besar untuk tumbuh secara nasional hingga global.

“Bagi kami, akuisisi ini bukan sekadar strategi bisnis. Ini adalah bagian dari visi besar SBIG untuk memperkuat ekosistem sambal di Indonesia dan membawanya naik kelas. Eat Sambel memiliki fondasi digital yang kuat dan basis pelanggan yang luas, sehingga sangat relevan dengan arah pengembangan kami,” ujar Richard.

Sejarah Singkat SBIG dan Pertumbuhan Pesat

Didirikan pada 2022, Sambal Bakar Indonesia Group dikenal melalui jaringan restoran sambal bakar dengan menu khas Nusantara. Dalam waktu relatif singkat, SBIG berhasil berkembang pesat dengan membuka lebih dari 30 gerai di berbagai kota seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Bali, hingga kota-kota besar lainnya.

Pertumbuhan bisnis SBIG tercatat agresif. Dalam kurun waktu tiga tahun, perusahaan mencatatkan pertumbuhan lebih dari 2.000 persen, melayani lebih dari 15 juta pelanggan, serta menjual lebih dari 150 juta item berbasis sambal dan menu Nusantara.

Kiprah Eat Sambel sebagai Pionir Sambal Online

Sementara itu, Eat Sambel memiliki cerita yang tak kalah menarik. Brand ini dikenal sebagai salah satu pionir sambal online di Indonesia. Berawal dari dapur rumahan, Eat Sambel tumbuh berkat kekuatan digital dan kepercayaan pelanggan. Hingga kini, Eat Sambel telah menjual lebih dari 26 juta botol sambal ke seluruh penjuru Indonesia dan meraih berbagai penghargaan di marketplace.

Co-Founder Eat Sambel, Yansen Gunawan, menilai bergabung dengan SBIG membuka babak baru bagi perjalanan brand yang ia rintis. Menurutnya, sinergi ini memberikan ruang lebih besar untuk berkembang, baik dari sisi distribusi maupun inovasi produk.

“Dengan bergabung bersama SBIG, kami memiliki peluang lebih luas untuk menjangkau konsumen di berbagai kanal. Kami juga ingin terus mengembangkan varian sambal Nusantara yang lebih inovatif tanpa meninggalkan akar resep tradisional,” ungkap Yansen.

Strategi Pasca-Akuisisi dan Fokus pada Sinergi

Dari sisi korporasi, Director of Corporate Communication & Relations SBIG, Benjamin Master A. Surya, menjelaskan bahwa pasca-akuisisi, perusahaan akan fokus membangun sinergi di tiga sektor utama. Mulai dari penguatan inovasi produk, integrasi operasional dan rantai pasok, hingga pengelolaan brand identity dengan tetap mempertahankan karakter khas Eat Sambel sebagai sub-brand.

Menurut Benjamin, penyatuan dua brand yang sama-sama kuat ini menempatkan SBIG pada posisi strategis di industri sambal modern yang terus berkembang. Ia menyebut sambal sebagai DNA perusahaan yang ingin dihadirkan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Baik di restoran maupun di rumah, kami ingin sambal menjadi pendamping utama makanan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Strategi Pemasaran dan Distribusi yang Lebih Luas

Langkah ekspansi ini juga diperkuat melalui strategi pemasaran dan distribusi. Director of Marketing & Branding SBIG, Renaldo Akhira Ruslan, mengatakan SBIG tengah menyiapkan penguatan distribusi digital melalui platform seperti TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia, sekaligus memperluas jangkauan ke modern retail dan general trade.

Ke depan, SBIG menargetkan kontribusi sektor FMCG meningkat signifikan. Saat ini, kontribusi FMCG masih berada di bawah 10 persen dari total pendapatan. Namun dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, SBIG menargetkan kontribusi tersebut menembus lebih dari 50 persen dari total revenue perusahaan.

Misi yang Lebih Besar: Membawa Budaya Indonesia ke Dunia Global

Lebih dari sekadar akuisisi bisnis, langkah ini membawa misi yang lebih besar. SBIG ingin membuktikan bahwa brand kuliner lokal berbasis budaya rasa Indonesia mampu tumbuh, bersaing, dan dicintai lintas generasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa brand kuliner Indonesia bisa naik kelas dan kompetitif secara global. Dan semuanya dimulai dari satu rasa yang sangat Indonesia, yaitu sambal,” tutup Benjamin.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *