.CO.ID – JAKARTA.
Kinerja industri otomotif di Indonesia masih menunjukkan penurunan. Hal ini terlihat dari data penjualan mobil nasional yang mencapai 710.084 unit pada November 2025, turun sebesar 9,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 785.917 unit. Perkembangan ini memicu perubahan strategi dari berbagai pihak terkait industri otomotif.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melakukan penyesuaian target penjualan mobil nasional. Sebelumnya, target penjualan ditetapkan antara 850.000 hingga 900.000 unit hingga akhir tahun 2025. Namun, kini target tersebut direvisi menjadi 780.000 unit. Penyesuaian ini dilakukan mengingat kondisi pasar yang tidak stabil dan tekanan terhadap daya beli konsumen.
Di tengah situasi ini, prospek saham emiten otomotif dan komponen menjadi perhatian investor. Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa prospek saham emiten otomotif hingga akhir 2025 cenderung moderat. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya suku bunga Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang menghambat daya beli konsumen serta revisi target penjualan mobil.
Meski ada tantangan, beberapa saham tetap menjadi pilihan. PT Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu yang patut diperhatikan. Menurut Abida, ASII memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi, termasuk kontribusi laba dari segmen non-otomotif seperti alat berat, pertambangan, dan jasa keuangan. Hal ini memberikan ketahanan terhadap lesunya penjualan mobil.
Sementara itu, emiten komponen seperti PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga mendapat perhatian. Keduanya diuntungkan secara struktural karena keterlibatan dalam pasar aftermarket dan transisi ke kendaraan listrik (EV). Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40% juga menjadi faktor positif bagi mereka.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai kinerja emiten otomotif akan terus tertekan hingga akhir 2025. Namun, ia melihat potensi pemulihan pada tahun 2026. Perbaikan ini didorong oleh kemungkinan penurunan suku bunga yang membuat pembiayaan kendaraan lebih terjangkau, stabilitas ekonomi, serta akselerasi transisi menuju kendaraan listrik.
David menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham ASII dan AUTO. ASII dinilai memiliki ekosistem otomotif lengkap dengan kontribusi laba dari berbagai sektor. Sementara itu, AUTO unggul di segmen aftermarket dan suku cadang yang lebih resilien saat penjualan mobil melemah.
Abida melihat prospek emiten otomotif pada 2026 lebih positif. Ia memprediksi pelonggaran kebijakan moneter dan penurunan BI Rate sebanyak 50 basis poin (bps) akan mendorong transmisi suku bunga KKB. Selain itu, mandat TKDN 40% untuk mobil listrik pada 2026 juga menjadi katalis positif bagi emiten komponen domestik.
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Cindy Alicia Ramadhania, berpendapat bahwa industri otomotif pada 2025 belum optimal. Penurunan penjualan mobil bisa disebabkan oleh penurunan daya beli atau konsumen memilih mobil bekas. Meski demikian, saham ASII masih memiliki sentimen positif dari ekspansi bisnis yang diharapkan mendorong kinerja keuangan perusahaan.
Perlu Insentif
Abida menilai insentif fiskal yang paling mendesak adalah pengaktifan kembali insentif PPNBM DTP. Selain itu, pemerintah perlu menyeimbangkan struktur pajak untuk mendukung kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV), yang dianggap sebagai jembatan menuju elektrifikasi.
David menambahkan bahwa stimulus fiskal penting untuk menopang daya beli, terutama melalui insentif pembiayaan, subsidi bunga kredit, atau skema uang muka rendah. Relaksasi pajak kendaraan dan kelanjutan diskon PPnBM juga penting untuk mendorong permintaan.
Abida merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.450 per saham. David menyarankan buy on weakness saham ASII dan akumulasi beli saham AUTO. Sementara itu, Cindy mengusulkan speculative buy saham ASII di target harga Rp 6.900 per saham.