Memahami Dinamika Hubungan Antara Anxious dan Avoidant Attachment Style

Pernahkah kamu merasa lelah sendiri dalam hubungan percintaan? Merasa butuh untuk berbicara, diberi kepastian, atau didekati. Namun pasangan justru semakin diam, menjauh, atau mengatakan, “Aku butuh waktu sendiri.” Kondisi ini bisa membuat kamu panik, lalu mencoba mengejar, tetapi malah membuat pasangan kabur. Saat kamu meminta penjelasan, mereka hanya menjawab, “Aku tidak tahu, aku bingung dengan diriku sendiri.” Terdengar aneh, bukan? Meski sama-sama lelah, hubungan seperti ini sering terasa sulit untuk dilepas.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai dinamika antara anxious attachment style dan avoidant attachment style. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater John Bowlby dan kini banyak dibahas di berbagai sumber psikologi populer. Meskipun terdengar seperti istilah TikTok, konsep ini sebenarnya sudah lama dibahas dalam ilmu psikologi.
Attachment style adalah cara seseorang berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain, terutama dalam konteks hubungan romantis atau hubungan dekat lainnya. Cara ini terbentuk sejak kecil: dari bagaimana kita merasa dicintai, ditinggalkan, atau diperhatikan oleh orang-orang terdekat, terutama oleh pola asuh orang tua. Tanpa sadar, pola itu kita bawa sampai dewasa—termasuk ke hubungan romantis.
Jenis-Jenis Attachment Style
Orang dengan anxious attachment biasanya sangat peka terhadap perubahan sikap pasangan. Balasan chat yang lama, nada bicara yang berubah, atau sikap yang terasa dingin bisa langsung membuat mereka overthinking. Bagi para anxious, kedekatan emosional adalah sumber rasa aman. Jadi ketika pasangan terlihat menjauh, alarm dalam kepala langsung berbunyi, “Jangan-jangan aku akan ditinggalkan.”
Biasanya, orang dengan anxious attachment terbentuk dari pola asuh yang terkadang sangat dimanja, tapi setelah itu diabaikan. Terkadang penuh perhatian, lalu selanjutnya menjadi cuek. Oleh karena itu, orang dengan anxious attachment merasa bahwa mereka harus selalu memikirkan perasaan orang lain dan cenderung bergantung pada orang lain secara emosional.
Sebaliknya, orang dengan avoidant attachment justru sering merasa tidak nyaman dengan kedekatan yang terlalu intens. Saat hubungan mulai terasa “terlalu dekat”, penuh tuntutan emosi, atau terlalu banyak pembicaraan perasaan, mereka bisa merasa sesak. Menjauh, diam, atau sibuk sendiri jadi cara paling cepat untuk merasa aman dan tenang kembali.

Karakteristik ini tumbuh karena mereka sering kali dipaksa untuk mandiri dan ditinggalkan, secara tidak langsung sering ditolak karena mengutarakan perasaan mereka yang sesungguhnya, sehingga mereka merasa sulit dan terancam saat menerima ketertarikan dan kedekatan emosional dari orang lain.
Tantangan dalam Hubungan Anxious-Avoidant
Masalahnya, anxious dan avoidant sering kali saling tertarik. Di awal hubungan, semuanya bisa terasa baik-baik saja. Anxious merasa diperhatikan dan avoidant merasa tidak terlalu ditekan. Namun lama-lama, perbedaan kebutuhan ini mulai muncul ke permukaan.
Seiring berjalannya hubungan dan anxious merasa pasangannya menjauh, ia akan berusaha mendekat. Ia ingin kejelasan, ingin diyakinkan, dan ingin diperjuangkan. Namun justru di titik ini, avoidant merasa kewalahan. Kedekatan yang diminta anxious terasa seperti tekanan. Akhirnya, avoidant menarik diri lebih jauh. Pola ini berulang terus dan menciptakan hubungan tarik-ulur yang melelahkan bagi keduanya.
Secara sains, hal ini bukan karena salah satu terlalu “drama” atau tidak cukup peduli. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan anxious attachment memiliki sistem emosi yang lebih sensitif terhadap ancaman sosial, seperti penolakan atau kehilangan. Sementara itu, orang avoidant cenderung belajar untuk menenangkan diri dengan cara menutup emosi dan menjaga jarak.

Yang sering dilupakan—baik anxious maupun avoidant sebenarnya punya tujuan yang sama—yakni untuk merasa aman. Bedanya adalah cara mereka dalam meraih kenyamanan tersebut. Anxious akan merasa aman lewat kedekatan, sementara avoidant merasa aman lewat jarak. Dua cara ini sama-sama valid, tapi bisa saling berbenturan kalau tidak disadari.
Itulah kenapa hubungan anxious-avoidant sering terasa begitu intens, melelahkan, tapi juga susah ditinggalkan. Ada harapan bahwa semuanya akan berubah kalau salah satu bertahan lebih lama. Padahal tanpa kesadaran akan pola ini, hubungan bisa terus berputar di siklus yang sama.
Pentingnya Pemahaman Attachment Style
Memahami attachment style bukan berarti memberi cap atau menyalahkan diri sendiri maupun pasangan. Justru sebaliknya, pemahaman ini bisa membantu kita lebih jujur pada diri sendiri. Jujur dalam mengungkapkan apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hubungan dan apakah kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan cara yang sehat.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling keras mengejar atau paling kuat menjauh. Hubungan yang sehat adalah ketika dua orang bisa merasa aman tanpa harus kehilangan diri sendiri.
