PYONGYANG,
Operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro diprediksi akan memicu Korea Utara untuk merancang strategi agar nasib serupa tidak menimpa pemimpin tertinggi mereka, Kim Jong Un. Para analis percaya bahwa tindakan Washington ini justru memperkuat keyakinan Kim Jong Un bahwa senjata nuklir adalah satu-satunya cara untuk menjaga kelangsungan rezimnya.
Ramon Pacheco Pardo, seorang profesor hubungan internasional di King’s College London, mengatakan bahwa peristiwa di Venezuela meningkatkan kecemasan di dalam kepemimpinan Korea Utara. “Meskipun Korea Utara adalah target yang lebih sulit, hal yang sama bisa saja terjadi pada pemerintahannya,” ujar Pacheco Pardo. Ia juga menyebutkan bahwa AS pernah memiliki rencana serangan terhadap Korea Utara, dan Kim tahu tentang hal itu.
Patrick Cronin dari Hudson Institute menambahkan bahwa rasa takut menjadi penggerak utama keputusan Kim Jong Un. Menurutnya, jatuhnya Maduro memberikan “bias konfirmasi” bagi Kim bahwa ia berada di jalur yang benar dengan fokus pada pengembangan nuklir. “Kemungkinan strategi operasi kilat memperkuat tekadnya untuk melakukan segala yang mungkin untuk mencegahnya,” kata Cronin. “Episode Venezuela memperkuat keyakinannya bahwa ia berada di jalan yang benar.”
Perkuat Rudal Hipersonik
Hanya sehari setelah penangkapan Maduro, Pyongyang langsung merespons dengan melakukan latihan peluncuran rudal hipersonik. Kim Jong Un menyebut latihan ini sebagai tugas strategis penting untuk memperluas pencegahan nuklir yang andal. Upaya ini didukung oleh kemajuan teknologi pesat, terutama setelah hubungan Pyongyang dan Moskow menghangat pasca-invasi Rusia ke Ukraina.
Pada parade militer Oktober 2025, Korea Utara memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-20 berbahan bakar padat yang diduga mendapat bantuan teknologi dari Rusia. Andrew Yeo, peneliti senior di Brookings Institution, berpendapat bahwa Kim akan menjadi lebih “paranoid” terhadap kemampuan intelijen AS. “Berbeda dengan Venezuela yang tidak memiliki kemampuan pertahanan kuat, rudal dan nuklir Korea Utara menawarkan perlindungan. Serangan terhadap negara nuklir akan secara signifikan meningkatkan kalkulasi risiko bagi militer AS,” jelas Yeo.
Di sisi lain, posisi China sebagai sekutu utama Korea Utara tampak mulai bergeser. Beijing kini dinilai lebih menunjukkan “toleransi diam-diam” terhadap status nuklir Pyongyang demi membendung pengaruh AS di kawasan Indo-Pasifik. Liselotte Odgaard, peneliti senior di Hudson Institute, mencatat bahwa China kemungkinan akan terus melindungi Korea Utara dari sanksi berat Dewan Keamanan PBB. “Posisi China adalah ‘toleransi diam-diam’ terhadap pertumbuhan kemampuan Korea Utara, sambil menentang setiap perkembangan yang akan meningkatkan ketidakstabilan,” kata Odgaard.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan nuklir Korea Utara adalah “pedang bermata dua” bagi Beijing. Meski bisa menyulitkan perencanaan militer AS, hal ini juga meningkatkan risiko salah kalkulasi yang dapat memicu konflik besar di perbatasan China.
Bertahan Sambil Mencari Celah Dialog
Kang Jun-young, profesor studi China di Universitas Studi Asing Hankuk, menyebut bahwa Kim Jong Un kemungkinan akan terus mengembangkan senjata nuklir sambil membuka ruang untuk dialog dengan AS, setidaknya hingga kunjungan Trump ke China pada April 2026. “China mungkin lebih memilih mengelola, bukan menekan, perkembangan senjata nuklir Korea Utara,” kata Kang.
Sementara itu, Cronin menyimpulkan bahwa China tampaknya siap hidup berdampingan dengan Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir, selama hal itu digunakan untuk pencegahan, bukan memicu perang. Namun, ia memperingatkan, jika Korea Selatan benar-benar bergerak untuk memperoleh senjata nuklir, perhitungan Beijing bisa berubah drastis.
Bayang-Bayang Unit Operasi Kilat
Kekhawatiran Pyongyang bukan tanpa alasan. Korea Selatan dan AS sudah lama mempersiapkan skenario penggulingan kepemimpinan Korea Utara melalui latihan militer bersama. Pada 2017, Seoul bahkan meluncurkan unit khusus yang dijuluki unit operasi kilat untuk melenyapkan kepemimpinan tertinggi di Pyongyang jika perang pecah.
Unit ini mengadopsi model pasukan elite AS seperti Delta Force, yang terlibat dalam penangkapan Maduro. Lim Eul-chul, profesor di Universitas Kyungnam, mengatakan bahwa Pyongyang sudah memprediksi skenario ini setelah melihat nasib pemimpin di Irak dan Libya. “Sekarang Pyongyang dapat mengatakan kepada rakyatnya: ‘Meskipun kita mengalami kesulitan ekonomi, pengembangan senjata nuklir kita dapat dibenarkan dan merupakan keputusan yang tepat’,” pungkas Lim.