Abdul Ghofur, Jemaah Umrah yang Tertahan di Tanah Suci

Abdul Ghofur adalah seorang jemaah umrah asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang sedang menghadapi penundaan kepulangan ke Indonesia. Penundaan ini terjadi akibat konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Ia harus menunggu selama 11 hari sebelum akhirnya bisa kembali ke tanah air.
Abdul Ghofur tinggal di RT 7 RW 4, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Ia bersama lima anggota keluarganya melakukan perjalanan umrah. Mereka bergabung dengan biro umrah Isra Amanah, yang juga memiliki jemaah dari daerah lain seperti Bandung dan Palu.
Perjalanan umrah mereka berlangsung selama 12 hari, termasuk kunjungan ke Jeddah, Makkah, dan Madinah. Setelah selesai umrah, mereka juga menjalani city tour, salah satunya ke Jabal Rahmah.
Rencananya, Abdul Ghofur dan keluarga akan kembali ke Indonesia pada 1 Maret 2026 menggunakan maskapai Qatar Airways dan tiba di Kabupaten Kudus pada 3 Maret 2026. Namun, pihak biro umrah memberitahu bahwa ada penundaan kepulangan karena adanya konflik di Timur Tengah. Akibatnya, mereka diminta untuk menunggu hingga 11 Maret 2026.
“Pihak biro umrah menyampaikan informasi penundaan kepulangan karena adanya perang di Timur Tengah. Kami dijadwalkan pulang pada 11 Maret,” ujarnya.
Rencananya, Abdul Ghofur dan keluarga akan tiba di Kabupaten Kudus pada 12 Maret 2026. Artinya, mereka tertahan selama 11 hari sejak 1 Maret 2026 sampai 11 Maret 2026. Jika dihitung sejak hari ini, Jumat (6/3), mereka masih menunggu lima hari lagi untuk pulang ke Indonesia.
“Iya, masih lima hari lagi di sini menunggu kepulangan. Pihak biro sudah bertanggung jawab memberikan solusi. Kami juga disediakan vila untuk tempat istirahat sembari menunggu kepulangan,” tambahnya.
Informasi resmi tentang penundaan kepulangan diperolehnya pada 1 Maret 2026 saat hendak check out hotel. Namun, sehari sebelumnya, kabar tentang perang sudah beredar di grup jemaah.
“Setelah ada kabar resmi penundaan kepulangan, dari biro mengarahkan kami ke penginapan semacam vila atau homestay untuk beristirahat sambil menunggu kepulangan,” katanya.
Di homestay yang berlokasi di Jeddah itu, ada 43 orang jemaah. Mereka menginap sejak 1 Maret 2026 sampai menjelang kepulangan pada 11 Maret 2026 mendatang.

Biro umrah juga memberikan kompensasi kepada Abdul Ghofur. Mulai dari menu berbuka puasa hingga sahur tetap tersedia. Meski begitu, setiap jemaah diminta menambah pembayaran tiket kepulangan sebesar Rp 2,5 juta. Namun, bagi jemaah asal Kabupaten Kudus, hanya diminta menambah Rp 1,5 juta per jemaah karena biro memberikan subsidi sebesar Rp 1 juta per jemaah.
“Khusus Kudus, hanya Rp 1,5 juta saja penambahan tiket kepulangannya karena biro bertanggung jawab memberikan subsidi Rp 1 juta per jemaah,” jelasnya.
Awalnya, Abdul Ghofur tidak menyangka akan terdampak oleh konflik di Timur Tengah. Meskipun ada rasa khawatir, ia tetap tenang karena lokasinya tidak berdekatan dengan area konflik. Ia juga telah memberi tahu keluarganya di rumah.
Selama tertahan di Jeddah, ia tidak pernah mendengar suara roket. Di sana juga tidak ada larangan keluar homestay. Menurutnya, situasi di Jeddah masih aman. Beberapa jemaah bahkan masih bisa beraktivitas di luar.
Meski kepulangannya tertunda selama 11 hari, Abdul Ghofur tetap bersyukur. Ia mengambil sisi positifnya, yakni kesempatan untuk beribadah lebih lama di Tanah Suci. Meski demikian, ia berharap tidak ada penundaan lagi untuk kedua kalinya.
“Ambil positifnya saja, tertahan lebih lama di sini bisa digunakan untuk beribadah seperti mengaji Al-Quran dan menjalankan ibadah sunah. Istilahnya ada hikmah di balik musibah,” ujarnya.

Sementara itu, beberapa biro umrah juga dihubungi. Namun, mayoritas tidak terdampak oleh konflik. Dalam hal ini, tidak ada jemaah dari biro umrah tersebut yang tertunda keberangkatannya dari Indonesia.
Kebanyakan biro umrah menggunakan penerbangan direct atau langsung ke Tanah Suci. Informasi yang dikumpulkan menunjukkan bahwa jemaah umrah yang tertunda biasanya yang menggunakan penerbangan dengan sistem transit.
Salah satu biro umrah yang tidak terdampak adalah PT Noor Elfata. Komisaris PT Noor Elfata, Noor Faiq Tamrin, menjelaskan bahwa tidak ada jemaah yang tertunda keberangkatannya. Semua jemaah tetap on schedule sesuai jadwal awal.
“Sebaliknya, jemaah kami yang ada di sana juga terjadwal pulang hari ini. Penerbangan kami direct. Kalau yang tertahan pulang biasanya penerbangan yang ada transit,” ungkapnya.