Kukar Pimpin Penyerapan Dana KUR dan UMi di Kalimantan Timur
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berhasil menempati posisi teratas dalam pemanfaatan modal usaha di Kalimantan Timur. Hal ini terlihat dari tingginya penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) yang diberikan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kepala Kanwil DJPb Kaltim, Tjahjo Purnomo, menjelaskan bahwa dua program tersebut menjadi prioritas bagi para pelaku UMKM di Kaltim yang ingin memperkuat modal usahanya. Hingga Februari 2026, realisasi KUR secara regional di Kaltim telah mencapai angka Rp785,62 miliar dengan total 9.537 debitur. Sementara itu, untuk pembiayaan UMi, tercatat penyaluran sebesar Rp18,60 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 2.954 orang.
Dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di Kaltim, Kukar tampil sebagai penyerap dana terbesar. Dalam kegiatan media briefing APBN Kita di Kantor DJPb Kaltim, Senin (30/3/2026), Tjahjo menyampaikan bahwa baik KUR maupun UMi yang paling besar penyerapannya adalah di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dominasi Kukar terlihat dari serapan KUR yang mencapai Rp161,93 miliar dan UMi sebesar Rp4,15 miliar. Angka ini melampaui kota-kota besar lainnya seperti Samarinda dengan KUR Rp151,51 miliar dan UMi Rp3,61 miliar, serta Balikpapan dengan KUR Rp107,86 miliar dan UMi Rp3,43 miliar.
Berikut rincian penyerapan KUR dan UMi di beberapa kabupaten dan kota di Kaltim:
- Kukar: KUR Rp161,93 miliar dan UMi Rp4,15 miliar
- Samarinda: KUR Rp151,51 miliar dan UMi Rp3,61 miliar
- Balikpapan: KUR Rp107,86 miliar dan UMi Rp3,43 miliar
- Paser: KUR Rp108,59 miliar dan UMi Rp1,63 miliar
- Kutai Timur: KUR Rp71,91 miliar dan UMi Rp1,23 miliar
- Berau: KUR Rp57,58 miliar dan UMi Rp0,52 miliar
- Penajam Paser Utara: KUR Rp55,50 miliar dan UMi Rp2,85 miliar
- Bontang: KUR Rp42,59 miliar dan UMi Rp0,77 miliar
- Mahakam Ulu: KUR Rp1,59 miliar
Tjahjo menilai antusiasme pelaku usaha di wilayah yang dikenal sebagai Kota Raja ini sangat menonjol dalam memanfaatkan peluang permodalan dari pemerintah. Ia menyebutkan bahwa UMKM di Kukar sangat memanfaatkan adanya program baik KUR maupun UMi.
Sektor Terbesar yang Menerima Dana KUR dan UMi
Jika dibedah per sektor, realisasi KUR terbanyak mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan penyaluran mencapai Rp261,54 miliar bagi 3.360 debitur. Disusul sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan senilai Rp216,81 miliar untuk 2.966 debitur, serta sektor real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan yang mencapai Rp104,25 miliar dari 595 debitur.
Sementara itu, untuk program UMi, sektor perdagangan besar dan eceran juga mendominasi dengan penyaluran Rp17,84 miliar kepada 2.883 debitur. Sektor lain yang turut bergerak adalah penyediaan akomodasi makan minum sebesar Rp0,20 miliar bagi 20 debitur, serta industri pengolahan yang menyerap Rp0,18 miliar dari 15 debitur.
Perbedaan Penggunaan KUR dan UMi
Lebih jauh, Tjahjo menjelaskan bahwa penggunaan dua skema ini biasanya bergantung pada profil pelaku usahanya. Mereka yang mengambil KUR biasanya adalah UMKM yang sudah bankable, artinya mereka sudah terbiasa dengan sistem perbankan, bahkan minimal sudah memiliki nomor rekening sendiri untuk menjalankan usahanya.
“Jadi mungkin perlu kita sampaikan bahwa UMKM yang mengambil KUR adalah UMKM yang bankable,” jelas Tjahjo.
Lain halnya bagi pelaku usaha yang belum memiliki akses atau rekening bank, mereka cenderung mengambil UMi. Tjahjo menambahkan, biasanya kondisi ini dialami UMKM di daerah-daerah yang akses perbankannya belum merata.
Karena sifatnya yang non-bankable, prosesnya tidak melalui bank melainkan lewat lembaga keuangan non-perbankan seperti Pegadaian hingga koperasi-koperasi tertentu.
Kendati demikian, pemanfaatan lembaga non-perbankan dalam penyaluran UMi ini juga memiliki nilai tambah tersendiri bagi masyarakat, karena prosesnya seringkali dibarengi dengan pendampingan langsung terhadap para pelaku usaha mikro tersebut.
“Mereka (lembaga keuangan non-perbankan) di samping memberikan peminjaman itu juga melakukan pembinaan kalau yang UMI ini,” pungkas Tjahjo.