Napoli harus puas bermain imbang dengan skor 1-1 melawan Copenhagen dalam pertandingan ketujuh fase grup Liga Champions, Selasa waktu setempat. Tim juara Liga Italia musim lalu ini sebenarnya unggul terlebih dahulu lewat gol yang dicetak oleh Scott McTominay, namun Copenhagen mampu menyamakan kedudukan melalui Jordan Larsson.
Copenhagen sendiri harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-35 setelah Thomas Delaney mendapat kartu merah dari wasit. Meskipun demikian, mereka berhasil memperoleh satu poin dari pertandingan ini. Hasil ini membuat Napoli menempati peringkat ke-23 klasemen sementara fase grup Liga Champions dengan delapan poin dari tujuh laga, sedangkan Copenhagen berada di posisi ke-24.
Kedua tim masih memiliki kesempatan untuk lolos ke babak 16 besar melalui jalur play-off, namun keduanya harus meraih kemenangan di laga terakhir fase grup agar tidak terpengaruh oleh hasil laga lainnya.
Sementara itu, Bayer Leverkusen kalah 0-2 dari Olympiacos saat bertandang ke markas wakil Yunani di Stadion Kariskakis, Piraeus. Kemenangan Olympiacos didapat berkat gol Costinha dan Mehdi Taremi, meskipun sebenarnya Bayer Leverkusen lebih menguasai jalannya pertandingan.
Hasil ini membuat Olympiacos naik ke peringkat ke-22 klasemen sementara fase grup Liga Champions dengan delapan poin dari delapan laga, hanya terpaut satu poin dari Bayer Leverkusen di posisi ke-19.
Berikut hasil pertandingan ketujuh fase grup Liga Champions, Selasa (20/1) waktu setempat:
* Kairat 1 – 4 Club Brugge
* Bodo/Glimt 3 – 1 Manchester City
* Villarreal 1 – 2 Ajax
* Tottenham 2 – 0 Borussia Dortmund
* Olympiacos 2 – 0 Bayer Leverkusen
* Sporting 2 – 1 PSG
* Inter Milan 1 – 3 Arsenal
* Real Madrid 6 – 1 AS Monaco
* Copenhagen 1 – 1 Napoli

Citra satelit yang diambil oleh Airbus DS menunjukkan bagian dari lingkungan Daraja Oula di el-Fasher, Sudan, Senin, 27 Oktober 2025. – (Airbus DS 2025 via AP)
Pengembangan Senjata Anti-Satelit
Pengembangan senjata anti-satelit Rusia bermula dari perlombaan teknologi era Perang Dingin, namun mengalami akselerasi signifikan dalam dua dekade terakhir. Menurut laporan The Washington Post dan Agence France-Presse, program modern Rusia diintensifkan setelah tahun 2010, didorong oleh ketergantungan global yang semakin besar pada satelit dan kemajuan pesat kemampuan luar angkasa AS.
Presiden Vladimir Putin secara terbuka menyebutkan prioritas pengembangan sistem “penangkal satelit” dalam pidatonya tahun 2018, menegaskan ambisi Moskow untuk mempertahankan paritas strategis di domain luar angkasa. Pada tahun 2021, uji coba ASAT kinetik Rusia yang menghancurkan satelit Kosmos-1408 menuai kecaman internasional karena menghasilkan awan puing berbahaya. Namun, insiden tersebut justru menjadi titik balik: Rusia beralih fokus pada teknologi non-kinetik yang lebih terselubung.
Sumber intelijen Barat yang diwartakan The New York Times pada awal 2024 mengungkapkan bahwa Moskow telah menguji komponen berbasis darat dan udara, termasuk sistem elektronik yang dapat mengganggu sinyal satelit dan laser berdaya tinggi yang ditargetkan dari pesawat atau kapal. Langkah kunci dalam pengembangan ini adalah integrasi potensi nuklir. Beberapa laporan media AS, termasuk dari CNN dan ABC News, mengutip pejabat anonim yang menyebutkan bahwa Rusia sedang mengeksplorasi senjata nuklir berkemampuan anti-satelit.
Verifikasi dari sumber terbuka seperti The Economist dan lembaga pemantau Secure World Foundation menunjukkan bahwa kemajuan Rusia sebagian besar didukung oleh keberhasilan uji coba terselubung, termasuk simulasi serangan elektronik terhadap satelit komersial. Meski demikian, keterbatasan ekonomi dan sanksi internasional menghambat percepatan proyek.
Akhirnya, keberhasilan pengembangan senjata anti-satelit Rusia adalah hasil dari kombinasi warisan teknologi Soviet, strategi bertahap yang fokus pada kemampuan non-kinetik, dan upaya sistematis untuk mengeksploitasi kerentanan di era digital, sebuah narasi yang kini memicu perdebatan global tentang masa depan perang luar angkasa.

Citra satelit dari National Oceanic and Atmospheric Administration menunjukkan Badai Helene, yang melemah menjadi topan tropis, di Amerika Serikat pada Jumat, 27 September 2024. – ((NOAA via AP))
Dampaknya terhadap Amerika
Jika Amerika Serikat diserang dengan senjata anti-satelit (ASAT), dampak pertamanya adalah “kebutaan” total pada sistem komando dan kendali militer. Satelit adalah mata dan telinga Pentagon di luar angkasa; tanpa itu, sistem navigasi presisi (GPS) untuk rudal, jet tempur, dan kapal induk akan lumpuh. Operasi militer Amerika yang sangat bergantung pada teknologi jarak jauh akan terdegradasi kembali ke era Perang Dunia II, di mana koordinasi pasukan dilakukan secara manual dan tanpa akurasi satelit.
Sektor sipil akan mengalami kekacauan instan karena GPS bukan hanya alat navigasi, melainkan detak jantung infrastruktur modern. Sistem perbankan global, bursa saham, dan transaksi ATM akan terhenti karena semuanya bergantung pada sinkronisasi waktu yang sangat presisi dari sinyal satelit. Selain itu, jaringan telekomunikasi internasional, internet satelit, dan siaran darurat akan mati total, mengisolasi wilayah luas di Amerika Serikat dari komunikasi dunia.
Lumpuhnya satelit cuaca juga akan mengakibatkan ancaman nyawa bagi jutaan warga sipil. Amerika Serikat sangat bergantung pada pemantauan satelit untuk mendeteksi badai, tornado, dan fenomena alam ekstrem lainnya. Tanpa data real-time dari luar angkasa, kemampuan prakiraan cuaca akan menurun drastis, membuat evakuasi bencana menjadi tidak terukur dan meningkatkan risiko jatuhnya korban jiwa akibat fenomena alam yang tidak terdeteksi sejak dini.
Dampak jangka panjang yang paling mengerikan adalah fenomena Sindrom Kessler. Hancurnya satu satelit besar oleh rudal ASAT akan menciptakan ribuan puing tajam yang melesat dengan kecepatan peluru di orbit rendah bumi. Puing-puing ini akan menghantam satelit lain dalam reaksi berantai, menciptakan awan sampah luar angkasa yang menutupi orbit bumi selama puluhan hingga ratusan tahun. Hal ini akan membuat peluncuran satelit baru atau misi luar angkasa menjadi mustahil karena risiko tabrakan yang terlalu tinggi.
Dari sisi geopolitik, serangan terhadap aset luar angkasa akan dianggap sebagai tindakan perang (act of war) tingkat tinggi. Washington kemungkinan besar akan meluncurkan doktrin pembalasan nuklir atau serangan siber masif terhadap negara penyerang. Karena satelit ASAT biasanya dimiliki oleh negara adidaya seperti Rusia atau China, serangan ini hampir pasti akan memicu eskalasi menuju Perang Dunia III, di mana pertempuran tidak lagi hanya terjadi di darat, tetapi meluas ke dimensi luar angkasa.
Ekonomi Amerika Serikat akan jatuh ke dalam resesi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Logistik pengiriman barang melalui laut dan udara akan lumpuh karena navigasi global terganggu. Rantai pasokan pangan dan obat-obatan akan terhenti, memicu kepanikan massal di kota-kota besar. Hilangnya kepercayaan pada stabilitas teknologi Amerika akan membuat nilai tukar Dollar anjlok dan menghancurkan posisi Amerika sebagai pemimpin ekonomi digital dunia.
Terakhir, serangan senjata anti-satelit akan menandai berakhirnya era hegemoni Amerika di luar angkasa. Keberhasilan serangan tersebut akan membuktikan bahwa keunggulan teknologi AS memiliki titik lemah yang fatal. Di tahun 2026, ketika persaingan ruang angkasa sedang mencapai puncaknya, serangan ASAT bukan hanya menghancurkan mesin di langit, melainkan menghancurkan tatanan keamanan global yang selama ini ditopang oleh dominasi informasi Amerika Serikat di jagat raya.