Natal Ketiga Jalan AA Maramis Manado Sepi, Pengemudi: Mungkin Teman-teman Pulang Kampung

Ratna Purnama
5 Min Read

Kondisi Kota Manado yang Lengang pada Hari Ketiga Natal

Pada hari Sabtu, 27 Desember 2025, suasana Kota Manado terlihat sangat lengang. Jalan-jalan utama yang biasanya ramai dengan kendaraan kini sepi. Pengendara mengira hal ini disebabkan oleh banyaknya warga yang pulang kampung untuk merayakan libur Natal.

Menurut pantauan wartawan Indri Panigoro, beberapa jalan yang kerap macet, seperti di belokan depan Giant Kairagi Satu menuju arah Manado Utara dan Jalan AA Maramis, Kairagi 2, Kecamatan Mapanget, tampak kosong. Baik dari arah pusat kota menuju Bandara Sam Ratulangi Manado maupun sebaliknya, tidak banyak kendaraan yang melintas. Kendaraan, baik mobil maupun motor, sangat jarang terlihat. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Pengendara bernama Rudi Ismail (29) menduga bahwa kekosongan jalanan ini disebabkan oleh para umat Kristen yang sedang mudik. Ia mengatakan:

“Mungkin karena teman-teman Kristen lagi pulang kampung. Belum lagi ini kan masih suasana libur Natal juga kan,” ujarnya.

Sebagai ojek online, Rudi mengaku penghasilannya tidak sebanyak hari biasanya. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena masih ada orang yang menggunakan jasanya. Ia menambahkan:

“Kalau lewat Kairagi terlebih jalan di depan Giant dan dekat SPBU, apalagi pas jam makan siang dan jam pulang kerja pasti macet situ. Tapi kali sepi ternyata,” ucapnya.

Kondisi lalu lintas dan aktivitas Kota Manado diprediksi kembali normal pada awal pekan depan menjelang tahun baru. Sebelumnya, perayaan Natal di Kota Manado berlangsung aman dan damai, Kamis (25/12/2025). Umat Kristen membanjiri gereja-gereja untuk menghadiri ibadah Natal.

Tradisi pasiar Natal pun berlanjut tahun ini. Di Gereja Sentrum Manado, umat Kristen menghadiri ibadah Natal yang digelar tiga kali, yakni subuh, pagi, dan malam. Pada ibadah pagi, umat berkesempatan bertemu Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang mendatangi Gereja tersebut. Ia menyampaikan rasa bahagianya dapat merayakan sukacita Natal bersama masyarakat Sulut.

“Selamat hari Natal,” kata dia. Ia mengajak umat Kristen untuk memaknai Natal dengan penuh kesederhanaan dan kepedulian. Menurutnya, bencana yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia harusnya menggugah empati setiap anak bangsa.

“Di tengah sukacita Natal, kita harus mengingat saudara-saudara kita yang alami musibah di beberapa daerah,” kata dia.

Di Gereja Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Manado, perayaan Natal berlangsung khusyuk. Ratusan umat yang hadir larut dalam perenungan mendalam Yesus tentang makna kandang tempat kelahiran Yesus sebagai tempat perlawanan terhadap dunia yang arogan. Khotbah dibawakan Pendeta Calvin Bangun. Di penghujung ibadah, digelar Candle service, dimana tiap orang menyalakan lilin dan mengumandangkan lagu Malam Kudus.

Informasi Tentang Kota Manado

Kota Manado adalah ibu kota dari Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Kota ini dihuni oleh berbagai warga yang menganut suku, budaya, dan agama yang beragam. Manado dikenal luas sebagai daerah yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi.

Kota Manado memiliki 11 kecamatan serta 87 kelurahan dan desa. Manado terletak di Teluk Manado, dan dikelilingi oleh daerah pegunungan serta pesisir pantainya merupakan tanah reklamasi. Kota ini memiliki 408.354 penduduk pada Sensus 2010, sehingga menjadikannya kota terbesar kedua di Pulau Sulawesi setelah Kota Makassar. Jumlah penduduk di Manado diperkirakan (berdasarkan Januari 2014) adalah 430.790 jiwa dan sebanyak 459.409 jiwa pada akhir tahun 2024, dengan kepadatan 2.800 jiwa/km².

Nama “Manado” disebutkan dengan berbagai nama. Penamaan Manado merujuk pada kemiripan nama seperti “manadu”, maupun dalam tulisan atau kata yang berbeda dengan satu lokasi atau tempat yang sama, atau dalam makna yang sama. Nama “manadu” sebagai informasi awal Kota Manado sebagai suatu lokasi, ditemukan dalam tulisan Valentijn (1724) yang tertera dalam peta laut yang dibuat Nicolaus Desliens tahun 1541 dan peta laut yang dibuat oleh Laco tahun 1590. Tulisan Valentijn menjelaskan kata “manadu” sebagai suatu lokasi dengan pulau karang di lepas pantai yang berada di depan kota Manado. Sejak tahun 1862, pulau karang yang dimaksud disebut dengan nama Pulau Manado Tua. Istilah “manadu” ini diperoleh dalam lafal dan sebutan orang Eropa terhadap pulau karang berkaitan dengan bahasa Tombulu, yakni dengan kata “mana-undou”. Kata ini berarti orang yang datang dari jauh atau orang dari kejauhan atau di kejauhan.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *