Nenek Saadiah Tetap Bertahan di Pengungsian Meski Terserang Stoke

Rafitman
4 Min Read

Nenek Saadiah Masih Bertahan di Pengungsian Akibat Banjir

Nenek Saadiah, seorang lansia yang tinggal di Desa Bincau, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, masih bertahan di pengungsian Aula Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar hingga hari Sabtu (3/2/2026). Ia dan keluarganya terpaksa mengungsi karena banjir yang melanda rumahnya belum juga surut. Air terus menggenangi seluruh bagian rumah mereka, sehingga tidak memungkinkan untuk kembali ke tempat tinggal asli.

Nenek Saadiah menderita stroke dan harus ditemani oleh empat anggota keluarganya. Anak perempuannya, Mastiah, mengungkapkan bahwa keluarga mereka sudah berada di pengungsian selama sekitar seminggu. Menurutnya, kondisi di pengungsian jauh lebih aman dan nyaman dibandingkan tinggal di rumah yang masih terendam air.

“Alhamdulillah nenek lebih nyaman di sini. Kami merasa lebih aman karena ada perhatian,” ujarnya.

Mastiah menjelaskan bahwa hingga saat ini, air masih menggenangi rumah mereka. Oleh karena itu, mereka belum bisa kembali ke rumah. Ia berharap banjir segera surut agar keluarganya bisa pulang dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Selama berada di pengungsian, kebutuhan dasar keluarganya tercukupi, termasuk konsumsi yang disediakan secara rutin. “Kalau di sini makan tiga kali sehari. Alhamdulillah perhatian dari pemerintah ada,” katanya.

Tidak hanya bantuan logistik, Mastiah juga menyampaikan adanya kepedulian dari para dermawan yang memberikan kasur angin untuk ibunya yang mengalami stroke. Bantuan tersebut sangat membantu kenyamanan Nenek Saadiah selama berada di pengungsian.

“Alhamdulillah, kondisi ibu sedikit demi sedikit membaik dengan bantuan ini,” ungkapnya.

Proses evakuasi ibunya dilakukan menggunakan perahu karet saat puncak banjir bertepatan dengan momen 5 Rajab, ketika ketinggian air di Desa Bincau sedang tinggi-tingginya. Saat itu, keluarga mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama.

“Untung kemarin ada bantuan evakuasi, jadi kami ikut arahan petugas,” ceritanya.

Jumlah Pengungsi di Berbagai Lokasi

Selain keluarga Nenek Saadiah, puluhan warga lainnya juga masih bertahan di pengungsian Aula Disdik Banjar. Hingga Jumat dan Sabtu, sebagian warga memilih tetap berada di lokasi pengungsian, sementara sebagian lainnya mulai kembali ke rumah masing-masing meskipun kondisi banjir di beberapa wilayah belum sepenuhnya surut.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Banjar, jumlah pengungsi tersebar di berbagai lokasi. Di Aula Disdik Banjar tercatat sebanyak 117 jiwa yang mengungsi, sementara di Madrasah Manba’ul Ulum terdapat 5 jiwa. Di wilayah Tunggul Irang, jumlah pengungsi mencapai 250 jiwa, sedangkan di Kelurahan Keraton yang sebagian besar mengungsi ke rumah keluarga masing-masing tercatat 171 jiwa.

Pengungsi di Kelurahan Pasayangan yang menempati eks Puskesmas Martapura 2 serta rumah keluarga berjumlah 97 jiwa. Selain itu, sebanyak 39 jiwa mengungsi di ruko Jalan Tol Bypass Sei Ulin-Mataraman, dan 10 jiwa lainnya mengungsi ke rumah keluarga di Tambak Baru Ulu. Di Gedung UGD eks Puskesmas Sungai Tabuk 1 tercatat 164 jiwa yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

Sementara itu, Aula Kecamatan Martapura Barat menampung 43 jiwa pengungsi. Di Pasayangan Barat, warga yang mengungsi ke rumah yang aman dan ke rumah keluarga tercatat sebanyak 381 jiwa. Total ribuan warga terdampak masih memerlukan perhatian dan bantuan berkelanjutan.

Pergerakan Pengungsi yang Dinamis

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto, S.Hut, menyampaikan bahwa pergerakan pengungsi bersifat dinamis. Sebagian warga mulai kembali ke rumah, sementara lainnya masih bertahan karena kondisi lingkungan belum memungkinkan. Dia memastikan penyaluran bantuan logistik ke seluruh titik pengungsian terus dilakukan secara berkelanjutan.


Share This Article
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *