Kehidupan Pandi, Pria yang Terbaring Akibat Saraf Terjepit
Pandi telah lima tahun terbaring sakit akibat saraf terjepit dan tidak bisa bekerja. Ia tinggal bersama dua anak perempuannya di rumah kayu sederhana di Kota Bengkulu. Kondisi ekonomi membuat kedua anaknya terpaksa putus sekolah. Istri Pandi meninggal dunia pada 2019 setelah sakit parah. Seluruh harta berupa tanah dijual untuk biaya pengobatan istri.
Perjalanan Hidup Pandi
Pandi merupakan warga Kota Bengkulu yang tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di Jalan Penantian RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu. Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, Pandi bertahan hidup bersama dua anak perempuannya dengan mengandalkan bantuan pemerintah serta kepedulian masyarakat sekitar.
Menurut Pandi, ia awalnya berasal dari Pulau Jawa dan ikut seseorang bernama Rustam untuk membantu pekerjaan rumah. “Aku awalnya di Jawa, bisa tinggal di Bengkulu karena ikut orang namanya Pak Rustam, bantu-bantu kerja di rumahnya,” ucap Pandi lirih. Ia mulai tinggal di rumah Pak Rustam sejak akhir tahun 1988. Setelah itu, Pandi sempat mengontrak rumah di Kelurahan Tengah Padang sebelum akhirnya berpindah-pindah tempat tinggal.
“Sempat ngontrak di Kelurahan Tengah Padang, terus pindah ke sini, numpang di rumah Pak Kardin warga Curup,” kata Pandi. Pantauan menunjukkan bahwa rumah yang kini ditempati Pandi merupakan rumah kayu dengan lantai semen. Rumah tersebut hanya memiliki satu ruang tamu, dua kamar, dan satu dapur dengan kondisi memprihatinkan. Bahkan, dapur itu kerap dijadikan kandang ayam.
“Paling tinggal di sini sejak anak aku yang kecil umur dua tahun, sekitar tahun 2014. Cuma numpang, jadi tidak bayar sewa,” ungkapnya. Pandi kini tinggal bertiga bersama dua anak perempuannya. Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuat keduanya terpaksa putus sekolah.
“Disini saya tinggal bertiga sama dua anak perempuan. Keduanya sudah berhenti sekolah, yang pertama SMP, satu lagi SD kelas 3,” tutur Pandi. Cobaan hidup Pandi kian berat setelah sang istri meninggal dunia pada Maret 2019. “Istri saya meninggal tahun 2019 bulan tiga, saat kami tinggal di sini,” kata Pandi dengan suara bergetar. Menurut Pandi, istrinya meninggal dunia akibat sakit yang cukup parah. “Meninggalnya karena sakit, ngedrop, tambah darah, terus meninggal,” kata Pandi.
Ironisnya, demi membiayai pengobatan sang istri, Pandi terpaksa menjual sebidang tanah yang sebelumnya mereka miliki. “Dulu sempat punya tanah, tapi sudah dijual karena tidak punya BPJS untuk berobat istri saya,” ungkap Pandi. Sebelum jatuh sakit, Pandi bekerja sebagai buruh bangunan sambil memelihara ayam kampung untuk menambah penghasilan. “Saya dulu kerja bangunan, gaji 125 ribu per hari. Saya sisihkan buat beli bibit ayam kampung,” jelas Pandi.
Namun, harapan itu pupus setelah Pandi divonis menderita saraf terjepit. Penyakit tersebut membuatnya tak lagi mampu berjalan dan bekerja. “Semenjak saya sakit saraf terjepit ini, tidak bisa kerja sama sekali. Sudah sekitar lima tahun, sudah tidak bisa jalan,” kata Pandi. Satu per satu ayam peliharaannya terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Banyak ayam sudah terjual untuk makan sehari-hari,” ujar Pandi.
Kini, Pandi hanya bisa menggantungkan hidup dari bantuan pemerintah dan kepedulian warga sekitar. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ya dari bantuan pemerintah dan warga itu lah,” ucap Pandi pasrah. Beberapa waktu lalu, bantuan yang diterima anaknya digunakan untuk membeli ayam agar bisa kembali beternak meski dalam keterbatasan. “Kalau ayam yang sekarang itu dibeli anak, 60 ekor, dari dapat bantuan,” pungkas Pandi.
Potret Ayam Warna-Warni
Potret seorang pria paruh baya bernama Pandi bersama keluarganya tampak di sebuah rumah sederhana yang juga dihuni puluhan ekor ayam warna-warni. Pandi merupakan warga Kota Bengkulu yang tinggal di Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu. Memelihara ayam warna-warni menjadi salah satu upaya Pandi untuk menambah pundi-pundi penghasilan, selain mengandalkan uluran bantuan pemerintah dan kepedulian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pandi mengaku bibit ayam yang kini dipeliharanya berjumlah 60 ekor dan dibeli atas inisiatif anaknya yang memperoleh bantuan uang. “Kalau ayam yang sekarang itu dibeli anak dari dapat bantuan,” pungkas Pandi. Biru, merah, dan kuning warna anak ayam yang tinggal serumah dengannya tampak menghiasi dapur rumah kayu beralaskan semen hitam di Jalan Penantian RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu.
Sesekali, anak-anak ayam tersebut masuk ke ruang tamu dan meramaikan suasana rumah yang hanya dihuni bertiga oleh Pandi dan dua anak perempuannya, di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi. “Di sini saya tinggal bertiga sama dua anak perempuan. Keduanya sudah berhenti sekolah, yang pertama SMP, satu lagi SD kelas 3,” tutur Pandi. Pandi mengungkapkan bahwa istrinya telah meninggal dunia pada Maret 2019. “Istri saya meninggal tahun 2019 bulan tiga, saat kami tinggal di sini,” kata Pandi dengan suara bergetar.
Diketahui, sebelum jatuh sakit, Pandi sempat memiliki sebidang tanah hasil memelihara ayam dan kambing yang dibelinya dari uang bekerja sebagai buruh bangunan, sambil beternak ayam kampung untuk menambah penghasilan. “Saya dulu kerja bangunan, gaji 125 ribu per hari. Saya sisihkan buat beli bibit ayam kampung,” jelas Pandi. Namun, satu per satu ayam peliharaannya terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya berobat. “Banyak ayam sudah terjual untuk makan sehari-hari,” ujar Pandi.
Kini, Pandi hanya bisa menggantungkan hidup dari bantuan pemerintah dan kepedulian warga sekitar. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ya dari bantuan pemerintah dan warga itu lah,” ucap Pandi pasrah.