Paus Leo Soroti Penderitaan Warga Gaza di Khotbah Natal

Eka Syaputra
5 Min Read

Paus Leo XIV Menyuarakan Kemanusiaan di Tengah Krisis Gaza

Paus Leo XIV, dalam khotbah Natal perdananya sebagai pemimpin umat Katolik dunia, menyampaikan pesan tentang penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza. Ia mengajak umatnya untuk memperhatikan kondisi yang terus berlangsung di wilayah tersebut, yang masih menghadapi krisis kemanusiaan yang serius.

Dalam khotbahnya, Paus Leo mengingatkan para jemaat bahwa kejadian kelahiran Yesus Kristus di sebuah kandang menunjukkan bahwa Tuhan telah mendirikan tenda-Nya yang rapuh di antara orang-orang di dunia. “Lalu, bagaimana mungkin kita tidak memikirkan tenda-tenda di Gaza, yang terpapar hujan, angin, dan dingin selama berminggu-minggu?” tanyanya kepada para jemaat yang hadir di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada hari Kamis (25/12/2025).

Selain itu, Paus Leo juga menyentil situasi konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menyebutkan bahwa daging penduduk yang tak berdaya terus diuji oleh begitu banyak perang, baik yang sedang berlangsung maupun yang telah usai, meninggalkan puing-puing dan luka terbuka. Ia juga mengkritik rapuhnya pikiran dan kehidupan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata, yang merasakan kesia-siaan dari apa yang diminta dari mereka serta kebohongan yang memenuhi pidato-pidato sombong dari mereka yang mengirim mereka ke kematian.

Khotbah Paus Leo di Basilika Santo Petrus yang menyinggung kondisi Gaza bukanlah hal baru. Sebelumnya, Paus pertama asal Amerika Serikat (AS) itu sudah beberapa kali mengangkat isu Gaza. Dia meyakini bahwa kemerdekaan Palestina menjadi satu-satunya solusi untuk mengakhiri konflik dengan Israel.



Kelompok pramuka Palestina berparade di Manger Square dekat Gereja Kelahiran, yang secara tradisional diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, pada Malam Natal, di kota Betlehem, Tepi Barat, Rabu, 24 Desember 2025. – (AP Photo/Nasser Nasser)

Meski solusi dua negara dinilai sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik, Paus Leo berpendapat bahwa Israel masih belum menerima atau menolak hal tersebut. “Kita semua tahu bahwa saat ini Israel masih belum menerima solusi itu, tetapi kita melihatnya sebagai satu-satunya solusi,” kata Paus Leo kepada awak media saat dalam penerbangan dari Turki menuju Lebanon, pada 30 November 2025 lalu.

Ia juga menyampaikan bahwa Vatikan memiliki hubungan resmi dengan Israel. Relasi tersebut dimanfaatkan Vatikan untuk ikut membantu menjembatani upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. “Kami berusaha menjadi mediator antara kedua pihak yang dapat membantu mereka mencapai solusi yang adil bagi semua orang,” kata Paus Leo.

Dampak Badai Musim Dingin di Gaza

PBB mengatakan sekitar 55 ribu keluarga Palestina di Jalur Gaza terdampak badai musim dingin. Menurut PBB, badai turut merusak tempat tinggal mereka. “Hampir 55 ribu keluarga telah terdampak sejauh ini oleh hujan terbaru di seluruh Gaza, dengan harta benda dan tempat tinggal mereka rusak atau hancur akibat badai,” ungkap Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq, saat memberikan keterangan pers di markas PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (17/12/2025).

Haq menambahkan, angka perkiraan keluarga terdampak merupakan pencatatan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Dia menyoroti pembatasan ketat Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Menurut Haq, minimnya pasokan bantuan kemanusiaan membatasi ruang gerak organisasi-organisasi kemanusiaan untuk memperluas respons mereka lebih cepat di Gaza. Hal itu berdampak langsung kepada penduduk Gaza yang sudah menderita akibat agresi Israel selama dua tahun terakhir.



Pengungsi Gaza berdiri di depan tenda keluarga mereka saat kasur dan pakaian dijemur di kamp darurat di pantai Kota Gaza, Selasa, 16 Desember 2025. – (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Awal bulan ini, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengungkapkan bahwa Israel telah menahan masuknya 6.000 truk pengangkut bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Selain bahan pokok dan obat-obatan, truk-truk tersebut turut mengangkut ratusan ribu tenda serta selimut untuk 1,3 juta pengungsi.

Penasihat media UNRWA, Adnan Abu Hasna, mengungkapkan bahwa jumlah truk yang memasuki Gaza memang meningkat jika dibandingkan sebelum gencatan senjata tercapai. Namun jumlahnya tetap masih sangat jauh dari yang dibutuhkan. Abu Hasna mengatakan bahwa Israel terus memblokir masuknya ratusan barang penting, termasuk pasokan kesehatan, peralatan air dan sanitasi, serta bahan pangan pokok. “Yang diizinkan masuk hanyalah sejumlah truk terbatas yang membawa barang-barang komersial, sementara 95 persen penduduk Jalur Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan dan tidak mampu membeli bahan-bahan tersebut,” ucapnya.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *