Rencana Relokasi Pedagang di Jalan Vihara Purwokerto Masih Tertunda
Rencana relokasi pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan Vihara ke dalam Pasar Wage di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masih belum menemui titik kesepakatan. Para pedagang meminta jaminan bahwa usaha mereka akan tetap laku jika dipindahkan ke pasar tersebut. Mereka juga meminta agar proses relokasi dilakukan setelah Lebaran.
Jalan Vihara berada tepat di samping Pasar Wage dan menjadi tempat berjualan bagi banyak pedagang. Namun, keberadaan mereka menyebabkan beberapa masalah, seperti kemacetan lalu lintas dan kecemburuan dari pedagang yang sudah berjualan di dalam pasar. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas berencana merelokasi para pedagang ini karena aduan masyarakat mengenai fungsi jalan yang terganggu.
Persyaratan dan Permintaan Pedagang
Dalam audiensi antara pengurus Paguyuban Pedagang Pasar Wage Pagi (P4WP), Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Banyumas, serta pimpinan DPRD Banyumas, para pedagang menyampaikan beberapa permintaan. Pertama, mereka ingin tetap diperbolehkan berjualan hingga pukul 08.00 WIB. Kedua, jika ada relokasi, petugas kebersihan, parkir, dan penarik iuran bansos tetap harus dipekerjakan.
Selain itu, pedagang meminta pendataan di bulan Ramadan ditunda dan dilanjutkan setelah Lebaran. Nada, salah satu pengurus paguyuban P4WP, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 244 pedagang di Jalan Vihara, dengan 195 di antaranya terdaftar. Mereka bersedia dipindah ke dalam pasar asalkan ada jaminan bahwa pasar tersebut akan ramai.
Tanggapan Pedagang
Beberapa pedagang masih berjualan di Jalan Vihara meskipun kondisi jalan sempit dan sulit dilalui kendaraan. Mereka menjual sembako, sayuran, dan daging ayam boiler. Seorang pedagang sayur, Budi (42), mengatakan tidak keberatan direlokasi jika dagangannya tetap laku. Namun, dia lebih suka tetap berjualan di Jalan Vihara karena pembelinya sudah banyak.
Sementara itu, pedagang daging ayam, Kuswati (40), khawatir jika direlokasi justru tidak ada pembeli. “Ya, inginnya di sini saja. Di sana mbok gak ramai gak ada yang beli, nanti kita lapar,” katanya.
Kecemburuan dari Pedagang Pasar Wage
Kepala Dinkop UKM dan Perdagangan Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menjelaskan bahwa penataan pedagang di Jalan Vihara dilakukan untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat. Ia memastikan bahwa Pasar Wage cukup luas untuk menampung para pedagang. Saat ini, Pasar Wage hanya terisi sekitar 900 pedagang dari kapasitas 1.500.
Namun, respon pedagang berbeda-beda. Ada yang setuju dan ada yang menolak karena merasa akses ke pembeli lebih dekat dan menguntungkan. Hal ini membuat pedagang di dalam pasar cemburu dan iri.
Jaminan Tempat dan Harga Sewa
Agus Priyanggodo, Ketua DPRD Kabupaten Banyumas, menegaskan bahwa semua pihak memiliki niat baik untuk pedagang di sekitar Jalan Vihara. Ia meminta dinas terkait memastikan bahwa tempat di Pasar Wage benar-benar tersedia dan harga sewa diatur melalui musyawarah.
Ia juga mengimbau agar Pasar Wage menjadi pasar unggulan di Banyumas. “Kalau ditata dengan baik pasarnya, tentunya akan menjadi bagus dan ramai kedepan,” ujarnya.
Rekomendasi dan Langkah Berikutnya
Gatot mengatakan bahwa perwakilan pedagang dan paguyuban meminta relokasi jangan dilakukan di bulan Ramadan. Namun, ia akan berdialog terlebih dahulu dengan tim. “Karena kita punya tim juga. Nanti kami akan diskusi, ada Polres dan Kodim,” jelasnya.
Ia berharap, jika memungkinkan, permintaan tersebut dapat diakomodasi. Proses relokasi masih dalam tahap musyawarah dan belum ada keputusan final. Para pedagang tetap berharap agar rencana ini dapat segera terealisasi dengan jaminan kenyamanan dan kelancaran usaha mereka.