Karya Seni yang Menggambarkan Perlawanan dan Emosi dalam Pameran The Stage
Di tengah keramaian pameran seni The Stage di K Mall, Jakarta, karya patung Fearless oleh Andre Tanama langsung menarik perhatian pengunjung. Patung ini menggambarkan sebuah pertarungan antara seekor naga dengan seorang anak kecil. Tubuh naga melibatkan tubuh bocah tersebut hingga menembus dada dan punggungnya, sementara keduanya saling mencengkeram dalam posisi yang sangat dramatis.
Sorot mata si anak memancarkan kemarahan intens. Tatapan lurus ke depan, sedangkan tubuh naga meliuk seperti sedang menahan rasa sakit. Karya ini memiliki dimensi 140 x 145 x 85 cm dan menjadi salah satu pusat perhatian dalam pameran yang berlangsung dari 18 Maret hingga 12 April 2026. Pameran ini menyajikan puluhan karya dari seniman kontemporer Indonesia dan internasional.
The Stage adalah kolaborasi dari tiga galeri kontemporer di Jakarta, yaitu Sankhara, Meiro Gallery, dan Kendy’s Gallery. Dalam pameran ini, terdapat 39 patung dan lukisan dari 10 seniman yang dipamerkan dalam ruang yang sama.
Karakter Agathos: Refleksi Diri yang Agresif
Dalam karya Fearless, figur anak bernama Agathos lahir dari refleksi Andre Tanama terhadap sosok lamanya, Gwen Silent, yang identik dengan ketenangan dan spiritualitas. Namun, Agathos jauh lebih agresif dibandingkan Gwen. Matanya diperbesar untuk menegaskan intensitas emosi, sementara telinganya memanjang ke atas. Wajahnya tetap tanpa mulut, yang menjadi simbol reaksi spontan yang tidak sempat terucap.
“Agathos lahir dari kesadaran bahwa saya tidak sepenuhnya seperti Gwen. Saya juga memiliki sisi agresif dan emosional sebagai manusia,” ujar Andre.
Proses penciptaan Agathos berawal dari foto dirinya saat kecil, lalu diolah secara digital sebelum diwujudkan dalam bentuk tiga dimensi. Distorsi menjadi bahasa utama dalam pendekatan visualnya. Mata yang diperbesar menegaskan intensitas emosi, sementara ketiadaan mulut menjadi simbol reaksi spontan yang tidak sempat terucap.

Salah satu seri karya Agathos (kiri) dalam pameran The Stage, di K Mall Jakarta/Bisnis.Prasetyo Agung Ginanjar
Kehadiran naga yang menembus tubuh Agathos menjadi elemen paling kuat dalam karya ini. Sosok naga bukan hanya ornamen visual, tetapi metafora energi yang muncul dari dalam diri. Ia menghadirkan dua sisi yang saling berlawanan dalam satu tubuh.
Karya-karya Lain yang Menarik Perhatian
Di bagian lain pameran, pengunjung akan menemukan patung perempuan bertubuh gempal karya Adi Gunawan. Patung berjudul The Mondrian Lady menampilkan sosok perempuan yang berbaring santai dengan lengan sebagai bantal. Warna kontras membalut tubuh figur tersebut, yang terinspirasi dari lukisan geometris khas Piet Mondrian.
Menurut Adi, karakter perempuan itu merupakan reinterpretasi jenaka dari figur Mona Lisa. Melalui karya ini, ia menantang pandangan bahwa perempuan cantik harus selalu bertubuh ramping.
“Mondrian itu menarik bagi saya. Warna primer kotak-kotak itu kemudian saya kombinasikan dengan karakter dalam karya saya,” kata Adi.
Dalam sejumlah karya lainnya, Adi juga memadukan figur perempuan dengan simbol binatang. Imaji tersebut berasal dari ingatan masa kecil yang kemudian diolah menjadi bentuk babi, anjing, kucing, hingga kuda.
Salah satunya tampak pada karya Kejar Daku Kau Kugigit. Patung ini menampilkan tiga perempuan bertubuh besar yang berlari dikejar seekor anjing bulldog dalam adegan yang komikal.

Patung Kejar Daku Kau Kugigit karya Adi Gunawan dalam pameran The Stage, di K Mall Jakarta/Bisnis.Prasetyo Agung Ginanjar
Nuansa Budaya Pop dalam Karya Seni
Nuansa budaya pop juga terasa kuat dalam pameran ini. Beberapa seniman meminjam ikon global lalu menafsirkannya kembali melalui bahasa visual mereka. Arkiv Vilmansa, misalnya, menghadirkan karya Mickiv Hope Golden Age yang terinspirasi dari karakter Mickey Mouse. Figur tersebut dimodifikasi dengan kepala lebih bulat dan telinga lebih lebar.
Tokoh Mickiv tetap mengenakan sarung tangan, celana pendek, dan sepatu. Dia ditampilkan dalam berbagai pose, mulai dari berdiri hingga berbaring. Ada pula karya Chicken Coki XXL yang berukuran besar. Patung ini menampilkan figur antropomorfis antara ayam jago dan manusia yang mengingatkan pada maskot restoran cepat saji.
Sementara itu, seniman Ndikol mengolah ulang karakter Astro Boy dalam karya seperti Heart Rebellion Color XL. Figur tersebut tampil dengan bandana seolah tengah bersiap untuk berdemonstrasi. Simbol bandana juga muncul dalam karya Bandanas #1 Mix Media. Di dalamnya hadir figur seperti The Simpsons dan Richie Rich dengan ekspresi yang konfrontatif.
Pameran Sebagai Panggung untuk Seniman
Founder Meiro Gallery Kenny Yustana mengatakan pameran ini menandai langkah penting dalam upaya membawa seni lebih dekat dengan publik. Untuk pertama kalinya, galeri tersebut menghadirkan pameran yang sepenuhnya terkurasi di dalam ruang mal.
Menurutnya, The Stage bukan sekadar pameran. Ruang ini dirancang sebagai panggung bagi seniman untuk memperlihatkan karya mereka kepada publik yang lebih luas.
“Ini adalah ruang bagi seniman untuk tampil lebih terang dan disaksikan lebih dekat oleh publik,” ujarnya.