Perang Timteng Ancam Krisis Pangan, Kondisi RI Aman?

Amanda Almeirah
7 Min Read



JAKARTA — Ancaman krisis pangan mengintai sejumlah negara di dunia akibat memanasnya kondisi geopolitik yang terjadi belakangan ini, khususnya dengan memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Ancaman krisis pangan ini disampaikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini mewanti-wanti dampak penutupan selat Hormuz akibat perang Iran vs AS-Israel terhadap ketahanan pangan dan produksi pertanian.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, menyoroti bahwa lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan utama telah anjlok lebih dari 90% dalam beberapa hari setelah eskalasi.

Jalur vital untuk perdagangan global ini biasanya mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari, sekitar 35% dari arus minyak mentah global—bersama dengan seperlima dari gas alam cair (LNG) global dan hingga 30% pupuk yang diperdagangkan secara internasional.

“Ini bukan hanya guncangan energi. Ini adalah guncangan sistemik yang memengaruhi sistem agrifood secara global,” kata Torero dikutip dari laman resmi FAO, Senin (30/3/2026).

Dia menekankan bahwa kawasan Teluk menyumbang hampir setengah dari perdagangan sulfur global, bahan baku penting yang digunakan untuk memproduksi asam sulfat guna mengolah batuan fosfat menjadi pupuk. Gangguan pasokan sulfur berisiko memecah produksi pupuk fosfat global, termasuk di negara-negara penghasil utama.

Kendala pengiriman diperparah oleh melonjaknya biaya asuransi. Setelah perluasan zona berisiko tinggi pada awal Maret, premi asuransi risiko perang naik dari 0,25 persen menjadi setinggi 10 persen dari nilai kapal, dengan cakupan yang kini diatur ulang setiap tujuh hari. Bahkan jika terjadi de-eskalasi, kondisi pengiriman normal mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih, Torero memperingatkan.

Toreto juga menyebut bahwa gangguan tersebut sudah berdampak pada biaya produksi yang lebih tinggi bagi petani di seluruh dunia. Harga pupuk telah meningkat tajam, dengan urea granular Timur Tengah meningkat sebesar 19% pada minggu pertama Maret, sedangkan harga urea Mesir melonjak sebesar 28%.

Mengingat gas alam adalah bahan baku utama untuk pupuk nitrogen, harga energi yang tinggi diperkirakan akan terus menekan biaya pupuk. Proyeksi FAO menunjukkan bahwa harga pupuk global rata-rata bisa naik 15%-20% pada paruh pertama tahun 2026 jika krisis berlanjut.

“Para petani menghadapi guncangan biaya ganda, mereka memiliki pupuk yang lebih mahal di samping kenaikan biaya bahan bakar yang memengaruhi seluruh rantai nilai pertanian, termasuk irigasi dan transportasi,” kata Torero.

Dia pun memperkirakan akan ada banyak produsen yang bakal mengurangi penggunaan pupuk atau beralih ke jenis tanaman lainnya. Melonjaknya biaya produksi ini juga berisiko membuat harga pangan semakin mahal.

Lantas, bagaimana dengan kondisi pangan Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global?

Badan Pangan Nasional (Bapanas) blak-blakan mengungkap kondisi cadangan bahan pangan Indonesia saat ini. Bapanas menyatakan bahwa kondisi stok pangan nasional dalam kondisi kuat dan mencukupi. Bahkan, beberapa komoditas pangan diproyeksikan masih mencatatkan surplus.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan nasional. Dia menyebut posisi stok dan produksi pangan saat ini berada dalam kondisi yang sangat memadai.

“Kalau kita bicara ketersediaan, kita tidak perlu khawatir. Berdasarkan proyeksi neraca pangan kita, posisi stok sangat kuat. Tahun lalu carry over stock kita sekitar 12,4 juta ton, kemudian saat ini cadangan pangan di Bulog sekitar 4,22 juta ton,” kata Ketut dikutip dari laman resmi Bapanas, Senin (30/3/2026).

Dia menuturkan, penguatan stok ini juga tercermin dari posisi cadangan pangan pemerintah. Berdasarkan data per 26 Maret 2026, stok beras yang dikelola oleh BUMN pangan yakni Perum Bulog mencapai sekitar 4,22 juta ton. Selain beras, sejumlah komoditas lain juga berada dalam posisi yang relatif aman terhadap kebutuhan bulanan, seperti jagung sekitar 155.000 ton dan minyak goreng sekitar 117.000 kiloliter.

Lebih lanjut, Ketut juga memastikan bahwa produksi pangan dalam negeri masih menunjukkan penguatan seiring berlangsungnya musim tanam dan panen. Produksi telah berjalan sejak awal tahun dan diperkirakan mencapai puncaknya pada periode panen raya.

“Produksi di bulan Januari sudah ada, di bulan Februari sudah ada, Maret sedang berproduksi, bahkan mungkin April nanti bisa panen raya. Nah, ini sebenarnya, di bulan April ini diprediksi sampai 5 juta ton. Ini juga sangat tinggi produksi yang akan dihasilkan,” ujarnya.

Proyeksi Neraca Pangan

Bapanas juga turut mengungkapkan data Proyeksi Neraca Pangan Nasional tahun 2026. Untuk komoditas beras, total ketersediaan diperkirakan mencapai lebih dari 47 juta ton yang merupakan akumulasi stok dan produksi.

Ketut mengatakan, dengan total kebutuhan besar sekitar 31 juta ton sepanjang tahun, maka masih akan menghasilkan surplus yang signifikan.

Komoditas lain juga menunjukkan kondisi neraca yang positif. Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir di 2026 sekitar 4,99 juta ton. Pada komoditas protein hewani, daging ayam ras mencatat stok akhir sekitar 1,7 juta ton.

Sementara itu, stok telur ayam ras sekitar 949.000 ton. Adapun gula konsumsi diperkirakan memiliki stok akhir sekitar 1,33 juta ton.

“Kondisi ini mencerminkan kuatnya produksi dalam negeri yang menjadi penopang utama ketersediaan pangan nasional,” ujarnya.

Ketut menambahkan bahwa sebagian besar komoditas pangan strategis nasional memang ditopang oleh produksi domestik, sehingga memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.

“Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan prinsip kewaspadaan dalam menjaga keberlanjutan produksi, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memasuki musim kemarau.

“Kami optimis ketahanan pangan terjaga, karena semua langkah antisipasi sudah disiapkan, termasuk percepatan tanam dan bantuan sarana produksi untuk menjaga produksi tetap optimal,” ungkapnya.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *