Perjuangan Dony Tri Pamungkas: Dari Desa Boyolali ke Lapangan Timnas Indonesia

Amanda Almeirah
7 Min Read

Perjalanan Dony Tri Pamungkas dari Desa ke Timnas Indonesia

Dony Tri Pamungkas adalah contoh nyata bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana. Anak seorang penjual es degan ini menapaki jalan panjang penuh perjuangan sebelum akhirnya bersinar di Timnas Indonesia. Disiplin keras sejak kecil dan bimbingan sang kakak menjadi fondasi kesuksesannya. Kini, ia dikenal sebagai salah satu talenta muda terbaik yang dimiliki Indonesia.

Kisah Awal Dony Tri Pamungkas

Nama Dony Tri Pamungkas kian mencuri perhatian sebagai salah satu talenta muda terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Pemain yang kini membela Persija Jakarta tersebut bahkan mencatatkan sejarah sebagai debutan termuda di Liga 1 Indonesia.

Bakat sepak bola Dony sudah terlihat sejak usia dini. Ia mulai menimba ilmu di Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Taruna, sebelum akhirnya menapaki jalur profesional melalui seleksi Elite Pro Academy (EPA) Persija U-16 pada Oktober 2020. Penampilannya yang impresif membuat Dony lolos seleksi dan bergabung dengan Persija Academy. Perkembangannya pun terbilang pesat. Hanya dalam waktu satu tahun, ia sudah dipanggil untuk berlatih bersama tim senior pada 2021.

Kerja kerasnya berbuah manis saat pelatih Angelo Alessio memberikan kesempatan debut di tim utama. Momentum bersejarah itu terjadi pada 28 September 2021, saat Persija menghadapi Persita Tangerang. Kala itu, Dony tampil di usia 16 tahun, 8 bulan, dan 17 hari—sekaligus menjadikannya sebagai pemain termuda dalam sejarah Liga 1 sejak kompetisi tersebut bergulir pada 2017.

Peran Sang Kakak dalam Kesuksesan Dony

Di balik pencapaian tersebut, ada sosok penting yang berperan besar dalam perjalanan kariernya, yakni sang kakak, Joko Sasongko. Eks pemain timnas era 2010–2012 itu menjadi mentor yang membentuk karakter, disiplin, dan mental juara Dony sejak kecil.

Lahir dan besar di Dukuh Tegalrejo, Desa Gumukrejo, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Dony menjalani latihan keras sejak usia dini. Ia rutin berlatih setiap pagi dan sore, mulai dari lari hingga berenang di Umbul Pengging. Kedisiplinannya semakin terbentuk saat menempuh pendidikan di SMPN 3 Teras. Selain latihan formal, Dony juga aktif mengikuti berbagai kompetisi lokal seperti turnamen tarkam dan laga antar-desa.

Meski berasal dari keluarga sederhana—dengan sang ibu yang berjualan es degan—semangatnya tak pernah padam. Seorang tetangga, Widiantoro (29), mengenang bagaimana Dony kecil begitu tekun berlatih.

“Dari kecil sudah kelihatan suka sepak bola. Tiap pagi dan sore pasti latihan, bahkan lari sambil menarik ban,” ujarnya.

Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Dony berhasil merantau ke Jakarta, lolos seleksi Persija U-16, melanjutkan pendidikan SMA di ibu kota, hingga kini berstatus mahasiswa di UTP Surakarta.

Karier yang Terus Menanjak

Kariernya pun terus menanjak. Selain menjadi andalan di klub, Dony juga sukses menembus Timnas Indonesia kelompok umur, mulai dari U-19 hingga U-23. Meski kini berada di level tertinggi sepak bola nasional, Dony tetap dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Ia masih sering pulang ke kampung halaman, berziarah ke makam sang ayah, serta berkumpul dengan teman-teman masa kecilnya.

“Kalau pulang ya tetap nongkrong sama kami, bercanda seperti biasa. Orangnya tidak berubah,” kata Widiantoro.

Tetap Jualan Es Kelapa di Boyolali Meski Anak Bersinar di Timnas

Di balik kesuksesan sang pemain muda, sosok ibunda tercinta, Saparti (56), justru tetap menjalani kehidupan sederhana dengan berjualan es kelapa di depan rumahnya. Rumah sederhana itu berdiri di Dukuh Tegalrejo, Desa Gumukrejo, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.

Di sana, Saparti setia melayani pembeli dengan spanduk sederhana bertuliskan “es kelapa”, yang menjadi saksi perjalanan panjang perjuangan hidupnya. Saparti mengaku sangat bangga melihat putranya mengenakan seragam Merah Putih di level internasional. Ia bahkan tak menyangka anak bungsunya itu mampu menembus skuad senior.

“Sebagai orang tua tentu sangat bangga sekali. Saya tidak menyangka Dony bisa sampai di timnas senior. Alhamdulillah,” ujarnya.

Momen pertandingan tersebut disaksikan Saparti melalui layar televisi di rumahnya. Ia merasa puas melihat penampilan sang anak yang dinilai telah memberikan yang terbaik di lapangan. Meski kini anaknya telah sukses, Saparti memilih untuk tetap menjalani aktivitas lamanya sebagai penjual es kelapa.

Baginya, usaha kecil tersebut bukan sekadar mata pencaharian, melainkan simbol perjuangan hidup yang tidak bisa dilupakan.

“Dari jualan es kelapa itu dulu saya membesarkan anak-anak. Selama masih sehat, saya akan terus jualan,” katanya.

Perjalanan hidup keluarga ini tidaklah mudah. Saparti mengenang masa sulit bersama sang suami, Slameto, yang dahulu bekerja sebagai tukang tambal ban sebelum meninggal dunia pada 2022. Dari kondisi serba terbatas, mereka berjuang membesarkan anak-anak hingga akhirnya meraih kesuksesan.

Kini, meski kondisi ekonomi keluarga telah membaik berkat anak-anaknya, Saparti tetap memilih hidup mandiri. Ia ingin terus mengingat dan menghargai setiap proses yang telah dilalui.

Saparti memiliki tiga putra, dua di antaranya menekuni dunia sepak bola. Selain Dony, anak pertamanya, Joko Sasongko, juga berkarier di lapangan hijau.

Debut yang Mengesankan di Timnas Indonesia

Debut Dony Tri Pamungkas tergolong mengesankan. Ia tampil impresif saat dipercaya menjadi starter dalam laga FIFA Series 2026 antara Timnas Indonesia melawan Saint Kitts and Nevis, Jumat (27/3/2026). Bermain penuh selama 90 menit, ia turut mengantarkan skuad Garuda meraih kemenangan telak 4-0.

Pemain berusia 21 tahun itu mendapat kepercayaan dari pelatih John Herdman untuk mengisi posisi bek kiri. Dony tampil solid sepanjang pertandingan, menunjukkan kedewasaan permainan di lini pertahanan sekaligus aktif membantu serangan.

Apresiasi dari Pelatih John Herdman

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengapresiasi kepada Dony Tri Pamungkas karena sebagai pemain termuda di Skuad Garuda ini, ia menunjukkan mental yang kuat.

“Apakah pemain muda seperti Dony Tri bisa menangani tekanan itu? Saya pikir dia menunjukkannya malam ini bahwa dia bisa,” jelas Herdman.

Dia memuji Dony Tri dan Beckham Putra yang tampil luar biasa dalam laga melawan Saint Kitts and Nevis.

“Kami selalu melihat ke masa depan dan saat ini. Masa depan adalah Piala AFF, di mana kita dapat memberikan kesempatan kepada pemain lokal untuk bermain dan mencoba pemain baru,” ujar John Herdman.

“Jadi penting bagi mereka untuk mendapatkan menit bermain malam ini. Rizky Ridho mengenakan ban kapten, memimpin clean sheet di akhir pertandingan benar-benar penting,” ucapnya.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *