Perundingan AS-Iran di Islamabad Terjebak, Pakar UGM: Awalnya Sulit Sukses

Hendra Susanto
3 Min Read

Kegagalan Perundingan AS dan Iran: Bukan Hal yang Mengejutkan

Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai sebagai hal yang sudah diprediksi sejak awal. Sejak awal, peluang keberhasilan diplomasi kedua negara memang terlihat sangat tipis. Hal ini disampaikan oleh Achmad Munjid, peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, menanggapi pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyebut tidak tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik secara permanen usai perundingan di Islamabad, Pakistan.

Menurut Munjid, akar utama dari kegagalan tersebut berada pada rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua pihak. “Sejak awal banyak yang tidak optimistis. Kepercayaan antara Amerika dan Iran sangat kecil. Iran merasa sudah dua kali ‘dibohongi’ karena diserang saat proses perundingan berlangsung,” ujarnya dalam wawancara dengan Tribun Jogja, Minggu (12/4/2026).

Komunikasi Melalui Pihak Ketiga

Kondisi ini membuat komunikasi antara AS dan Iran tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui pihak ketiga, yaitu Pakistan. Situasi ini semakin memperkecil peluang tercapainya kesepakatan. Selain faktor kepercayaan, Munjid juga menilai posisi politik Iran justru sedang menguat pasca-konflik.

Meski secara militer mengalami kerusakan, Iran dinilai diuntungkan secara geopolitik. “Iran tidak merasa dirugikan jika perundingan gagal. Apalagi mereka menguasai Selat Hormuz, yang memberi keuntungan politik dan ekonomi besar,” katanya.

Tekanan di Pihak AS

Di sisi lain, tekanan justru datang dari pihak Amerika Serikat. Munjid menilai Presiden Donald Trump tengah menghadapi tekanan domestik untuk segera mengakhiri perang, terutama karena kerugian finansial yang besar. Hal ini membuat Iran berada di posisi tawar yang lebih kuat dan cenderung menunggu tanpa harus mengalah.

Faktor lain yang dinilai krusial adalah peran Israel. Munjid menyebut Israel sebagai pihak yang paling berkepentingan agar perundingan tidak pernah mencapai titik damai. “Sejak awal, setiap upaya perundingan yang terjadi selalu terganggu. Israel tidak menginginkan adanya perdamaian antara Amerika dan Iran,” tegasnya.

Isu Nuklir sebagai Ganjalan Utama

Isu nuklir juga menjadi ganjalan utama. Amerika dan Israel terus mendesak Iran menghentikan pengayaan uranium karena dicurigai mengarah pada pengembangan senjata nuklir. Namun Iran menolak tudingan tersebut. Munjid menjelaskan, Iran mengklaim program nuklirnya untuk kepentingan damai dan pernah membuka diri terhadap pengawasan internasional, termasuk pada masa pemerintahan Barack Obama yang sempat mencabut sanksi melalui kesepakatan nuklir 2015.

“Bagi Iran ini soal ketidakadilan. Mereka merasa dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukan, sementara Israel yang memiliki senjata nuklir justru tidak dipersoalkan,” jelasnya.

Dampak Luas bagi Indonesia

Kebuntuan ini berpotensi berdampak luas, termasuk bagi Indonesia. Munjid mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu krisis energi global dan mengganggu penerbangan internasional. “Yang paling dekat dampaknya bagi Indonesia adalah penyelenggaraan ibadah haji. Jika konflik memanas, jalur penerbangan bisa terganggu, selain juga harga minyak yang berimbas pada ekonomi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya antisipasi pemerintah Indonesia, baik dari sisi diplomasi maupun teknis, untuk menghadapi kemungkinan terburuk. “Harapannya tentu ada jalan damai. Tapi kalau tidak, pemerintah harus siap, terutama terkait keamanan dan kelancaran jemaah haji,” pungkasnya.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *