Purbaya dan Perry Sepakat Soal Dampak Pencalonan Thomas pada Rupiah

Rafitman
5 Min Read



JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan dan mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Pertanyaannya, apakah kondisi ini terkait dengan pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)? Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,13% atau 22 poin ke level Rp16.934 per dolar AS pada Rabu (21/1/2026). Namun, ada risiko penurunan pada perdagangan hari ini, Kamis (22/1/2026). Sementara itu, indeks dolar AS melemah sebesar 0,08% ke level 98,56.

Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa persepsi pasar terkait proses pencalonan deputi gubernur baru, yaitu Thomas Djiwandono yang juga keponakan Presiden Prabowo, menjadi salah satu faktor domestik yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah. Persepsi ini muncul karena masuknya Thomas dinilai akan memengaruhi independensi bank sentral.

Thomas Djiwandono adalah salah satu dari tiga calon deputi gubernur BI yang diajukan ke DPR. Calon lainnya adalah dua pejabat karir internal BI, yaitu Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan deputi gubernur berkontribusi terhadap situasi saat ini.

Meski demikian, Perry menegaskan bahwa proses tersebut berjalan sesuai koridor hukum dan tidak akan mengurangi profesionalisme otoritas moneter. “Proses pencalonan deputi gubernur sesuai Undang-Undang tata kelola dan tidak memengaruhi pelaksanaan tugas serta kewenangan Bank Indonesia,” ujarnya.

Selain isu suksesi, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan valuta asing (valas) dari korporasi domestik, termasuk BUMN seperti Pertamina dan PLN. Kombinasi sentimen domestik dan gejolak global, seperti eskalasi geopolitik, kebijakan tarif AS, serta tingginya imbal hasil US Treasury, menyebabkan arus modal keluar signifikan. Data hingga 19 Januari 2026 menunjukkan net outflow sebesar US$1,6 miliar.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah mendekati level Rp17.000 per dolar AS hanya reaksi spekulatif dari pasar. Ia merespons kabar tentang masuknya Thomas Djiwandono dalam bursa calon deputi gubernur BI. Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, termasuk kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.

“Rupiah akan tergantung pada fundamental ekonominya. Anda lihat kan IHSG sekarang? All time high kan? 9.133,” ujar Purbaya. Ia berpendapat bahwa rekor IHSG menunjukkan aliran modal asing yang deras. Secara teori ekonomi, masuknya dana asing tersebut akan meningkatkan pasokan dolar AS di pasar domestik, yang dapat menjadi katalis penguatan rupiah.

Purbaya meyakini bahwa depresiasi rupiah saat ini lebih didorong oleh sentimen psikologis pasar. Investor dinilai bereaksi berlebihan terhadap wacana perpindahan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono ke BI, yang dikhawatirkan akan menggerus independensi otoritas moneter. “Ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana [BI], wah orang spekulasi dia akan independensinya hilang. Saya pikir tidak akan begitu,” katanya.

Strategi Stabilisasi

Untuk menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan telah dan akan terus melakukan intervensi pasar dalam skala besar. Perry menyebut cadangan devisa (cadev) Indonesia cukup untuk membiayai langkah stabilisasi tersebut. Per akhir Desember 2025, posisi cadev mencapai US$156,5 miliar. BI mencatat posisi tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di pasar luar negeri maupun di dalam negeri. Kami tidak segan-segan menggunakan cadangan devisa itu untuk melakukan stabilisasi,” kata Perry.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan bahwa strategi stabilisasi tidak hanya bertumpu pada intervensi pasar spot dan DNDF. BI juga mengoptimalkan instrumen operasi moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga daya tarik aset berbasis rupiah.

Di sisi lain, diversifikasi mata uang melalui Local Currency Transaction (LCT) menunjukkan tren positif sebagai bantalan ketergantungan terhadap dolar AS. Destry mencatat volume transaksi LCT sepanjang Januari—Desember 2025 melonjak signifikan menjadi US$25,66 miliar, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian 2024 yang sebesar US$12,5 miliar.

“Ini tentunya menjadi suatu strategi bagi kami, sehingga itu juga akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar,” ujar Destry.

Share This Article
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *