Susun Ulang Portofolio Saham 2026, Ini Strategi Ideal dari Analis

Amanda Almeirah
5 Min Read

Strategi Investasi Saham di Tahun 2026



Saham tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang menawarkan potensi keuntungan besar dalam jangka panjang. Kinerja pasar saham Indonesia terbilang positif sepanjang tahun 2025, dan tren ini diperkirakan akan berlanjut pada 2026. Namun, investor perlu lebih cermat dalam menyusun portofolio saham untuk mengoptimalkan peluang untung sekaligus mengelola risiko.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menjelaskan bahwa porsi investasi saham dalam portofolio bergantung pada target imbal hasil yang ingin dicapai investor. Jika tujuan utama adalah pertumbuhan return sekitar 10% per tahun, maka porsi saham dalam portofolio bisa berkisar antara 20% hingga 30%. Namun, jika investor menginginkan return minimal 15% per tahun, maka porsi saham perlu ditingkatkan hingga sekitar 50% atau bahkan lebih.

Namun, Budi menekankan bahwa tingkat return tersebut masih bersifat ekspektasi dan belum tentu terealisasi. Investor harus siap dengan risikonya. Pada 2026, saham-saham konglomerasi kembali menjadi incaran investor, mengingat tren yang terjadi pada tahun sebelumnya. Saham-saham dengan free float terbatas atau hasil IPO dari grup konglomerat dinilai menarik. Selain faktor fundamental, emiten konglomerasi biasanya siap menjadi liquidity provider. Minat investor asing terhadap saham-saham tersebut juga meningkat, terutama ketika emiten berhasil masuk ke indeks global seperti MSCI.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyarankan bahwa investor dengan profil risiko konservatif idealnya mengalokasikan sekitar 20%–35% portofolio ke saham. Fokusnya adalah pada saham defensif yang rutin membagikan dividen. Tujuan utama investor konservatif adalah menjaga stabilitas nilai portofolio. Bagi investor moderat, porsi saham yang disarankan berada di kisaran 40%–60%. Investor moderat dapat mengombinasikan saham defensif dan saham siklikal dengan prospek pertumbuhan positif serta risiko terukur. Sementara itu, investor agresif dapat mengalokasikan sekitar 65%–80% portofolionya ke saham. Kelompok ini biasanya memiliki toleransi tinggi terhadap volatilitas pasar.

Nafan menyebutkan beberapa saham dari berbagai sektor yang bisa menjadi pilihan investor, seperti ADRO, ASSA, AUTO, BBCA, BBNI, BMRI, BBRI, BNGA, BRMS, CUAN, ENRG, HRTA, INCO, IMPC, ISAT, JPFA, PGAS, PTRO, RATU, SIDO, TINS, TKIM, UNVR, dan WIFI.

Praktisi pasar modal sekaligus Pendiri Warkop Saham, Raden Bagus Bima, menambahkan bahwa ada tiga strategi utama yang perlu dipegang investor saham pada 2026. Pertama, melakukan diversifikasi lintas sektor antara saham defensif, siklikal, dan saham berorientasi pertumbuhan. Kedua, mengombinasikan saham berfundamental kuat dengan saham yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Ketiga, melakukan rebalancing portofolio secara berkala sesuai perubahan kondisi pasar.

Berdasarkan pendekatan tersebut, Raden menyarankan porsi saham sekitar 20%–30% untuk investor konservatif, 40%–60% bagi investor moderat, dan 70%–80% untuk investor agresif. Ia menilai sektor perbankan atau keuangan masih menjadi unggulan pada 2026, seiring tren penurunan suku bunga acuan The Fed dan stabilitas likuiditas domestik. Bank-bank besar dengan kualitas aset baik dan rasio CASA yang kuat masih menarik dari sisi valuasi.

Selain perbankan, sektor energi dan komoditas juga patut dipertimbangkan, terutama bagi emiten dengan biaya produksi rendah dan diversifikasi bisnis yang solid. Saham-saham konsumer dinilai tetap relevan sebagai penopang portofolio di tengah potensi volatilitas pasar karena karakter pendapatannya yang relatif stabil. Tidak ketinggalan, sektor infrastruktur dan utilitas turut menjadi sorotan berkat dukungan belanja pemerintah serta keberlanjutan proyek strategis nasional yang memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati fundamental emiten, sensitivitas terhadap perubahan suku bunga dan harga komoditas, serta memperhatikan valuasi dan likuiditas saham guna menjaga fleksibilitas rebalancing portofolio.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, menambahkan bahwa awal tahun dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan rebalancing portofolio. Masih terdapat sejumlah saham yang terkoreksi harganya, namun memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang positif. “Tidak masalah masuk ke saham, asalkan likuiditas tetap dijaga, terutama untuk kebutuhan dan kewajiban jangka pendek,” jelas Eko.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi tekanan inflasi ke depan, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio. Keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dan tujuan investasi jangka panjang menjadi kunci agar investor tidak terjebak risiko finansial yang berlebihan.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *