Virus Nipah Belum Ditemukan di Padang, Warga Diminta Tetap Waspada

Amanda Almeirah
5 Min Read

Penjelasan Mengenai Virus Nipah di Kota Padang

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang telah memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus maupun masyarakat yang terindikasi terpapar Virus Nipah di wilayah tersebut. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Srikurnia Yati, menyusul meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit ini setelah dilaporkan muncul kembali di sejumlah negara.

“Sampai saat ini, kami belum mendapatkan informasi terkait adanya masyarakat yang terindikasi atau terdampak Virus Nipah. Sejauh ini belum ada kasus di Kota Padang,” ujar Srikurnia Yati pada Senin (2/2/2026). Ia menekankan bahwa gejala Virus Nipah umumnya mirip dengan influenza, seperti demam dan batuk, tetapi tingkat keparahan lebih berat dibandingkan flu biasa.

Penularan virus ini biasanya melalui hewan, terutama kelelawar. Untuk mengantisipasi potensi penularan, Srikurnia Yati mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:

  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
  • Mengonsumsi sayur dan buah secara teratur
  • Minum air putih yang cukup
  • Istirahat yang cukup
  • Menghindari kebiasaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti begadang
  • Tetap melakukan aktivitas fisik atau olahraga, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem

Pengertian dan Karakteristik Virus Nipah

Menyusul kemunculan kembali penyakit Virus Nipah di India, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan kepada seluruh jajaran kesehatan di Indonesia. Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah ditandatangani Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami pada 30 Januari 2026, dan ditujukan kepada seluruh kepala dinas kesehatan provinsi, kabupaten/kota hingga kepala puskesmas.

Dalam edaran tersebut dijelaskan bahwa Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.) dan dapat menular ke manusia secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi, serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Pandangan Pakar Kesehatan Fakultas Kedokteran Unand

Menanggapi hal tersebut, Pakar Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), dr. Mohamad Reza, Ph.D, menyebut Virus Nipah memiliki karakteristik mirip dengan sejumlah virus zoonotik berbahaya lainnya. “Virus Nipah ini sama seperti COVID-19, Ebola, dan beberapa virus lain yang berasal dari hewan dan kemudian ‘melompat’ ke manusia. Reservoir utamanya adalah kelelawar, dan pada kasus Nipah, faktor perantaranya sering kali adalah babi,” ujar Reza.

Ia menjelaskan, wabah pertama Virus Nipah tercatat pada 1998 di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Nama Nipah sendiri diambil dari Sungai Nipah di Negeri Sembilan, Malaysia, lokasi awal ditemukannya kasus. Meski tidak pernah menimbulkan pandemi berskala besar, Reza menegaskan tingkat kematian Virus Nipah tergolong sangat tinggi. “Fatality rate Virus Nipah itu sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi, bisa sampai setengah bahkan tiga perempatnya meninggal dunia.”

Dari sisi klinis, gejala Virus Nipah pada tahap awal menyerupai influenza, seperti demam, meriang, dan rasa tidak enak badan. Namun pada fase lanjut, virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut dan radang otak (ensefalitis) yang mematikan. “Dulu bahkan sempat disangka sebagai Japanese Encephalitis karena gejalanya mirip, tapi fatalitasnya ternyata jauh lebih tinggi,” jelas Reza.

Pemantauan dan Pencegahan Penularan

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada bukti kuat terjadinya penularan antar manusia (human to human transmission). Penularan umumnya terjadi akibat kontak dengan hewan terinfeksi atau konsumsi daging yang tidak diolah secara sempurna. “Penularan pada manusia memungkinkan, namun masih jarang terjadi, berbeda dengan COVID-19 yang sudah massif penularannya secara human to human. Namun kita harus mewaspadai pandemi skala besar karena virus sangat mudah bermutasi,” jelasnya.

“Kalau sudah terbukti menular antar manusia seperti COVID-19, lonjakan kasus akan sangat cepat. Fakta bahwa kasus masih terbatas menunjukkan kemungkinan besar penularan masih dari hewan ke manusia,” tambahnya.

Meski demikian, Reza menilai kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat potensi virus untuk bermutasi. “Antisipasi mutlak perlu dilakukan, terutama memperketat pengawasan di pintu masuk negara, karantina, serta pemantauan ketat terhadap pasien dengan gejala yang mengarah ke Virus Nipah,” ujarnya. Ia juga menyarankan pengetatan perjalanan dari negara terdampak seperti India dan Malaysia, mengingat mobilitas wisatawan yang tinggi.

“Tidak perlu panik atau ekstrem, tapi kesiapsiagaan harus ada. Di bandara dan fasilitas umum, pengawasan kesehatan perlu diperketat lagi. Karena kemungkinan penularan antar manusia itu selalu ada,” pungkasnya.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *