JAKARTA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajak seluruh negara untuk mempercepat langkah-langkah global dalam upaya mengakhiri tuberkulosis (TBC) pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026. Percepatan ini menjadi kunci dalam mengatasi salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia.
Salah satu inisiatif utama adalah memperluas akses terhadap inovasi diagnostik baru yang mampu mendeteksi TBC lebih cepat dan menjangkau lebih banyak pasien. Teknologi ini dirancang untuk digunakan di dekat titik layanan kesehatan (point-of-care), termasuk metode usap lidah, yang dinilai lebih mudah dan efisien dibandingkan metode tradisional.
Inovasi Diagnostik Baru yang Menjanjikan
Tes baru ini bersifat portabel, mudah digunakan, dan dapat beroperasi dengan baterai. Hasilnya bisa diperoleh dalam waktu kurang dari satu jam, sehingga memungkinkan pasien segera memulai pengobatan. Selain itu, biaya alat diagnostik ini disebut hanya setengah dari harga tes molekuler yang biasanya digunakan saat ini. Hal ini memberi peluang bagi banyak negara, terutama yang memiliki sumber daya terbatas, untuk memperluas akses pengujian.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa inovasi ini berpotensi mengubah cara penanganan TBC secara signifikan. Ia mengimbau semua negara untuk meningkatkan akses terhadap alat-alat ini agar setiap orang yang menderita TBC dapat didiagnosis dan diobati secepat mungkin.
Penggunaan Teknologi untuk Penyakit Lain
Selain untuk TBC, teknologi ini juga berpotensi digunakan untuk mendeteksi penyakit lain seperti HIV, mpox, dan HPV. Dengan demikian, teknologi ini dapat membantu layanan kesehatan menjadi lebih terintegrasi dan berfokus pada kebutuhan pasien.
Metode Pengambilan Sampel yang Lebih Efisien
WHO juga merekomendasikan metode pengambilan sampel baru, seperti usap lidah yang lebih sederhana dan strategi pengumpulan dahak yang lebih efisien. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan cakupan pengujian, terutama bagi pasien yang kesulitan menghasilkan dahak.
Teknik penggabungan sampel (pooling) juga diperkenalkan untuk menekan biaya dan mempercepat proses diagnosis, terutama di negara dengan keterbatasan sumber daya.
Ancaman Terhadap Kemajuan Global
Meski telah dicapai beberapa kemajuan, TBC masih menjadi ancaman serius. Setiap hari, lebih dari 3.300 orang meninggal dunia akibat TBC, sementara sekitar 29.000 orang terinfeksi penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan.
Sejak tahun 2000, upaya global telah berhasil menyelamatkan sekitar 83 juta jiwa. Namun, pemangkasan anggaran kesehatan global berisiko menghambat atau bahkan membalikkan capaian tersebut.
Kendala Utama dalam Implementasi Diagnosis Cepat
Kendala utama dalam implementasi diagnosis cepat antara lain tingginya biaya dan ketergantungan pada laboratorium terpusat. Oleh karena itu, perluasan penggunaan tes sederhana dan cepat menjadi krusial untuk menutup kesenjangan layanan.
Seruan Aksi Global
Dengan tema “Ya! Kita bisa mengakhiri TB: Dipimpin oleh negara, didukung oleh masyarakat”, WHO mendorong negara dan komunitas untuk mempercepat adopsi teknologi diagnostik, memperkuat layanan berbasis masyarakat, serta membangun sistem kesehatan yang tangguh.
Direktur Departemen HIV, Tuberkulosis, Hepatitis, dan IMS WHO, Tereza Kasaeva, menegaskan pentingnya investasi dalam penanggulangan TBC. Ia menyatakan bahwa berinvestasi dalam TBC adalah pilihan strategis yang dapat menghasilkan hingga US$43 dalam manfaat kesehatan dan ekonomi untuk setiap dolar yang dibelanjakan.
Dorongan untuk Inovasi Berkelanjutan
WHO menilai inovasi diagnostik saja belum cukup untuk mengakhiri epidemi TBC. Diperlukan investasi berkelanjutan dalam penelitian untuk pengembangan obat dan vaksin baru.
Saat ini, pendanaan global untuk riset TBC masih jauh dari kebutuhan tahunan sekitar US$5 miliar, sehingga menciptakan kesenjangan besar dalam upaya pengendalian penyakit.
Untuk itu, WHO bersama mitra meluncurkan berbagai inisiatif, termasuk Dewan Akselerator Vaksin TBC, guna mempercepat pengembangan serta pemerataan akses vaksin di seluruh dunia.
WHO pun mendesak pemerintah dan pemangku kepentingan menjadikan TBC sebagai prioritas utama dalam agenda keamanan kesehatan dan cakupan kesehatan universal.