37 Juta Pekerja Indonesia Overwork, Ahli: Satu Pekerjaan Tak Cukup untuk Hidup Layak

Ratna Purnama
4 Min Read

Fenomena Overwork di Indonesia yang Mengkhawatirkan

Lebih dari 37 juta masyarakat Indonesia mengalami overwork atau bekerja melampaui batas jam kerja wajar. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 menunjukkan angka yang mencemaskan terkait fenomena ini. Tercatat sebanyak 37.323.341 orang berusia 15 hingga 65 tahun lebih bekerja selama lebih dari 49 jam dalam seminggu.

Penduduk usia produktif menjadi penyumbang terbesar atas angka ini. Dalam segmen usia 35-44, terdapat 9,5 juta penduduk Indonesia yang menjalani jam kerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini disusul oleh kelompok usia 25-34 dengan jumlah 8,71 juta orang dan kelompok usia 35-54 dengan angka 8,38 juta masyarakat Indonesia dengan jam kerja sangat panjang.

Fenomena overwork di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal ini mencerminkan bahwa overwork menjadi fenomena umum yang terjadi pada lintas usia di berbagai wilayah Indonesia.

Penyebab Overwork di Indonesia

Dosen sekaligus Peneliti FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Wisnu Setiadi Nugroho memandang bahwa fenomena overwork atau bekerja berjam-jam dipicu oleh berbagai faktor. Tekanan ekonomi tunggal bukan menjadi satu-satunya penyebab overwork (termasuk mengambil pekerjaan ganda).

Menurut Wisnu, fenomena ini merupakan gabungan dari kondisi struktur pasar tenaga kerja Indonesia yang kurang memberikan pekerjaan berkualitas, rendahnya upah layak, dan tingginya informalitas pekerjaan. Kondisi overwork menjadikan persoalan upah sebagai salah satu sorotan utama. Apakah satu pekerjaan saja cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar?

Faktor Upah Jadi Pendorong

Dalam konteks overwork di Indonesia, salah satu faktor pendorongnya adalah persoalan upah atau gaji pekerja yang jauh untuk bisa hidup dengan layak. Wajar saja, upah merupakan faktor penting untuk menentukan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Wisnu pernah mengkaji permasalahan ini pada eastasiaforum. Selain angka pertumbuhan jumlah pekerjaan yang besar, tulisan tersebut juga menyoroti isu upah yang menyelimuti masyarakat Indonesia. “Temuan kami memperlihatkan bahwa upah awal rata-rata hanya sekitar Rp 1,6 juta per bulan. Angka yang jauh di bawah kebutuhan hidup layak dan juga di bawah upah sektor formal,” ucapnya saat dihubungi.

Masyarakat Indonesia Cari Tambahan Kerja demi Hidup Layak

Bagi sebagian pekerja, satu mata pencaharian saja tidak lagi cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Dari pendapatan yang tidak memadai, mau tidak mau para pekerja terpaksa untuk mengambil langkah lain untuk mencapai kehidupan yang layak.

Beberapa langkah yang dimaksud Wisnu adalah:
* Mencari pekerjaan tambahan (multiple jobs) untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
* Mengambil jam kerja yang panjang meskipun pekerjaan utama tidak memberikan jam kerja penuh layak.
* Menggabungkan beberapa pekerjaan paruh waktu agar mendapatkan penghasilan yang cukup.

“Ini sesuai dengan temuan studi dari BPS (melalui Susenas) yang menunjukkan bahwa lebih dari seperempat pekerja terlibat dalam multiple job-holding, dengan rata-rata jam tambahan signifikan di luar pekerjaan utama,” jelas Wisnu.

Risiko Overwork terhadap Produktivitas

Overwork atau bekerja dengan jam yang berlebihan mempunyai risiko jangka panjang. Wisnu menjelaskan, secara teori jam kerja yang lebih panjang bisa meningkatkan output jangka pendek karena total jam yang dikerjakan bertambah.

“Namun bukti empiris dari penelitian tenaga kerja menunjukkan bahwa produktivitas per jam bekerja tidak otomatis meningkat seiring jam kerja panjang,” katanya. Berbagai studi internasional, lanjut Wisnu, menunjukkan bahwa meskipun pekerja di Indonesia bekerja lebih dari standar 40 jam/minggu, produktivitas per jam pekerja masih relatif rendah dibanding negara lain di ASEAN.

“Kesimpulannya, jam kerja yang panjang justru kita duga bisa menurunkan efektivitas kerja per jam karena kelelahan, penurunan konsentrasi, dan kenaikan risiko kesehatan serta kecelakaan kerja,” pungkas Wisnu.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *