Cinta ditolak, nyawa melayang: kisah aktivis lingkungan yang ceria

admin
22 Min Read



Cerita kriminal ini menceritakan kematian Michelle Herndon, seorang aktivis lingkungan yang cantik dan penuh semangat. Pelakunya adalah temannya sendiri. Inilah kisah cinta yang ditolak dan berakhir dengan tindakan yang tidak terduga.

Cerita kriminal ini pernah dipublikasikan dalam majalah Intisari edisi Oktober 2008 dengan judul “Cinta Ditolak Jarum Bertindak”.


Michelle Herndon adalah sosok yang tak mudah dilupakan. Sebagai seorang pecinta alam dan aktivis lingkungan hidup, dia termasuk anggota WWF, Animal Relief, dan organisasi lain yang peduli pada lingkungan. Michelle dikenal ramah, baik hati, dan lembut. Tubuhnya atletis, tinggi, dengan rambut panjang dan pirang. Dia nyaman berada di tengah keramaian dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki suasana di mana pun dia berada. Kawan-kawannya sering mengatakan bahwa jika Michelle tersenyum, malam yang gelap pun bisa menjadi cerah. Matanya biru seperti sayap kupu-kupu yang beterbangan.



Michelle juga dikenal sebagai seseorang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap hewan primata. Dia sering menjadi sukarelawan di tempat penampungan hewan primata. Kegiatan ini jarang dilakukan oleh wanita seusianya. Kecintaannya pada binatang konon sangat kuat. Suatu hari, dia menelepon ibunya, Belinda Herndon, dan berkata, “Aku pulang telat nih, Mom. Ada masalah yang harus cepat diselesaikan!” Belinda khawatir bertanya, “Masalah apa, Michelle?” Michelle menjawab, “Seekor tupai, Ma. Kakinya patah dan aku harus membawanya ke klinik.” Belinda menarik napas lega, “Michelle, Michelle…”

Belinda juga bercerita tentang foto yang selalu disimpan Michelle di agenda putrinya. Dalam foto tersebut, Michelle tampak bahagia menggendong anak laki-laki. “Lihat Ma, ini foto anak adopsiku,” jelas Michelle. Konon, jika tidak ada aral melintang, saat berusia 24 tahun, Michelle ingin bergabung dengan Peace Corps untuk fokus melakukan aktivitas sosial di Afrika.

Di balik kelembutannya, Michelle tetap bisa bertindak tegas. Dia tidak segan menegur orang yang membuang sampah sembarangan. “Apakah berjalan sebentar ke tempat sampah akan membunuhmu?” umpatnya suatu kali. Baginya, semua orang punya kewajiban untuk menjaga Bumi ini, tanpa kecuali.


Bertamu dari rumah ke rumah

Karena Michelle memutuskan melanjutkan sekolah di Gainesville, jauh dari rumah, Belinda merasa takut kehilangan. Namun, dia tidak ingin melarang niat itu karena akal sehatnya mengatakan bahwa Michelle sudah waktunya tinggal sendiri. Belinda mencoba tidak khawatir, bukankah Michelle yang supel dan mudah bergaul selalu punya cara untuk mengisi waktu luang? Apalagi selama ini dia cepat beradaptasi di lingkungan baru.

“Wah, aku baru saja selesai bertamu nih, Ma, dari rumah ke rumah untuk memperkenalkan diri,” jelas Michelle ketika ditanya kabarnya oleh Belinda. Michelle juga berkisah bahwa dia berhasil mendapatkan pekerjaan paruh waktu sebagai instruktur pribadi di pusat kebugaran di Gainesville. Di sinilah dia bertemu Jessica Seipel, seorang sahabat dekat.

Keduanya sering ketemuan untuk sekadar bergosip atau barbecue di halaman belakang rumah Jessica. Setiap minggu, Jessica menggelar acara “makan malam keluarga” dengan anggota tetap: Jessica, Michelle, Oliver, Sonia, dan Sky. Semuanya wanita, kecuali Oliver, si pria pemalu yang selalu merasa canggung bersama wanita.

Hampir semua rahasia Michelle diketahui Jessica. Termasuk ketika Michelle jatuh cinta pada Jason Dearing. Meski hubungan mereka sudah lama, mereka hanya memantapkan hubungan itu ke arah yang lebih serius empat tahun kemudian. “Kamu harus dengar ini, Jessica. Aku baru saja memantapkan hubunganku dengan Jason. Akhirnya kami benar-benar punya hubungan serius,” seru Michelle bahagia.

Saat itu, Michelle memiliki segalanya: keluarga yang menyayangi, sahabat yang baik, pacar yang lama diidam-idamkan, dan aktivitas sosial yang bermanfaat. Ya, segalanya, sampai November 2005, ketika tiba-tiba terjadi titik balik dalam hidupnya.


Mendadak dia tak lagi menelepon ibunya, berhenti curhat pada sahabatnya, tak lagi minta dikencani pacarnya, bahkan tidak masuk kerja. Telepon genggamnya pun mati total. “Aku menelepon 10 kali untuk memastikan dia tidak kenapa-kenapa,” kata Jessica. Namun tak ada jawaban. Sementara Sang Ibu mulanya mencoba menepis kekhawatiran dengan tetap berpikir positif. “Mungkin dia sibuk bekerja atau ada kuliah tambahan,” kata Belinda.

Semua fakta seputar keberadaan Michelle masih tanda tanya, ketika pukul 03.30 pagi, persis tanggal 10 November 2005, ibu Michelle menerima telepon dari Jason. Jason bercerita, sudah dua hari ini dia tidak bisa menghubungi Michelle, dan tak menerima kabar apa pun dari pacarnya itu. Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Michelle dengan perasaan cemas. Dari luar rumah, Jason mendengar suara anjing Michelle, Duke, menggonggong dan ada bunyi dering telepon genggam. Namun kok tidak ada tanda-tanda Michelle ada di dalam.

“Tante, aku lagi di rumah Michelle. Aku lihat mobilnya ada di rumah. Kelihatannya dia meninggalkan telepon genggamnya di dalam. Mungkin Jessica sakit, dan dia pergi untuk membesuk ke rumahnya dengan terburu-buru,” papar Jason.

Belinda langsung bangkit dari tempat tidur, menelepon Jessica. “Michelle enggak ada di sini, Tante. Untuk memastikan keberadaannya, aku akan menyusul Jason ke rumah Michelle,” Jessica berusaha menenangkan Belinda.

Di rumah, Belinda menunggu dengan penuh kecemasan. Dia menunggu kabar apa pun dari Jason dan Jessica, atau siapa pun yang tahu mengenai keberadaan anaknya. Namun dering telepon yang lama ditunggu tak juga berbunyi. Dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya. “Apa pun yang terjadi, aku harus segera ke rumah Michelle,” batinnya menahan galau. Perjalanan yang akan selalu dikenang sebagai perjalanan terpanjang selama hidupnya.



Tak ada darah dan kekerasan

Firasat Belinda benar, setiba di rumah Michelle, garis kuning polisi, mobil patroli, serta wajah-wajah serius para detektif sudah memenuhi areal tempat kejadian perkara. Detektif Douglas menghampiri Belinda, seraya menyampaikan ucapan belasungkawa. Ya, Michelle akhirnya ditemukan, tapi dalam kondisi tewas di kamarnya. Belinda yang tak siap menerima berita itu, langsung jatuh lemas.

Michelle termasuk wanita muda yang sehat dan bersemangat. Dia tak pernah menderita sakit apa pun yang lebih buruk dari migrain. Atas dasar itu, Belinda yakin, Michelle tewas dibunuh. Namun melihat temuan di lapangan, detektif Michael Douglas meragukan keyakinan Belinda. Dia tidak melihat noda darah sedikit pun, kerusakan apa pun, atau hal-hal lain yang mengarah pada kasus pembunuhan. Maka kesimpulan sementara polisi: Michelle bunuh diri!

Kesimpulan tersebut keruan menyulut kemarahan Belinda dan sahabatnya, Jessica. “Rasanya ingin kucekik mereka yang bilang Michelle bunuh diri,” geram Jessica, sambil menambahkan, “Mereka tidak tahu apa-apa dan tidak kenal baik dengan Michelle.” Belinda dan Jessica minta polisi lebih teliti memeriksa TKP.

Setelah menelusuri setiap bagian rumah, Douglas setuju, korban orang yang sangat rapi, teliti, dan menjaga kesehatannya. “Dari isi kulkasnya kelihatan. Hanya ada susu, beberapa yoghurt, dan buah-buahan,” terang Douglas. Sama sekali tidak ada bir maupun pizza dingin. Begitu juga dengan narkoba dan alkohol.

Akhirnya, hanya beberapa jam setelah menyimpulkan kasus Michelle sebagai bunuh diri, polisi meralat dengan mengesampingkan segala kemungkinan yang mengarah pada bunuh diri, overdosis pemakaian obat, dan adanya tamu asing yang berkunjung. Namun kesimpulan sementara kali ini pun tak kalah aneh: Michelle Herndon dinyatakan tewas karena “memang sudah waktunya meninggal”.

“Itu dapat saja terjadi, walaupun tidak sering. Saya pernah mendapat kasus kematian orang yang tampaknya sehat tapi ternyata mempunyai kelainan pada tubuhnya dan meninggal. Saat ini, Michelle yang berumur 19 tahun, tanpa catatan medis apa pun, ditemukan tewas di tempat tidurnya,” Douhlas mencoba menghibur orang-orang terdekat Michelle. Douglas menutup penelitiannya di TKP, dengan mengirim mayat Michelle ke tim forensik di rumah sakit untuk diautopsi.

Awalnya Belinda tidak setuju mayat Michelle diautopsi. Dia enggak tega melihat tubuh anaknya disayat-sayat. Namun dr. Martha Burt dari bagian forensik menjelaskan, autopsi dapat memberikan fakta yang mungkin tak terungkap saat pemeriksaan fisik biasa. Siapa tahu, hasil autopsi memberi titik terang jejak pembunuh Michelle, kalau benar dia dibunuh. Belinda pun akhirnya mengangguk tanda setuju.

Titik kecil di lengan kiri

Sama seperti pihak keluarga, sahabat, dan polisi, dr. Martha Burt pun takjub, mengapa gadis semuda dan sesehat Michelle bisa mendadak meninggal. Tanpa narkoba, apalagi bergaul dengan berandalan, hidup Michelle mestinya aman-aman saja, jauh dari ancaman. “Betapa ironisnya hidup putriku. Padahal dia termasuk orang yang sangat menjaga kesehatannya,” raung Belinda.

Raungan Belinda itu akhirnya mendapat pembenaran di meja bedah. Hasil autopsi menunjukkan, Michelle berada dalam kondisi sehat, tanpa penyakit apa pun. Namun ketelitian dr. Burt terbayar, setelah hasil autopsi menemukan fakta lain yang lolos dari pengamatan polisi. Burt menelepon Douglas untuk melaporkan temuannya itu.

“Aku menemukan sebuah titik kecil di lengan kiri Michelle. Titik yang sangat kecil, sebesar jarum,” paparnya bersemangat. “Saya yakin, ini dilakukan oleh orang yang sangat profesional di bidangnya.”

“Hmmm… ini sungguh menarik. Apakah ada tanda jarum di tempat lain? Apakah mungkin dia seorang pecandu narkoba?” balas Douglas.

“Saya bisa pastikan tidak untuk dua-duanya,” jawab dr. Burt kontan.

Dr. Burt juga menyampaikan rasa herannya atas tingkat kepucatan darah Michelle, setelah yang bersangkutan meninggal. Corak darahnya mengindikasikan dia ditelungkupkan kepalanya oleh seseorang setelah dipastikan tewas. Michelle memang ditemukan mati dengan wajah menghadap bantal. Jelas ini bukan posisi yang ideal jika dia meninggal karena sakit. Dengan semua penjelasan Burt, Douglas akhirnya memutuskan untuk kembali ke TKP dan memerintahkan anak buahnya memeriksa mobil Michelle, menelisik rerumputan, dan ke sudut-sudut lain.

Penyisiran kali ini dilakukan lebih teliti. Hasilnya, ditemukan sebuah kantong sampah yang tanpa sengaja tertinggal oleh truk pengangkut sampah. Setelah diperiksa, isinya beberapa botol obat, jarum, dan kateter. Bagi Douglas, temuan ini dianggap sebagai bukti penting yang tak ternilai. Dia mencoba mencari tahu perihal obat-obatan yang ditemukan itu di internet. Ternyata sejenis obat penenang yang bekerja secara cepat dan hasilnya bisa membuat korban tak sadarkan diri dalam hitungan detik.

Kasus Michelle mulai menampakkan titik terang. Polisi Gainesville kini punya mayat Michelle, sebuah tusukan sebesar jarum, botol kosong bekas obat, serta kateter yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang betul-betul profesional. Kini tinggal menemukan “tangan terampil” yang menginjeksi obat-obatan itu pada Michelle.

Lelaki posesif

Detektif Douglas mulai menginterogasi orang-orang yang dianggap dekat dengan Michelle belakangan ini. Ketika sedang mengusut siapa saja yang suka bolak-balik rumah sakit dan sering ke rumah Michelle, dia mendapatkan “angin segar” dari salah satu tetangga Michelle. Si tetangga mengaku pernah melihat seorang pria di rumah Michelle. Ciri-cirinya: berkulit putih dan memakai kacamata, mirip dengan ciri seorang pria yang tinggal di rumah Jessica Seipel.

Detektif Douglas segera menelepon ibu Michelle, “Dugaan Ibu sepertinya benar. Saya mendapat tanda-tanda putri Ibu dibunuh. Apakah Michelle mengenal seseorang yang bekerja di rumah sakit?”

“Iya. Dia punya teman seorang lelaki muda yang kos serumah dengan teman dekatnya, Jessica,” jawab Belinda setengah kaget. Di benaknya menari-nari wajah Oliver O’Quinn, pria pemalu yang tinggal serumah dengan Jessica.

“Tapi sepertinya dia orang yang dapat dipercaya. Jika tidak, mana mungkin aku mau tinggal satu rumah dengannya?” Jessica menimpali.

Oliver juga tidak punya catatan kriminal apa pun. Dia sudah bercerai dan selama ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak tercintanya. Dia pun bukan tipe orang yang suka menyerempet bahaya atau mau mengambil risiko. Namun ketika polisi mulai mengorek-ngorek kehidupan pribadi Oliver, cerita-cerita menarik mulai muncul. Ibu Michelle menjadi orang pertama yang dihubungi polisi.

Berikutnya Jessica. “Dia mengaku sebagai seorang paramedis EMT dan anggota pemadam kebakaran. Dia pun menceritakan kisahnya ketika menjadi Kapten Air Force. Selain itu, dia juga mengaku sebagai tentara terjun payung yang pernah ditugaskan ke Afganistan. Dia adalah pasukan pertama yang ditugaskan setelah insiden 9/11,” cerita Jessica. “Aku maklum jika dia membual seperti itu. Tubuhnya kecil, sehingga dia ingin menggambarkan dirinya sebesar mungkin.”

Baik Jessica maupun ibu Michelle yakin, sebenarnya Oliver naksir Michelle. “Tapi Michelle bukanlah tipe orang yang menghindar dari orang yang tidak dia sukai. Dia tahu bahwa Oliver menyukainya, tapi dia tetap bersahabat dengannya. Bahkan dia tidak menolak jalan-jalan santai ke taman, ditemani anjing Michelle, Duke,” jelas Jessica. Sebaliknya, “Oliver sangat tertutup. Kadang dia meminjam anjing seseorang agar bisa pergi jalan santai bersama Michelle dan Duke,” sambung Belinda.

Namun lama-kelamaan, hubungan pertemanan itu terasa kian tak sehat, karena Oliver cenderung posesif. Pernah suatu kali Oliver mengaku pada Jessica bahwa dia akan pergi minum kopi bersama temannya, tetapi Oliver tak mau bilang siapa temannya itu. Keesokan harinya Jessica bertanya pada Michelle dan dia mengaku bahwa dia minum kopi dengan Oliver, tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi.

Soal Oliver, Belinda ingat, tiga minggu sebelum kematian Michelle, anaknya sempat curhat. Dia merasa terganggu oleh ulah Oliver yang terlalu agresif. “Dia sering sekali meneleponku, Ma. Empat puluh tiga kali dalam 30 hari. Dia juga sering datang ke tempatku tiba-tiba dan mengikutiku seperti anjing kecil. Aku sungguh takut,” kata Michelle.

Belinda percaya, kemungkinan besar Michelle cerita pada Oliver tentang keseriusan hubungannya dengan Jason, kekasihnya. Mungkin inilah yang membuat rasa cemburu Oliver mencuat. Mungkin juga karena dia frustrasi menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikirannya, “Mengapa bukan aku? Aku sering berjalan ke taman bersama dengan anjingmu. Aku juga sering bertemu denganmu untuk minum kopi. Aku juga telah membantumu mengerjakan tugas kuliahmu? Mengapa?”

Polisi percaya, Oliver O’Quinn, pria kesepian dengan cinta yang tak terbalas, pergi ke rumah Michelle, berbekal jarum suntik dan zat kimia berbahaya yang dicuri dari rumah sakit tempat Oliver bekerja. Lalu jussss, menyuntikkannya pada Michelle.

Membina hidup baru di Irlandia

Douglas mencoba menghubungi Oliver lima hingga enam kali dalam sehari, tapi tidak dijawab. Akhirnya dia berinisiatif langsung menanyai Oliver di rumah sakit tempatnya bekerja. Tanpa kesulitan, dia mendapati Oliver di ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Dengan santai, Doughlas menyambanginya.

“Halo, Oliver. Saya Detektif Douglas. Apa kau tak pernah merasa ingin tahu mengapa polisi terus-terusan meneleponmu dan berkata ‘Saya ingin bicara denganmu sekarang juga’?”

Oliver, tak kalah santai menukas: “Oh, yah? Kenapa?”

“Saya ingin mengobrol denganmu tentang kematian Michelle Herndon.”

“Ya, aku tahu itu.”

“Tolong temui aku besok di kantor polisi,” pinta Douglas.

“Oke!” sahut Oliver.

Meski berharap banyak atas kedatangan Oliver, Douglas tidak terkejut ketika keesokan harinya Oliver tidak datang menemuinya. Dia pun bergegas pergi mengunjungi rumah Oliver di Tennesse. Sayang, incarannya ternyata sudah tidak ada di sana. Yang tersisa hanya ayah Oliver, Beecher O’Quinn.

“Apa reaksi Oliver ketika datang ke sini? Apakah dia merasa bahagia? Apakah dia sedang sedih? Apa dia kerasan atau malah ingin pergi? Apa dia akan kembali ke Florida?” tanya Douglas berurutan.

“Tidak, dia hanya bilang bahwa dia sedang suntuk dan sedikit depresi,” jawab Beecher. “Lalu kutanya, ‘Oh, yah? Apa yang membuatmu depresi, Nak?’ Dia menjawab, orang yang dia sukai mati karena overdosis narkoba.”

Douglas kemudian menghubungi FBI untuk meminta bantuan. Sayang, lagi-lagi mereka terlambat. Hasil pelacakan terhadap paspor Oliver menunjukkan, dia telah kabur ke Irlandia, pada tanggal 29 November 2005. Oliver O’Quinn, tersangka pembunuhan Michelle Herndon berhasil kabur ke tempat “aman”, karena Irlandia dan Amerika Serikat tidak menjalin kerja sama ekstradisi untuk saling bertukar penjahat. Polisi Irlandia menolak menyerahkan Oliver ke Amerika Serikat, tapi mereka sedia membantu mengawasi tindak-tanduk Oliver di negeri barunya.

Oliver sendiri tampaknya benar-benar bertekad menempuh hidup baru di Irlandia, dengan menyewa kamar di sebuah losmen di Dublin, lalu membeli telepon genggam, bahkan melamar kerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Irlandia. Untuk sesaat, dia berhasil mengaburkan masa lalunya.

Douglas yang geram tidak tinggal diam. Tadinya dia berencana langsung pergi ke Irlandia, menyergap Oliver. Namun dia dan Belinda akhirnya sepakat menyiapkan cara lain yang lebih “cerdas”, yakni menulis kisah Oliver, berikut kasus pembunuhan yang dituduhkan kepadanya di sejumlah media massa Irlandia. Di tulisan itu, ciri-ciri Oliver diungkapkan dengan sangat jelas. Tujuannya agar Oliver merasa tak lagi nyaman tinggal di Irlandia, lalu pindah ke negara lain yang punya perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat.

Dorr! Cara ini berhasil. Setelah lama ditunggu, pada Juni 2006, datang berita menggembirakan dari salah satu belahan dunia. Oliver muncul di kedutaan Amerika Serikat di Mauritania. Kabarnya, dia hendak mengambil kiriman uang. Keberadaan tersangka pembunuh Michelle itu terungkap setelah dia menunjukkan paspornya kepada petugas di sana. Padahal, paspor Oliver sudah masuk ke dalam daftar “paspor bermasalah” di jaringan polisi internasional. Ketika petugas bilang, “Apakah Anda bisa kembali nanti untuk menyelesaikan masalah paspor Anda?” Oliver terlihat ketakutan.

Dia kemudian kabur ke Senegal, Afrika. Sungguh pilihan bodoh, karena orang-orang di sana justru banyak yang kenal Michelle berkat aktivitas sosialnya. Kebetulan, Pemerintah Senegal memiliki perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat. Jadilah Oliver ditangkap dan diterbangkan ke Amerika Serikat. Berakhir pula dua tahun petualangan lelaki yang bakal didakwa dengan pembunuhan tingkat pertama ini.

Janji yang tak pernah ditepati

Di pengadilan, jaksa James Colaw dan Tim Browning berhasil memojokkan Oliver dengan bukti-bukti dan logika yang ada. “Biasanya dia menelepon korban 43 kali sebulan. Tetapi, pada 9-12 November 2005 dia tidak pernah menelepon lagi karena dia tahu orang yang dia telepon sudah tidak ada lagi di dunia ini,” kata James.

Sedangkan Jessica dalam kesaksiannya mendeskripsikan Oliver sebagai orang yang tidak punya teman atau teman kencan. Oliver pernah menyebut Michelle sebagai “seseorang yang sungguh menarik hati dan tak pernah dia temui sebelumnya.”

Persidangan juga mendengarkan kesaksian Jason, pacar Michelle, yang mengaku sudah sepakat dengan kekasihnya untuk menatap hari depan lebih serius, setidaknya dalam waktu dekat mereka akan bertunangan. Hal itu dikuatkan oleh Belinda, ibu Michelle.

“Michelle juga tak sabar ingin memberitahukan kepada setiap orang kabar baik itu. Saat meninggal, dia sedang berada di puncak kebahagiaan.”

Versi jaksa penuntut umum, ketika Michelle menceritakan kabar baik itu kepada Oliver, Oliver sangat cemburu. Itu sebabnya, dia nekat menyuntikkan injeksi mematikan kepada Michelle. Injeksi itu tidak bisa dilakukan sembarang orang. “Orang yang melakukannya harus memiliki keahlian tinggi,” ujar dr. Martha Burt. Hal itu cocok dengan kualifikasi Oliver yang pekerja medis.

Hanya ayah Oliver, Beecher O’Quinn yang bersaksi meringankan. Dia mengaku, “Saya tidak mengatakan apa pun tentang pacar Oliver maupun overdosis. Pun dia tidak mengatakan pacarnya mati karena overdosis.” Keterangan ini bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya kepada Douglas.

“Apakah Anda mengerti bahwa Anda berada dibawah sumpah? Jawablah dengan jujur,” kejar Jaksa.

“Saya tidak ingat itu. Anakku tidak pernah mengatakan hal itu ketika dia pulang ke rumah. Jika dia mengatakannya, tentu aku sudah menelepon polisi setempat untuk melaporkannya.”

Sementara itu, mantan istri Oliver, Stacy, di pengadilan menjelaskan, sekitar akhir November 2005 Oliver mengunjungi dia dan anaknya. Dia bilang akan bepergian selama dua minggu, tetapi berjanji akan mengajak mereka jalan-jalan setelah kembali. Janji yang tak pernah ditepati.

Hanya ada satu pertanyaan yang tak terjawab di pengadilan, bagaimana caranya Oliver bisa menyuntik Michelle tanpa perlawanan? Para penyidik sendiri punya teori: Oliver meyakinkan Michelle bahwa dia akan menyuntikkan obat penyembuh migrain, meski yang dia suntikkan justru sebaliknya, obat penenang dalam dosis empat kali lebih tinggi daripada yang sewajarnya.

Kini, tak ada lagi tempat bagi Oliver untuk mempraktikkan keahliannya menyuntik. Juri mengganjarnya hukuman penjara seumur hidup, tanpa remisi!

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *