Ayatullah Khamenei Wafat, Dosen FIB Unhas: Ujian dan Momentum Iran

Nurlela Rasyid
7 Min Read

Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran dan Dampaknya terhadap Rakyat

Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menjadi pukulan berat bagi warga negara Iran. Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat pada hari Sabtu (28/2/2026) waktu Iran. Peristiwa ini menimbulkan rasa sedih dan kehilangan di kalangan masyarakat Iran, karena tokoh tersebut adalah figur yang sangat dicintai.

Dosen Koordinator Iranian Corner Universitas Hasanuddin (Unhas), Supratman Supa Athana, menyatakan bahwa kematian Ayatollah Ali Khamenei memiliki dampak besar terhadap rakyat Iran. Sebagai peristiwa kemanusiaan, tentu saja rakyat Iran merasa sedih. Mereka kehilangan tokoh yang mereka cintai. Namun, sebagai sebuah bangsa, Iran pastinya akan menghadapi ini sebagai tantangan untuk menjaga wibawa dan kedaulatan negara mereka.

Respon dari pemerintah Iran diperkirakan akan diberikan dengan cukup bijak. Mereka tidak akan terjebak dalam suasana yang membuatnya lemah. Supratman menyampaikan bahwa peristiwa ini seharusnya menjadi spirit dan kekuatan baru untuk menunjukkan bahwa Iran adalah sebuah bangsa yang secara komunitas dan sosial melakukan regenerasi yang baik dalam negara mereka sendiri.

Menurut Supratman, Iran pasti telah menyiapkan pengganti Ayatollah Ali Khamenei. Rakyat Iran tetap akan mempertahankan dan memperjuangkan bentuk negara mereka, yaitu negara Islam. Bahwa Amerika dan Israel telah menyerang mereka dan berhasil mensyahidkan pimpinannya, itu sama sekali tidak memberikan efek yang membuat mereka ketakutan, panik, atau kehilangan arah.

Faktor yang Membuat Rakyat Iran Tetap Solid

Supratman menyebut dua faktor utama yang membuat rakyat Iran tetap bersatu dan kuat pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Pertama, ideologi Islam yang dianut oleh masyarakat Iran. Mereka mempercayai bahwa hasil ijtihad dari Imam Khomeini dulu yang membentuk pemerintahan Islam Iran merupakan perpanjangan tangan atau perwujudan dari konsep kepemimpinan kenabian (nubuwwah).

Jadi Republik Islam Iran yang disebut pemerintahannya sebagai pemerintahan Wilayatul Faqih atau pemerintahan kaum ulama, dipandang sebagai representasi falsafah kepemimpinan kenabian. “Jadi itu yang dipahami oleh rakyat Iran yang membuat ikatan spiritual dan emosional semakin kuat bagi masyarakat Iran,” katanya.

Kedua, ungkap dia, Iran memiliki sejarah panjang sebagai sebuah bangsa yang besar. Sebagaimana diketahui, Iran salah satu peradaban kuno tertua. Peradabannya unggul sejak dahulu kala. Orang-orangnya juga memiliki kapasitas dan kemampuan yang sangat mumpuni, sehingga banyak lahir pemikir-pemikir Islam dari bangsa-bangsa Persia.

“Jadi Bangsa Persia ini memang secara apa kesukuan itu adalah bangsa yang terpilih, bangsa yang memiliki sejarah yang sangat besar,” ungkapnya.

Pemimpin Selanjutnya

Kursi Pemimpin Tertinggi Iran saat ini kosong pasca meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei. Pemimpin Tertinggi ini memegang kedudukan tertinggi dalam struktur politik dan agama Republik Rakyat Iran. Jabatan Pemimpin Tertinggi sementara dijalankan oleh Presiden Iran, Ketua Pengadilan, dan anggota Dewan Wali Iran.

Ayatollah Ali Khamenei sendiri disebut jauh sebelum meninggal dunia telah menyiapkan empat figur sebagai penerusnya. Salah satu paling mencuat adalah putra dari Rahimahullah Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei. Nama Mojtaba beberapa kali disebut dalam berbagai spekulasi politik internal Iran sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan serta pemahaman mendalam terhadap sistem Wilayatul Faqih.

Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi terkait siapa yang akan ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya.

Kriteria Ideal untuk Pemimpin Tertinggi Berikutnya

Supratman menyampaikan bahwa figur yang ideal untuk Iran saat ini tak jauh beda dengan profil Ayatollah Ali Khamenei. Sosok tersebut harus mempunyai kapasitas sebagai ahli strategi, terutama dalam konteks militer. Pasalnya, Iran berada dalam dinamika geopolitik yang kompleks, dengan konfrontasi militer yang beberapa kali terjadi di kawasan Timur Tengah.

Gejolak gencatan senjata sangat tinggi, bahkan nyaris sepanjang tahun berlangsung. “Jadi dia (Pemimpin Tertinggi Iran selanjutnya) punya kemampuan strategi militer,” katanya.

Dia melanjutkan, Iran pemerintahan Wilayatul Faqih dan Rahbar sebagai representasi dari pemimpin umat. Maka, kemampuan pemahaman keislamannya, akhlaknya, itu harus diakui dan teruji dari berbagai aspek. Selain itu, calon Pemimpin Tertinggi Iran itu harus punya wawasan global. Memahami perkembangan dunia digital dan ekonomi modern.

Isu-isu seperti transformasi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga dinamika ekonomi global dinilai menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi oleh kepemimpinan selanjutnya. “Wacana-wacana seperti itu juga harus dikuasai oleh calon pemimpin Iran selanjutnya,” jelasnya.

Dampak Berkepanjangan terhadap Dinamika Geopolitik

Supratman memperkirakan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei membawa dampak signifikan terhadap dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Apalagi, pernyataan-pernyataan keras yang sempat disampaikan Ayatollah Ali Khamenei semasa hidupnya dinilai masih akan memengaruhi arah kebijakan Iran ke depan.

Sebelum wafat, Ayatollah Ali Khamenei pernah menegaskan bahwa pihak lawan mungkin memulai perang, tetapi Iran yang akan menentukan akhir dari peperangan tersebut. Pernyataan itu kini kembali disorot sebagai bagian dari doktrin strategis Iran dalam menghadapi tekanan eksternal.

“Pernyataan ini berarti Iran masih menganggap masalah ini belum baik bagi kepentingan umat Islam dan kepentingan masyarakat global internasional, maka Iran akan melanjutkan ini,” kata Supratman.

Ia menyebut, perjuangan Iran bukan sekadar perjuangan atas nama bangsa dan negaranya sendiri. Melainkan, perjuangan etik global yang menjadi panutan seluruh bangsa dan negara di muka bumi. Jika dilihat, Iran sebenarnya sangat patuh terhadap norma atau hukum internasional. Sebab, Iran menganggap kemenangan bukan semata menang militer dan sebagainya.

Ada pesan etik, pesan moral yang ingin disampaikan dan Iran sangat paham betul, bahwa dunia ini dikuasai oleh kekuatan imperialis, kekuatan tiran. Maka itu yang sebetulnya dilawan. “Pada dasarnya yang dilawan Iran kekuatan tirani itu. Bahwa ada yang menguasai dunia secara semena-mena, ada kekuasaan yang tidak adil menguasai dunia,” terangnya.

“Jadi etika berbangsa dan bernegara di muka bumi ini harus dijalankan berdasarkan keadilan, berdasarkan pesan-pesan islami, pesan-pesan Alquran,” tambah Sekretaris Bidang Hubungan Internasiona Pengurus Pusat Ikatan Alumni Unhas ini.

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *