Presiden AS Mengklaim Persediaan Amunisi “Hampir Tak Terbatas”
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan bahwa operasi militer terhadap Iran direncanakan berlangsung selama empat hingga lima minggu. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa stok amunisi AS sangat kuat dan bahkan menyebutnya sebagai “hampir tak terbatas.” Trump juga menyatakan bahwa perang bisa dijalankan dalam waktu lama dengan sukses.
Namun, analis militer memberikan pandangan yang lebih realistis. Mereka menyoroti bahwa beberapa jenis amunisi penting, seperti rudal pencegat THAAD dan Patriot, mulai menipis. Produksi ulang sistem ini tidak hanya rumit tetapi juga membutuhkan biaya yang sangat tinggi, sehingga dapat mengurangi efektivitas pertahanan AS jika konflik berlarut.
Operasi Militer AS Melibatkan Banyak Sistem Senjata
Menurut laporan dari Komando Pusat AS (CENTCOM), militer AS menggunakan lebih dari 20 sistem senjata dalam operasi militer terhadap Iran. Beberapa senjata yang dikerahkan termasuk pesawat pembom strategis B-1, jet tempur F-22 Raptor, F-35 Lightning II, serta pesawat perang elektronik EA-18G Growler. Di darat, sistem artileri jarak jauh HIMARS dan rudal jelajah Tomahawk digunakan.
Untuk pertahanan, AS mengaktifkan sistem rudal Patriot, baterai anti-rudal THAAD, dan pesawat pengawas AWACS. Dua kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, juga dikerahkan ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari dukungan logistik dan serangan.
Pengalaman Perang 12 Hari Antara Iran dan Israel
Pengalaman perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025 menjadi pelajaran penting. Ketika itu, AS menembakkan lebih dari 150 rudal pencegat THAAD untuk menahan serangan rudal Iran, yang menguras sekitar 25 persen dari total cadangan sistem tersebut.
Analis militer memperingatkan bahwa jika konflik AS–Iran berlanjut dengan intensitas tinggi, maka stok amunisi presisi seperti JDAM, serta sistem pencegat seperti SM-3, Patriot, dan THAAD bisa menjadi titik lemah utama. Produksi ulang sistem THAAD kompleks dan membutuhkan waktu berbulan-bulan, dengan biaya satu baterai mencapai hingga 1,8 miliar dolar AS.
Risiko Jika Stok Senjata Menipis
Christopher Preble dari Stimson Center menegaskan bahwa meskipun secara finansial AS mampu mendanai perang, kendala utama justru terletak pada ketersediaan senjata. Ia menyoroti bahwa rudal pencegat seperti Patriot dan SM-3, serta amunisi pintar seperti JDAM, tidak bisa diproduksi secara massal dengan cepat.
“Kecepatan penggunaan saat ini tidak bisa dipertahankan terus-menerus,” tegas Preble. Ia menekankan bahwa rudal-rudal pencegat dan amunisi pintar seperti JDAM tidak bisa diproduksi massal secara cepat.
Ketimpangan Produksi Rudal
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui bahwa Iran mampu memproduksi sekitar 100 rudal setiap bulan, sementara AS hanya bisa membangun 6 hingga 7 pencegat dalam periode yang sama. Ketidakseimbangan produksi ini disebutnya sebagai ancaman nyata terhadap kesiapan militer AS jika perang berlarut.
Selain itu, para ahli menyoroti ketimpangan biaya sebagai faktor krusial. Rudal pencegat AS seperti THAAD dan Patriot bernilai ratusan ribu hingga jutaan dolar per unit, sementara rudal-rudal yang diluncurkan Iran bisa diproduksi jauh lebih murah.
Potensi Kekalahan dalam Konflik Intens
Dalam konflik intens seperti ini, jumlah lebih menentukan daripada kualitas semata. Tanpa solusi logistik seperti peningkatan kapasitas produksi atau bantuan dari mitra aliansi, militer AS bisa menghadapi situasi genting.
Risiko ini akan semakin besar jika konflik berkembang menjadi multi-front war, seperti kemungkinan ketegangan di Asia atau Eropa Timur. Preble memperingatkan bahwa penurunan stok rudal pencegat akan berdampak langsung pada efektivitas pertahanan AS, terutama dalam menghadapi serangan beruntun dan terkoordinasi.
Evaluasi Strategis dan Solusi Logistik
Situasi ini membuka kemungkinan bahwa serangan Iran di masa mendatang bisa menembus sistem pertahanan AS dan sekutunya. Dengan eskalasi yang belum menunjukkan tanda mereda, para analis mendorong adanya evaluasi strategis terhadap rantai pasok senjata, serta penjadwalan ulang distribusi amunisi antar front.
Jika tidak ditangani segera, Amerika Serikat berisiko terjebak dalam perang yang tidak hanya mahal secara ekonomi, tapi juga melemahkan posisi militernya di panggung global.