Hasto Kristiyanto di CALD: Partai Sebagai Benteng Lawan Populisme Otoriter

Nurlela Rasyid
4 Min Read



Filipina – Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menjadi pembicara utama dalam forum internasional Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) yang berlangsung di Makati, Filipina, pada Jumat (27/3). Dalam sesi dengan tema “The Institutionalization of Political Parties, Resilience, and Strategic Campaigns”, ia menjelaskan bagaimana institusionalisasi organisasi menjadi kunci utama bagi sebuah partai politik untuk bertahan menghadapi guncangan kekuasaan.

Di hadapan para delegasi internasional, Hasto menyampaikan penjelasan tentang fenomena ambisi kekuasaan yang ia sebut sebagai Triangle of Authoritarian Populism atau Segitiga Populisme Otoriter. Berdasarkan penelitian disertasinya di Universitas Indonesia, ia menjelaskan bahwa segitiga ini dibangun di atas tiga pilar utama: feodalisme, populisme, dan Machiavellianisme.

“Segitiga ini memanfaatkan penyalahgunaan kekuasaan dan sumber daya negara untuk menciptakan persaingan elektoral yang tidak seimbang,” ujar Hasto.

Ia menuturkan bahwa PDI Perjuangan telah diuji oleh model kekuasaan ini pada Pemilu 2024. Menurut Hasto, meskipun harus menghadapi tekanan sistematis mulai dari mobilisasi bantuan sosial dan program populis lainnya yang mencapai sekitar USD 31 miliar atau sekitar Rp490 triliun hingga intimidasi aparat penegak hukum yang menjangkau level pedesaan, partainya tetap bertahan dan keluar sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2024.

“Inilah bukti nyata dari resiliensi atau daya tahan partai yang telah terinstitusionalisasi,” tegasnya.

Hasto juga membandingkan resiliensi politik dengan ketahanan institusi korporasi. Ia mencontohkan bagaimana Citibank mampu bertahan selama ratusan tahun bukan semata-mata karena individu, melainkan karena adanya ideologi inti dan keputusan pemimpinnya untuk melakukan pelembagaan organisasi.

“Maka seorang pemimpin hebat sekalipun, jika dia tidak percaya pada sistem dan tidak melakukan pelembagaan organisasi, maka kepemimpinannya tidak akan berkorelasi pada ketahanan organisasi tersebut,” jelas Hasto.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan strategis baru akan berdampak nyata jika mampu menggerakkan gerbong institusionalisasi secara menyeluruh. Dalam paparannya, Hasto membedah kunci di balik resiliensi PDI Perjuangan yang bersumber pada kepemimpinan strategis Ketua Umum Megawati Soekarnoputri melalui tujuh indikator utama, yakni berpikir kritis, visi, arahan, nilai-nilai inti, biopolitik, keberpihakan, dan komitmen.

Menurut Hasto, perpaduan antara kepemimpinan strategis dan institusionalisasi partai memungkinkan PDI Perjuangan memiliki sifat fleksibel, adaptif, dan kapasitas bertahan hidup yang tinggi dalam menghadapi berbagai guncangan internal maupun eksternal.

Dalam forum yang dihadiri oleh tokoh politik seperti Florencio “Butch” Abad dari Filipina dan Sekretaris Jenderal Singapore Democratic Party Chee Soon Juan, Hasto menegaskan bahwa kemunduran demokrasi global kerap dimulai dari pelanggaran norma-norma tidak tertulis oleh pemimpin yang dipilih secara demokratis.

“Ketika seorang pemimpin melakukan kekerasan melalui ancaman, intimidasi, penyebaran ketakutan, dan bahkan kekuatan fisik untuk memaksakan kehendak mereka, pemimpin tersebut cenderung hanya melakukan justifikasi atau pembenaran atas setiap keputusan kebijakan,” ujar Hasto.

Ia menutup paparannya dengan mengutip pesan Bung Karno pada 1965: “For fighting a nation, the journey never ends.” Ia mengatakan pesan itu menekankan bahwa institusionalisasi partai adalah misi tanpa henti untuk menjaga marwah demokrasi dan kedaulatan rakyat.

“Resiliensi partai bersumber dari semangat juangnya untuk menghadapi pemimpin yang ingin menghancurkan demokrasi,” pungkasnya.

Sesi pembukaan forum CALD diawali dengan sambutan dari Chairperson CALD yang juga Senator Kamboja, Mardi Seng, bersama Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo “Erin” Tañada III, serta perwakilan Friedrich Naumann Foundation, Almut Besold. Forum ini juga menayangkan pesan video khusus dari Presiden Timor Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta, serta pidato kunci dari Senator Filipina, Francis “Kiko” Pangilinan.

Dalam diskusi panel, Hasto berbagi panggung dengan mantan Menteri Anggaran Filipina, Florencio “Butch” Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party, Chee Soon Juan, dengan moderator Editor-at-large Rappler, Marites Vitug. Delegasi lain yang turut hadir memberikan perspektif antara lain Lee Boon Shian dari Malaysia, James Gomez dari Asia Centre, dan V Srivarathanabul dari Partai Demokrat Thailand.

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *