Banjir Selutut Pecahkan Kebahagiaan Lebaran di Cilangkap

Hartono Hamid
5 Min Read

Suasana Lebaran Berubah Menjadi Kekacauan Akibat Banjir

Lebaran tahun ini, yang biasanya penuh dengan tawa dan aroma masakan khas, justru berubah menjadi kepanikan bagi warga di kawasan Jakarta Timur. Banjir setinggi 30-40 sentimeter datang tepat pada momen hari raya, mengguncang keharmonisan keluarga.

Seno Haryanto (37), seorang warga yang tinggal di Jalan Artha Kencana, Gang Mukhtar, Cilangkap, Cipayung, tidak menyangka akan mengalami hal tersebut. Ia sudah lima tahun tinggal di sana, namun baru dua kali mengalami banjir. Namun, banjir kali ini terasa lebih parah dibandingkan sebelumnya.

“Selama saya tinggal di sini, baru dua kali banjir, ini yang paling parah,” ujar Seno. Ia mengatakan bahwa air yang masuk hampir sedengkul, merendam seluruh isi rumah tanpa sempat diselamatkan.

Dalam situasi darurat, ia memilih menyelamatkan keluarga terlebih dahulu. Bersama istri dan bayi berumur delapan bulan, Seno mengungsi ke rumah kerabat yang berada di tempat lebih tinggi. Keputusan itu harus diambil dalam hitungan menit.

“Enggak sempat evakuasi barang, selamatin diri aja dulu, urusan rumah belakangan,” katanya. Akibatnya, hampir seluruh perabot rumah tangga rusak, mulai dari kasur, pakaian, hingga peralatan elektronik seperti kulkas dan mesin cuci tak bisa lagi digunakan.

Ia bersyukur kebutuhan makanan Lebaran masih ada. Meski begitu, rasanya sedih karena musibah ini terjadi setelah merayakan Lebaran dengan sederhana. Seperti kebanyakan warga lain, keluarga Seno menyiapkan hidangan khas seperti ketupat, rendang, dan opor ayam.

“Rasanya sedih banget, habis Lebaran dikasih musibah ini, buat kenangan seumur hidup,” kata Seno lirih.

Warga menduga banjir dipicu oleh meluapnya air yang tidak tertampung, termasuk dari waduk di sekitar wilayah tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan adanya sistem buka-tutup pintu air, bahkan dugaan kerusakan area penampungan air. Kondisi tersebut membuat mobilitas warga menjadi sangat terbatas.

Kini, harapan besar disampaikannya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia meminta perhatian serius terhadap sistem drainase dan penanganan banjir, khususnya di wilayah pinggiran Jakarta Timur yang dinilai masih kurang tersentuh.

“Pemerintah tolong diperbaiki saluran airnya, kasihan warga di bantaran kali, jangan cuma kota yang diperhatikan,” katanya. Ia juga menyoroti lambatnya respons di tingkat lokal saat banjir terjadi. Meski sempat ada petugas yang datang pada malam hari, ia berharap ke depan penanganan bisa lebih cepat dan terkoordinasi.

Warga Terkejut dengan Ketinggian Air

Warga lainnya, Apfia (31), mengaku terkejut dengan kondisi tersebut. Selama 18 tahun tinggal di Cilangkap, ia belum pernah menyaksikan banjir dengan ketinggian seperti yang terjadi baru-baru ini. Kini, air telah surut sejak Minggu pagi tadi.

Menurutnya, keberadaan waduk yang seharusnya menjadi penampung debit air belum mampu berfungsi optimal. “Di sini ada dua waduk, Waduk Agro dan waduk di belakang Batu Licin, tapi semalam tetap tidak mampu menahan air,” kata Apfia. Penyebab tidak optimalnya fungsi waduk tersebut belum diketahui secara pasti. Apfia menduga kemungkinan adanya kebocoran atau faktor teknis lain yang membuat kapasitas tampung tidak maksimal.

Selain waduk, Apfia juga menilai sistem drainase di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian serius. Ia berharap adanya perbaikan saluran air serta peningkatan area resapan agar air hujan dapat terserap dengan lebih baik. “Semoga saluran air diperbaiki dan resapannya diperbanyak, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” tuturnya.

Resmikan Waduk Giri Kencana

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Waduk Giri Kencana di Jalan Giri Kencana RW 06 Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026). Pramono meyakini, kehadiran Waduk Giri Kencana bisa menangani genangan maupun banjir di wilayah Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur.

“Di awal saya menjadi Gubernur, salah satu perhatian utama adalah banjir. Dan sekarang ini ada yang seperti ini kurang lebih kita bangun berapa jumlahnya, di Timur ada delapan (waduk yang dibangun),” kata Pramono. Ia sudah bertanya kepada warga sekitar setelah waduk itu jadi apakah masih ada genangan atau banjir di tempat tinggalnya.

Waduk tersebut selesai dibangun sejak 15 Desember 2025 dan selama musim hujan serta belum diresmikan, tidak ada genangan maupun banjir. “Dengan kapasitas waduk yang 92.000, kedalamannya 6 meter, kemudian juga digunakan ada jogging track, ada lapangan basket, ada mushola, dan sebagainya, ini berdampak sangat positif bagi masyarakat,” tegas Pramono.

Orang nomor 1 di Jakarta itu berharap, tidak ada lagi genangan maupun banjir di wilayah Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur. Ia meminta kepada Dinas SDA DKI untuk segera selesaikan pembangunan waduk di Jakarta supaya bisa mengatasi banjir dan genangan.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *