Bencana Tanah Longsor di Pemalang dan Cilacap
Tanah longsor kembali terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Pemalang dan Cilacap, Jawa Tengah, akibat curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Kejadian ini menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi yang cukup besar.
Bencana di Desa Jojogan, Kecamatan Watukumpul
Pada Jumat (6/2/2026), bencana tanah longsor terjadi di Desa Jojogan, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tebing perbukitan di belakang rumah warga runtuh dan menimpa sebuah rumah. Dalam kejadian tersebut, Ibu dan anak menjadi korban. Sang ibu, Yuliati (37) berhasil diselamatkan, tetapi anaknya, Kiki Puji Yuliani (9), dinyatakan meninggal dunia.
Kiki adalah siswa SDN 03 Jojogan. Menurut Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana, kejadian berlangsung begitu cepat sehingga korban tidak sempat menyelamatkan diri. Material tanah longsor menutup akses jalan dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia.
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, memimpin doa bersama untuk Kiki dalam acara pembukaan Pesta Siaga Kwarcab Pemalang 2026. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati, Nurkoles; Ketua Kwarcab Pemalang, Sukarso; serta perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Dalam arahannya, Anom menyampaikan rasa duka atas musibah yang menimpa Kiki. Dia mengajak semua peserta acara untuk menundukkan kepala dan berdoa bagi korban.
Penanganan Darurat dan Kerusakan
Berdasarkan laporan dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopincam) Watukumpul, tanah longsor terjadi sekitar pukul 16.30. Tebing perbukitan di belakang rumah Puji Purwanto runtuh dan menimpa rumah. Material tanah longsor juga menutup akses jalan penghubung antara Desa Jojogan dan Desa Cikadu.
“Material tanah longsor yang menutup akses jalan telah dibersihkan secara gotong royong oleh personel kepolisian bersama personel TNI dan warga setempat,” kata Kapolres Pemalang.
Dalam sepekan terakhir, wilayah Kecamatan Watukumpul diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Pada hari kejadian, hujan deras mulai turun sejak pukul 13.30 dan berlangsung tanpa henti hingga sore hari. Saat longsor terjadi, Yuliati dan anaknya sedang berada di dalam rumah.
Warga sekitar melakukan evakuasi secara manual dengan peralatan seadanya. Kedua korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke Puskesmas Watukumpul. Namun, Kiki dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan. Sementara itu, Yuliati masih menjalani perawatan intensif akibat mengalami patah tulang.
Selain menelan satu korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan kerusakan berat pada rumah korban. Kerugian material ditaksir mencapai sekitar Rp 130 juta.
Bencana di Cilacap
Sementara itu, hujan yang mengguyur wilayah selatan Cilacap sejak siang hingga sore hari memicu tanah longsor di Dusun Karangmangu, Desa Cibalung, Kecamatan Cimanggu, Kamis (5/2/2026). Longsor terjadi sekitar pukul 16.00 akibat hujan intensitas sedang hingga lebat yang berlangsung cukup lama di wilayah perbukitan bagian atas Desa Cibalung.
Material longsor berasal dari tebing setinggi sekitar 15 meter dengan kondisi tanah labil yang runtuh dan menutup akses Jalan Desa Cibalung-Karangsari. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi, kontur tanah yang tidak stabil, serta limpasan air dari saluran tebing atas yang tidak terkendali.
“Curah hujan yang berlangsung berjam-jam membuat tanah menjadi jenuh air, ditambah saluran limpasan yang tidak tertata sehingga tebing tidak mampu menahan beban,” ujar Taryo, Jumat (6/2/2026).
Akibat kejadian tersebut, rumpun bambu sepanjang kurang lebih 10 meter ikut terbawa longsor dan menimpa badan jalan desa. Ruas jalan desa sempat tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat sehingga aktivitas warga terganggu.
Meski demikian, Taryo memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tanah longsor tersebut. “Alhamdulillah tidak ada korban, namun akses jalan tertutup dan perlu penanganan cepat agar mobilitas warga kembali normal,” katanya.
Sebagai langkah darurat, BPBD bersama UPTD PKBD Majenang, Forkopimcam Cimanggu, pemerintah desa, dan masyarakat langsung melakukan pengecekan lokasi sekaligus kerja bakti penanganan longsor. Sekitar 100 warga dari dua desa sekitar turut bergotong royong membersihkan material tanah dan bambu menggunakan peralatan seadanya.
Taryo mengatakan, BPBD mencatat taksiran kerugian akibat kejadian tanah longsor tersebut mencapai sekitar Rp 5 juta. BPBD juga memberikan bantuan permakanan untuk menunjang kegiatan kerja bakti serta bantuan stimulus berupa kantong kandi.
Selain itu, petugas memasang rambu peringatan bahaya dan mengimbau pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan karena kondisi jalan masih licin dan berada di tanjakan terjal.