Mengungkap Kenyataan Talent Disabilitas di Dunia Musik: Stigma dan Bisnis

Lani Kaylila
5 Min Read



JAKARTA,

Hari Disabilitas Internasional dan Perjalanan Musisi Disabilitas di Indonesia

Pada 3 Desember, dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional. Momentum ini menjadi kesempatan untuk merayakan pencapaian dan menegaskan pentingnya hak atas kesempatan yang setara. Di Indonesia, industri hiburan telah menyaksikan munculnya bakat-bakat luar biasa dari kalangan disabilitas. Namun, perjalanan mereka menuju puncak industri seringkali dihadapkan pada dua realitas yang berbeda: stigma yang masih ada dan pertimbangan bisnis yang pragmatis.

Realitas di Lapangan dan Perjuangan Melawan Stigma

Salah satu contoh nyata adalah I’m Star, sebuah band berprestasi yang terdiri dari lima anggota autistik. Mereka telah mencatatkan rekor MURI, tampil di Istana Negara, hingga menghibur penonton di festival Hong Kong. Namun, menurut pendiri I’m Star, Dewi Semarabhawa, profesionalisme mereka seringkali terhambat oleh cara pandang industri.

“Kita mau masuk ke umum itu agak sulit ya. Karena label mereka mungkin ya,” ujar Dewi. Ia menilai bahwa industri masih cenderung mencari narasi yang menimbulkan rasa kasihan, bukan mengapresiasi karya secara utuh.

“Sulitnya lagi nih, kadang-kadang, untuk kalangan umum, mengajak kalangan disabilitas untuk ikut tampil itu lebih untuk menampilkan rasa kasihan. Umum masih senang melihat yang, apa ya, kalau kami bilang tuh yang memelas gitu ya,” tambahnya.

Empat Elemen Kunci Menurut Pakar Industri

Menurut Wawan AEC, seorang praktisi dan akademisi bisnis musik, empat komponen utama yang dicari oleh industri adalah Talent, Artist Quality, Hits, dan Uniqueness.

  1. Talent: Bukan sekadar soal penampilan, tetapi memiliki skill dengan karakter yang kuat.
  2. Artist Quality: Kualitas “aura bintang” yang tidak terkait dengan kondisi atau kedisabilitasan seseorang.
  3. Hits: Lagu yang sesuai dengan selera pasar.
  4. Uniqueness: Keunikan yang harus diramu dengan baik oleh para praktisi.

Namun, di era modern, faktor yang paling menentukan adalah Popularitas. Wawan mencontohkan Putri Ariani, musisi disabilitas asal Indonesia yang namanya melejit setelah sukses di America’s Got Talent 2023.

“Kenapa si Putri itu bisa naik? Karena kan dia populer, naik gara-gara si America’s Got Talent (AGT). Itu kan trigger-nya. Sebelum ada itu, walaupun dengan skill-nya dia seperti itu, belum banyak yang nengok kan?” ujarnya.

Produser Musik Sepakat dengan Logika Bisnis

Produser musik Ronny Irawan sepakat dengan logika bisnis ini. Baginya, industri selalu terbuka bagi siapa saja yang bisa menawarkan produk yang kuat.

“Syarat utama agar bisa laku di pasar itu satu: profesionalisme dalam arti luas,” tutur Ronny. “Itu bukan cuma skill musik yang hebat, tapi juga branding, cara mereka terkoneksi dengan audiens, dan etos kerja.”

Mendobrak Mitos ‘Tidak Ada Kesempatan’

Lantas, bagaimana cara membangun popularitas jika merasa tidak diberi kesempatan oleh industri? Wawan menepis anggapan tersebut. Menurut dia, era digital telah mendemokratisasi industri musik.

“Agak kurang setuju saya bahwa kalau teman-teman yang disabilitas itu susah naik karena enggak ada kesempatan. Enggak, sekarang tuh semua demokratis banget,” ucapnya.

Ronny Irawan menyarankan para talenta untuk berani menunjukkan karyanya secara mandiri dengan strategi yang tepat.

“Berani aja upload karya mereka di media, bikin branding-an yang bagus, jangan menjual kesedihan dan kekurangan, tapi justru jual karyanya, musikalitasnya,” saran Ronny.

Ia menambahkan, fokus pada karya audio ini sangat penting karena pada dasarnya itulah produk utama industri musik, yang membuat kondisi fisik seharusnya tidak menjadi penghalang.

“Kita jualnya produknya audio, bukan visual kan. Mereka mau kekurangan fisik apapun atau, enggak, nggak ngaruh sebetulnya,” ujarnya.

Tanggung Jawab Sistemik yang Tak Boleh Hilang

Meskipun jalan mandiri kini terbuka lebar, bukan berarti para pemangku kebijakan bisa lepas tangan. Komisi Nasional Disabilitas (KND) mengingatkan bahwa memberikan kesempatan yang setara adalah kewajiban yang diamanatkan oleh Undang-Undang.

“Ketika berbicara kesenian, berekspresi, berkreasi itu amanat undang-undang,” ujar Komisioner KND, Jonna Damanik.

Untuk mendorong hal tersebut, Jonna menjelaskan bahwa KND telah mengambil langkah-langkah advokasi yang konkret. Langkah-langkah ini, menurut Jonna, adalah bagian dari advokasi berkelanjutan untuk memastikan pemerintah dan industri benar-benar menjalankan perannya.

Namun, ia juga menekankan adanya partisipasi dari kedua belah pihak. “Untuk industrinya, kami berharap dapat memberikan ruang dan peluang itu dalam konteks kurasi, ya. Bukan karena charity atau apa pun,” kata Jonna.

Di sisi lain, ia juga berpesan kepada para talenta dengan disabilitas. “Terkait teman-teman disabilitas, artinya apa? Perlu juga meningkatkan kapasitas diri, skill maupun soft skill-nya,” katanya.

Akhir Kata

Pada akhirnya, perjalanan musisi disabilitas menuju puncak industri adalah ujian bagi semua pihak. Ini adalah ujian bagi para talenta untuk terus berinovasi dan membangun popularitasnya secara kreatif, juga ujian bagi industri dan negara untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar adil, di mana karya dinilai dari kualitas dan profesionalismenya, bukan dari cerita di baliknya.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *