Kehidupan dan Perjalanan Takdir
Setiap orang hidup dengan jalan takdirnya sendiri. Masing-masing memiliki pergulatan batin, ujian dengan dinamika yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa saling beririsan atau bersinggungan, namun semesta mengatur segalanya dengan cara yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Sejatinya, algoritma kehidupan sangat adil. Setiap takdir yang digariskan dirancang demi kebaikan penerimanya. Meski hal ini jarang disadari, kecuali bagi orang-orang yang mau berpikir. Berat ringannya masalah yang dihadapi, menanjak maupun menurunnya, terjal maupun melandai, semuanya telah ditakar sesuai ukuran masing-masing. Manusia tidak akan dirugikan, justru dikuatkan melalui jalan takdirnya sendiri.
Asalkan bisa menyikapi dengan baik, bersedia bersabar dan berproses. Meskipun tidak mudah menjalani, terlebih memerangi ego. Namun, hikmah kebaikan akan kelak didapatkan.
Kenangan Dari Masa Kecil
Saat masih kecil di kampung halaman, saya pernah memiliki seorang teman senior. Anak dari keluarga yang cukup sejahtera di desa kami. Baju yang ia pakai selalu bagus-bagus, oleh orang tua dibelikan sepeda. Sekolahnya di SD kabupaten, diantar jemput menggunakan mobil roda empat.
Sesekali saya main ke rumahnya, melihat banyak mainan bagus berserakan di lantai. Meskipun dia adik kelas, saya pernah diundang ke pesta ulang tahunnya. Perayaan yang biasanya hanya saya lihat melalui acara TVRI.
Kami anak kampung, hari kelahiran tidak pernah dirayakan. Seumur hidup, orang tua tidak pernah memberi kejutan seperti meniup lilin kepada kami.
Mendapati kejadian di depan mata, saya merasa iri. Enaknya menjadi teman satu ini. Permintaan apa pun dituruti, mainan mahal dimiliki, dan ulang tahun dirayakan. Tidak dipungkiri, di antara kami, dia tampak lebih bersih dan ganteng. Saya sadar diri, karena kondisi orang tua saya tidak sebanding dengan orang tua teman ini.
Singkat cerita, setelah lulus SMA saya pergi merantau. Seperti kebanyakan anak kampung, teman seangkatan berpencar mengikuti garis hidup masing-masing. Awalnya saya bekerja, setahun kemudian kuliah.
Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di media cetak di Surabaya. Tak dinyana, ketemu kembali dengan senior yang satu kampung. Lelaki berparas tampan, anak dari keluarga terpandang di desa kami. Kami bertukar cerita, dan ternyata dia juga baru saja merantau.
Posisi kami sama-sama sebagai marketing, dengan sistem gugur di awal. Dan ternyata, teman senior ini gagal di tiga bulan pertama masa percobaan. Penjualan tidak memenuhi harapan, sehingga harus meninggalkan tempat kerja kami.
Lama tidak bersua, kami kembali bertemu saat pulang kampung. Teman senior ini balik kampung setelah sebelumnya tidak sukses. Pada pertemuan itu, saya sudah hendak menikah. Senior yang tiga tahun di atas saya, masih betah membujang. Orang tuanya sudah tua, dan jodohnya belum juga datang.
Jujur, perjalanan hidup saya penuh liku. Banyak naik-turun, tentu juga ada fase mulus dan menurun. Ketika melihat teman senior ini, hidup dengan liku-likunya sendiri, benak langsung flashback ke masa kecil. Tentang keenakan orang lain yang tidak saya dapatkan.
Kesadaran tentang Takdir
Saat kami sama-sama dewasa, saya mendapati versi strugglingnya kawan senior. Secara sekilas, dia kurang nekad dan kurang berani. Sangat mungkin pengaruh dari didikan masa lalu.
Memang, jika sudah memahami, niscaya tak akan terucap “lu mah enak.”
Memahami dan Menghargai
Seiring berjalannya waktu, saya telah melalui banyak kejadian dan peristiwa. Di usia yang sudah tidak muda ini, asam garam kehidupan telah saya rasakan.
Saat sedang senggang, saya sering berkilas balik mengingat pengalaman pahit yang telah dialami. Hikmahnya baru dirasakan sekarang, jauh setelah semua terlampaui.
Maka ketika hari ini, sedang menghadapi tantangan berat dalam versi yang berbeda. Saya berusaha berbaik sangka, bahwa semesta sedang bekerja sesuai algoritmanya. Keputusan tersebut membuat gundah ini tertawarkan. Saya memilih fokus pada diri, mencari jalan keluar atas setiap masalah.
Saya dan istri, enggan mencampuri urusan orang. Apalagi urusan yang nyata-nyata tidak ada sangkut paut dengan kami. Bersikap netral ketika ada perselisihan orang lain. Lebih banyak diam, daripada berkomentar yang berpotensi menimbulkan fitnah.
Pun saat orang, jalan takdirnya sedang lapang. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan, dengan sikap sinis atau komentar menyakiti. Jika kami senang, cukuplah kami nikmati bersama anak-anak. Apalagi kalau sedih dan susah payah, berdua menghadapi tanpa melibatkan orang lain.
Kami semakin sadar, semua keadaan di dunia tidak abadi. Belajar dari pengalaman hidup, cukuplah semua disikapi sewajarnya. Karena jika sudah memahami, niscaya tak akan terucap “lu mah enak.”
Semoga bermanfaat.