Sejarah dan Makna Tahuri dalam Budaya Maluku
Tahuri, sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Maluku, memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Alat musik ini tergolong khas karena dibuat dari bahan alami yang ditemukan di wilayah Maluku. Dalam budaya masyarakat maritim, laut menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, konsep laut sangat kuat dalam kosmos masyarakat Maluku.
Tahuri disebut juga dengan istilah “kuli bia”, yaitu salah satu jenis kerang laut yang telah dibersihkan dan digunakan sebagai alat musik utama. Alat ini berbentuk terompet dan memiliki suara yang nyaring ketika ditiup. Menurut Carolis Elias Horhoruw, maestro musik tahuri 2021, tahuri adalah peralatan musik yang unik dan menarik. Ia merupakan hasil kreativitas orang-orang Maluku yang penuh inspirasi.
Di daerah Huaulu, Gunung Manusela, tahuri disebut dengan nama Huauri. Kata “Hua” berarti yang pertama atau yang utama, sedangkan “Uri” berarti bunyi. Jadi, Huauri berarti bunyi yang pertama keluar dari permukaan bumi. Dalam masa lalu, musik tahuri memiliki nilai magis karena digunakan sebagai bentuk komunikasi antara masyarakat dengan leluhur. Misalnya, pada upacara panas pela, pelantikan raja, cuci negeri, serta tarian perang atau cakalele.
Stevanus Tiwery, seorang budayawan Maluku dalam buku Tahuri Hutumuri (2016), menyebutkan bahwa dalam sistem pemerintahan adat di Maluku, musik tahuri dimanfaatkan sebagai alat komunikasi antara raja dan masyarakat. Bunyi tahuri menunjukkan adanya tanda raja untuk mengumpulkan masyarakat dalam situasi tertentu seperti perang atau bencana alam.
Nilai kesakralan musik tahuri mencerminkan kehidupan budaya masyarakat Maluku yang masih bertahan hingga saat ini. Keberagaman nilai yang ditunjukkan melalui musik ini mempertemukan perbedaan basudara (Islam dan Kristen) sebagai konsep hidup bersama. Nilai utama dari tahuri adalah kesakralan yang melekat pada semua orang Maluku, serta memberi pelajaran tentang kebersamaan.
Salah satu konsep keberlanjutan dari musik tahuri adalah kemampuannya merekonsiliasi basudara di Maluku pada acara panas pela dan ritual kumpul gandong. Perkembangan musik tahuri sebagai simbol musik tradisional Maluku saat ini adalah penggunaannya dalam berbagai kegiatan dan ritual adat di Maluku. Di gereja-gereja, musik ini dikembangkan sebagai musik etnik pengganti pujian. Di sisi lain, pemerintah Maluku sering menjadikan musik tahuri sebagai tanda pengeresmian kantor atau fasilitas publik lainnya.
Pada tahun 2018, kolaborasi antara musik tahuri dan musik hadrat menandai malam pergantian tahun yang dirayakan oleh masyarakat Kota Ambon. Musik tahuri juga menjadi sumber nada bagi orkestra besar di Maluku yang dipertunjukkan pada festival budaya Maluku.
Tahuri sebagai Simbol Identitas Budaya Maluku
Sejak musik tahuri ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia (WBTbi) pada tahun 2017 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahuri resmi menjadi produk budaya masyarakat Maluku yang dikemas sebagai alat musik tradisi. Selain itu, tahuri menjadi ikon utama Ambon sebagai kota musik dunia pada tahun 2019.
Penjelasan tentang tahuri sebagai simbol identitas budaya Maluku tidak terbantahkan lagi karena dari aspek pemanfaatannya yang berkelanjutan mencerminkan adat yang kuat dan kekuatan kosmos Maluku laut dan darat sebagai simbol kehidupan. Pertanyaan mendasar, apakah tahuri bisa menuju UNESCO? Pertanyaan ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak dalam “mangubere” (medayung bersama) untuk menyiapkan tahuri sebagai program yang diusulkan sebagai warisan budaya dunia.
Berbagai elemen masyarakat, legislatif, pemerintah Provinsi dan Kabupaten, serta akademisi dan UPT Kebudayaan harus bekerja sama menyiapkan data akademis dan dukungan politik serta kerjasama pada level regional maupun nasional.
Aspek lain yang berkelanjutan adalah lahirnya guru maestro yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, yakni Bapak Carolis Elias Horhoruw sebagai maestro musik tahuri pada tahun 2021. Hal ini menjadi dasar utama dalam pewarisan yang berkelanjutan. Munculnya minat belajar tahuri dan sanggar-sanggar budaya serta sekolah-sekolah musik yang berkembang menunjukkan bahwa tahuri sangat layak untuk diajukan ke UNESCO.
Namun, optimisme yang dibangun harus searah dengan kerja keras bersama mengingat di Maluku belum ada satupun warisan budaya takbenda yang ditetapkan oleh UNESCO, berbeda dengan noken di Papua, batik di Jawa, dan lainnya. Sehingga, tahuri sebagai musik tradisional memiliki keunggulan dasar yang dikemas dengan penyiapan data pendukung lainnya seperti kajian mendalam dan membutuhkan kerja akademisi serta para budayawan serta UPT-UPT kebudayaan di Maluku misalnya Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku, BRIN Wilayah Maluku, Kantor Bahasa Maluku, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota dan Provinsi serta partisipasi masyarakat Maluku.
Tahuri menjadi tanggung jawab kita bersama di Maluku untuk membangun peradaban yang sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia.