Akhir Pelarian Dewi Astutik: Operasi Senyap Selamatkan 8 Juta Nyawa dari Narkotika

Eka Syaputra
7 Min Read

Penangkapan Gembong Narkoba Dewi Astutik

Penangkapan gembong narkoba Dewi Astutik alias Mami mengakhiri pelariannya yang selama ini menjadi perhatian aparat penegak hukum. Sosok yang dikenal sebagai salah satu pengendali peredaran narkotika lintas wilayah itu berhasil diamankan setelah melalui rangkaian penyelidikan.

Keberhasilan aparat membekuk Mami membuka kembali tabir jaringan yang selama ini bergerak secara rapi dan terstruktur. Penangkapan tersebut tak hanya memutus satu mata rantai peredaran gelap, tetapi juga berpotensi mengungkap figur-figur lain yang terlibat dalam operasi narkotika berkapasitas besar tersebut.

Aksi pengejaran yang berlangsung intens itu menjadi titik balik dalam upaya membongkar jaringan narkoba yang telah menimbulkan keresahan masyarakat.

Operasi Senyap

Dewi Astutik alias Mami, buronan gembong narkoba yang menyelundupkan dua ton sabu jaringan Golden Triangle akhirnya ditangkap di Sihanoukville, Kamboja. Pengungkapan kasus ini kolaborasi Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Dewi Astutik, yang juga menjadi buronan Korea Selatan diamankan saat menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville. Operasi berlangsung cepat, presisi, dan tanpa menimbulkan gangguan publik. Seusai diamankan, Dewi Astutik dipindahkan ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antar otoritas.

Setiba di Indonesia, Dewi Astutik akan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan internasional yang beroperasi ke sejumlah negara. Jejaring ini diketahui beraktivitas dalam pengambilan dan distribusi narkotika berbagai jenis, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, menuju Asia Timur dan Asia Tenggara.

Dalam keterangan tertulis, Selasa (2/12/2025) operasi senyap lintas negara ini dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan atas perintah dari Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto. Pencarian terhadap Dewi Astutik dilakukan secara terus menerus melalui tim khusus operasi pengejaran buronan internasional.

Operasi ini mendapat dukungan penuh dari Atase Pertahanan RI di Kamboja dan BAIS TNI yang dipimpin Yudi Abrimantyo, yang berperan penting dalam pemetaan pergerakan lintas negara serta koordinasi regional. Proses diplomasi dan pemenuhan legalitas pemindahan tersangka difasilitasi oleh Duta Besar RI untuk Kamboja, Dr. Santo Darmosumarto, bersama seluruh jajaran KBRI Phnom Penh.

Di sisi lain, kerja sama erat dijalin dengan Wakil Kepala Kepolisian Nasional Kamboja, Chuon Narin, beserta jajarannya yang membantu proses penangkapan dan pengamanan di lapangan.

8 Juta Nyawa Terselamatkan

Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto menuturkan mengungkap Dewi Astutik mendominasi kawasan Golden Triangle bersama gembong narkoba Fredy Pratama. “Pengungkapan ini berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika,” ucapnya kepada wartawan, Selasa (2/12/2025).

Operasi berlangsung cepat, presisi, dan tanpa menimbulkan gangguan publik. Seusai diamankan, Dewi dipindahkan ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antar otoritas. Yang bersangkutan dipulangkan ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (2/12/2025) sore.

Dewi Astutik diketahui terlibat kasus penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 2 ton yang melibatkan jaringan bernama Golden Triangle. Berdasarkan data dari BNN, Dewi Astutik merupakan wanita kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, pada 8 April 1983. Saat ditangkap, ia berumur 42 tahun.

Berdasarkan data Kartu Tanda Penduduk, Dewi Astutik berdomisili di Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo. Fakta ini dibenarkan oleh Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan. Ia mengakui foto sosok perempuan yang menjadi buronan itu adalah warganya. Namun bukan Dewi Astutik, identitas nama aslinya berinisial PA. Diduga ia memalsukan identitas dengan milik seorang anggota keluarganya.

“Nama Dewi Astutik tidak ada. Tetapi alamat itu memang warga sini. Fotonya juga kenal,” katanya, dikutip dari Surya.co.id. Gunawan melanjutkan, yang bersangkutan memang sudah lama pamit kerja ke luar negeri. Dewi Astutik sudah pindah-pindah negara. “Ia pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir ini katanya di Kamboja,” tandasnya.

Mengenal Golden Triangle, Tempat Beroperasi Dewi Astutik

Golden Triangle atau segitiga emas merupakan perbatasan Thailand, Myanmar dan Laos. Pertemuan antara tiga negara ini berada di Sungai Mekong dan Sungai Ruak. Istilah Segitiga Emas yang pertama kali diciptakan pada tahun 1971 oleh Asisten Menteri Luar Neger AS, Marshall Green. Secara geografis segitiga emas dikenal sebagai salah satu pusat utama produksi opium dan heroin di dunia.

Kawasan tersebut bahkan menjadi pemasok sekitar 60 persen stok opium dan heroin dunia. Total profit dari kawasan tersebut tembus 160 miliar dolar AS per tahun. Sebagian besar produksi narkotika ini berasal dari Myanmar yang juga dikenal penghasil opium terbesar kedua setelah Afghanistan.

Dilansir dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), segitiga emas telah menjadi jalur perdagangan narkoba yang sangat besar. Kawasan ini berfungsi sebagai koridor utama produuksi dan perdagangan opium, heroin, dan bahkan narkoba sintetis seperti metamfetamin yang menyebar ke seluruh Asia Pasifik.

Berdasarkan laporan UNODC dalam Southeast Asia Opium Survey 2023, Myanmar saat ini memiliki sekitar 47.000 hektar ladang opium, yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Setiap hektarnya dapat menghasilkan antara 9,5 hingga 15,9 kilogram opium. Angka ini menunjukkan betapa besar produksi opium di negara tersebut, menjadikannya salah satu pusat utama dalam pasar narkoba global.

Selain dikenal sebagai kawasan yang lekat dengan narkotika Golden Triangle juga sebagai lokasi wisata terkenal yakni Sop Ruak yang merupakan patung Buddha besar yang terletak di atas puncak bukit dan menghadap ke Sungai Mekong.

Kota-kota lainnya di sekitar segitiga emas juga menawarkan berbagai daya tarik, seperti Chiang Saen, sebuah kota yang tenang di tepi Sungai Mekong yang terkenal dengan reruntuhan kuil Buddha kuno. Ada juga Mae Sai, kota pasar yang ramai yang berada di sepanjang perbatasan Myanmar, serta Doi Mae Salong, kota pegunungan yang terkenal dengan perkebunan tehnya. Di Laos, kawasan segitiga emas menawarkan Cagar Alam Bokeo, yang merupakan tujuan ekowisata yang sangat populer.

Di sana, pengunjung dapat berpartisipasi dalam pengalaman unik seperti “pengalaman siamang”, di mana wisatawan dapat mengamati siamang di habitat aslinya. Selain itu, Huay Xai, ibu kota provinsi Bokeo di Laos, adalah tempat yang kaya dengan budaya, terkenal dengan Kuil Jom Khao Manilat yang bersejarah, serta berbagai restoran dan pasar lokal yang menyajikan hidangan khas Laos.

Bagi para wisatawan yang menyukai petualangan, segitiga emas menawarkan berbagai kegiatan menarik, seperti perjalanan perahu di Sungai Mekong yang menakjubkan, serta tur sepeda dan sepeda motor keliling wilayah tersebut.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *