Anak Bukan Batang Singkong yang Dilempar Tumbuh

Amanda Almeirah
6 Min Read



Anak balita sering mengalami tantrum karena tidak diberi kesempatan untuk menonton di ponsel. Anak tersebut tidak mengikuti perintah orang tua, bahkan setelah ditegur hingga mulutnya berbusa. Masalahnya semakin parah ketika anak menyampaikan kata-kata kasar kepada orang tua dan guru, tanpa rasa sopan santun sama sekali.


“Anak bagaikan kertas putih yang siap diisi oleh orang tua.” Apakah Anda masih setuju dengan pernyataan ini? Saya sendiri tidak. Kertas kosong akan tetap kosong jika tidak ditulisi atau digambar. Artinya, diperlukan seseorang yang secara sengaja menulis sesuatu pada kertas tersebut. Faktanya, anak memiliki kemampuan untuk mencerna, meniru, dan memanipulasi informasi yang diterima dari orang tua sekitarnya.

Sebagai contoh, saat usia dua tahun, anak saya mulai bisa berbicara lancar. Kami sering membawanya ke rumah nenek di kampung. Suatu hari, kami terkejut karena anak mengucapkan kata-kata tidak sopan yang biasa diucapkan ayah saya (Mbah Kakung). Bagaimana mungkin?

Ternyata, Mbah mengucapkan kata itu dalam bentuk candaan, lalu didengar oleh anak saya. Tidak butuh waktu lama, anak langsung menirunya. Kami menegur anak agar tahu bahwa perkataannya tidak sopan. Namun, teguran kami tidak berhasil. Akhirnya, cubitan menjadi cara terakhir yang kami tempuh.

Anak menangis keras, pantatnya ada bekas ruam merah dari cubitan. Sejak saat itu, anak tidak lagi mengucapkan kata-kata kasar itu. Ia tahu, lebih baik tidak mengucapkan kata itu daripada dicubit, Papa. Itu sakit!

Masalahnya belum selesai. Kami juga memberikan masukan kepada Mbah agar bisa menjadi teladan dengan ucapan yang baik. Dengan demikian, anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Orang Tua adalah Bos

Bak sebuah perusahaan, keberhasilannya bergantung pada bos yang kompeten. Orang tua pun menjadi bos di rumah. Tapi, menjadi bos yang seperti apa? Otoriter? Permisif? Atau mentor?

Orang tua otoriter memegang kendali penuh atas anak. Semua yang mereka inginkan harus patuh. Jika tidak, akibatnya hanya satu: hukuman. Anak bisa tumbuh menjadi penakut, pemalu, dan pesimis.

Orang tua permisif berarti tidak menegakkan otoritas. Mereka lembek, membiarkan anak mengalir apa adanya. Tidak ingin menegur, tak ingin menyakiti, dan tak ingin mengintervensi. Jalan saja apa adanya. Tidak heran jika anak menjadi semaunya sendiri. Tidak tahu diri dan sulit diatur.

Mentor adalah model parenting terbaik. Bukan hanya mengajar dan memberi perintah, orang tua memberi contoh. Mereka bekerja bersama anak. Tentunya contoh yang baik. Anak akan percaya dan mau melakukan nasihat orang tua dengan sadar. Sebab, orang tua lebih dulu melakukan apa yang diperintahkan.

Mau tidak mau, anak harus menurut pada orang tua—bos di rumah. Bos yang disegani sekaligus memberikan teladan.

Tempalah Besi Selagi Panas

Pandai besi menempa besi selagi panas agar bisa dibentuk sesuai keinginan. Mengapa? Karena besi yang panas mudah dibentuk sesuai keinginan dan berfungsi seperti seharusnya. Setelah dingin, besi tidak bisa dibentuk lagi.

Anak pun begitu. Usia 0-5 tahun (disebut juga golden age) adalah masa terbaik untuk membentuk karakter mereka. Jika mereka ditempa dengan benar, anak bisa menjadi pribadi yang matang. Begitu pun sebaliknya.

Ada empat fase dalam mendidik anak. Semakin tinggi fase usianya, otoritas orang tua makin berkurang namun pengaruhnya semakin besar. Masa transisi terjadi pada anak di usia 12 tahun. Perhatikan gambar berikut.

Rotan = Tanda Kasih

Kembali pada contoh kasus di atas. Ada anak SD yang perkataannya kasar, tidak tahu sopan santun, dan tidak bisa menghargai orang lain. Kuncinya ada di orang tua. Justru akan dipertanyakan, apa yang diajarkan kepada anak? Kata-kata yang juga kasar, aksi kekerasan, tidak pernah menegur meski melakukan kesalahan, atau sebaliknya?

Orang tua tipe permisif biasanya akan melakukan hal itu. Alih-alih mendidik dan mendisiplin anak, orang tua justru menjerumuskan anak pada jurang tanpa aturan. “Jangan menolak didikan dari anakmu, ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan.” (Amsal 23:13) Kalau anak melanggar aturan, tidak menurut pada perintah orang tua, kita bisa menghajarnya dengan rotan, demikian nasihat firman Tuhan.

Kenapa rotan? Rotan sifatnya lentur, meski menimbulkan bekas luka tidak akan merusak dibandingkan menggunakan benda padat seperti balok kayu. Dipukulnya juga di bagian pantat, di mana banyak lemak, bukan di area vital. Rotan adalah tanda kasih. Jadi, jika anak melakukan kesalahan fatal, dirotan, merasa sakit. Supaya anak tahu arti didikan: sakit jika tidak patuh. Pukulan rotan juga tidak akan membunuh anak.

Anak bukan Batang Singkong yang Dilempar Tumbuh

Batang singkong adalah tanaman yang paling mudah ditanam. Dilempar ke kebun pun bisa tumbuh akar dan tunasnya. Daunnya bisa digoreng menjadi rolade atau menjadi sayur. Tak perlu kerja keras untuk menumbuhkan daun singkong.

Namun, anak tidak begitu. Anak bukan batang singkong yang dilempar asal tumbuh. Maka, pembiaran pada anak bisa berarti orang tua mengabaikan tanggung jawab untuk mendidik anak.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *