Anna Pulang dari Rumah Sakit, Turuni Tebing Curam dan Jalan Rusak yang Belum Diperbaiki Sejak Zaman Penjajahan

Hendra Susanto
7 Min Read

Perjuangan Warga dalam Menghadapi Kondisi Jalan yang Rusak

Sambil ditandu, warga yang sakit tersebut lalu diturunkan puluhan orang melalui tebing curam. Aksi puluhan warga membawa seseorang yang ditandu menggunakan ranjang pasien, viral beredar di media sosial (medsos). Sambil ditandu, warga yang sakit tersebut lalu diturunkan melalui tebing curam di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Perjuangan warga berjibaku menurunkan pasien di jalur ekstrem tersebut sontak memicu keprihatinan publik. Dalam video berdurasi 56 detik, tampak puluhan warga turun perlahan melewati tangga di tebing curam dengan kemiringan sekitar 80 derajat. Dengan ketinggian lebih dari 100 meter, warga saling menguatkan dan memegangi kayu agar ranjang pasien tidak merosot.

Berdasarkan penelusuran Kompas.com, peristiwa terjadi pada Kamis (25/12/2025), di Desa Tembayangan, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean. Saat itu, warga tengah memulangkan pasien bernama Anna Farizah dari rumah sakit menuju rumahnya. “Benar, itu warga Tembayangan, namanya Anna Farizah,” kata warga setempat, Adi Susanto, saat dihubungi Kompas.com pada Minggu (28/12/2025).

Anna Farizah sebelumnya menjalani perawatan di RSUD Abuya di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Namun, pihak rumah sakit akhirnya memperbolehkan Anna pulang karena kondisi kesehatannya tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. “Katanya tidak ada perkembangan. Matanya sudah tidak bisa melihat dan badannya juga lemas, tidak bisa digerakkan,” jelasnya.

Lantaran kondisi tubuhnya yang sangat lemah, ibu satu anak ini harus ditandu melewati jalur ekstrem yang dikenal warga dengan sebutan Gunung Eteng. Jalur ini terpaksa dipilih karena tidak ada akses jalan lain yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Adi mengungkapkan, jalan kabupaten yang ada saat ini kondisinya rusak parah sehingga tidak bisa dilewati mobil biasa, apalagi kendaraan ambulans.

Jika dipaksakan, perjalanan menuju RSUD Abuya bisa memakan waktu hingga lima jam dan harus menggunakan mobil khusus off road. “Jalan kabupaten tidak bisa dilewati mobil biasa, apalagi ambulans,” ucap Adi. “Kalau lewat sana, lama sekali dan harus pakai mobil khusus,” jelasnya.

Sebaliknya, meski sangat berisiko, jalur tangga curam di Gunung Eteng hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam berjalan kaki. Jalur ini pun menjadi tumpuan utama bagi petani, pedagang, hingga guru yang bertugas di Desa Tembayangan dan Desa Cangkaremaan. Warga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep segera memberikan perhatian serius. Pasalnya, menurut Adi, kondisi jalan tersebut seolah tidak tersentuh perbaikan sejak lama.

“Sejak penjajahan Belanda tidak pernah ada perbaikan jalan kabupaten itu. Harapan kami jalan kabupaten itu diperbaiki saja supaya warga tidak terus-terusan lewat jalur Gunung Eteng,” pungkas Adi.

Kejadian Lain yang Menyentuh Hati

Video sejumlah warga yang terlihat menyeberangi sungai sambil menggotong tandu terbuat dari bambu dan sarung, viral di media sosial Instagram, X, Facebook, belum lama ini. Dalam video berdurasi 1 menit 6 detik yang viral di media sosial, memperlihatkan lima orang laki-laki sedang membawa tandu darurat menyeberangi aliran sungai keruh kecokelatan. Kemudian di sekitar lokasi ada beberapa orang yang kebetulan melintas dan menggunakan sepada motor trail ikut membantu sampai ke tepi sungai.

Di dalam tandu terdapat seseorang yang hendak melahirkan. Dalam video tersebut juga memperlihatkan ada dua orang ibu-ibu yang masing-masing menggendong balita ikut menyeberangi sungai sambil menenteng tas. Adapun video tersebut diunggah di akun X @Jateng_Twit dan menyertakan caption atau status yang ditujukan kepada Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman.

Dalam postingan, tertulis keterangan Dusun Karangsari yang berada di wilayah Desa Wotgalih merupakan salah satu daerah terisolasi di Kabupaten Tegal. Dusun yang terletak di sisi paling utara Kecamatan Jatinegara ini telah lama dikenal sebagai wilayah terpencil. Pedukuhan Karangsari berada di tengah kawasan hutan jati dan terpisah oleh Sungai Logeni yang menjadi batas alam dengan desa tetangga.

Kondisi geografis tersebut menyebabkan akses transportasi dan layanan publik sangat terbatas, terutama saat musim hujan. Video memperlihatkan seorang pasien yang hendak melahirkan yang harus ditandu secara manual oleh warga dan relawan untuk mendapatkan penanganan medis.



Tribun Jateng menginformasikan video viral tersebut kepada Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, saat ditemui di Kantor Perumda Air Minum Tirta Ayu, pada Rabu (24/12/2025). Bupati Ischak menjelaskan, sebelum video viral menyebar secara cepat, Pemerintah Kabupaten Tegal sudah melakukan berbagai upaya dan berkolaborasi dengan Kodim 0712 Tegal. Kolaborasi yang dilakukan yaitu melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) bersumber dari APBD Kabupaten Tegal dengan membangun Jembatan Merah Putih.

Dikatakan Bupati Ischak, Jembatan Merah Putih yang dibangun menghubungkan Dukuh Karangsari, Desa Wotgalih, Kecamatan Jatinegara, dengan Pedukuhan Cipero, Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja. Bahkan Ischak bercerita, sebelum menjabat Bupati Tegal, dirinya pernah berpartisipasi mendatangkan alat berat untuk membuka akses jalan. Selain itu swadaya lainnya yang dilakukan Pemkab Tegal sekitar tiga bulan lalu menyumbang sebesar Rp30 juta.

“Kami (Pemkab Tegal) ada keterbatasan tidak bisa membangun akses jalan di wilayah tersebut karena masuk jalan Perhutani,” terang Bupati Ischak pada Tribun Jateng. “Lokasinya berada di akses jalan Perhutani dan ini yang menjadi kendala. Tapi kami tidak berdiam diri dan terus melakukan upaya untuk membuka akses jalan,” imbuhnya.

Bupati Ischak menyebut, dirinya juga merasa bingung dan bertanya-tanya. Kenapa masyarakat desa setempat lebih memilih menyeberangi sungai padahal sudah dibuatkan jembatan. Mengenai fenomena tersebut, Bupati Ischak menuturkan pihaknya sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tegal untuk mengkaji kenapa masyarakat lebih memilih menyeberangi sungai dari pada lewat jembatan. Apakah karena alasan jarak yang ditempuh lebih dekat jika melalui sungai daripada jembatan atau bagaimana.

Bupati Ischak menegaskan, pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu. “Saya juga sedang mencari kendaraan seperti Tossa roda tiga untuk bisa digunakan warga, mengingat akses jembatannya hanya bisa dilewati kendaraan kecil.” “Ya istilahnya ambulans darurat bagi warga. Jadi tidak terkesan warga sangat menderita karena sampai digotong menggunakan tandu melewati sungai.”

“Melihat video tersebut ya Pemkab Tegal sangat prihatin karena masih ada warga yang kondisinya demikian. Tapi intinya, kalau masuk jalan Kabupaten Tegal ya pasti akan kami selesaikan,” ungkap Bupati Ischak.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *