Badai maut taklukkan 12 nyawa di Gaza

Muhammad Muhlis
4 Min Read

Bencana Cuaca di Jalur Gaza: Kematian dan Kerusakan yang Menimpa Pengungsi

Badai hebat yang melanda Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk. Sebanyak 12 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara banyak lainnya terluka akibat banjir dan runtuhnya bangunan. Kejadian ini terjadi di tengah situasi kritis yang sudah ada sebelumnya, dengan kondisi pengungsi yang sangat rentan.

Kondisi Terparah di Berbagai Wilayah

Menurut laporan dari Kantor Media Pemerintah di Gaza, setidaknya 13 rumah telah runtuh, termasuk di lingkungan Al-Karama dan Sheikh Radwan di Kota Gaza. Tim pertahanan sipil masih menghadapi ratusan panggilan darurat dan sinyal bahaya. Selain itu, lebih dari 27.000 tenda yang menjadi tempat penampungan para pengungsi telah tersapu atau terendam air banjir, serta rusak akibat angin kencang.

Pernyataan tersebut juga menyebut bahwa lebih dari seperempat juta pengungsi terkena dampak langsung dari hujan, banjir, dan runtuhnya bangunan yang merobohkan tenda mereka. Hal ini dinyatakan sebagai “bencana iklim yang terjadi di tengah bencana kemanusiaan yang lebih luas.”

Tindakan yang Diperlukan

Kantor Media Pemerintah di Gaza meminta PBB, organisasi internasional, Presiden AS Donald Trump, mediator, penjamin gencatan senjata, negara-negara sahabat, dan entitas donor untuk segera bertindak dan menekan pendudukan Israel agar membuka penyeberangan tanpa penundaan. Mereka juga meminta Israel mengizinkan masuknya pasokan tempat penampungan, peralatan darurat, dan sumber daya untuk tim penyelamat dan pertahanan sipil, serta memastikan perlindungan kemanusiaan bagi ratusan ribu keluarga pengungsi selama badai yang sedang berlangsung.

Selain itu, pihak berwenang menyerukan penerapan langkah-langkah praktis dan mengikat untuk mencegah terulangnya banjir dan keruntuhan yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa jam mendatang dan kejadian cuaca di masa depan.



Badai petir terlihat di atas tenda kamp pengungsi Palestina di Zawaida, Jalur Gaza tengah, Rabu, 10 Desember 2025. – ( AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Korban Jiwa dan Kerusakan

WAFA melaporkan bahwa lima orang meninggal dan lainnya terluka setelah sebuah rumah yang menampung keluarga pengungsi runtuh di daerah Beir al-Naaja di kota Beit Lahiya di Gaza utara. Dua orang lagi meninggal setelah tembok besar runtuh menimpa tenda-tenda yang menampung keluarga-keluarga pengungsi di lingkungan Al-Rimal sebelah barat Kota Gaza pagi ini. Seorang warga Palestina lainnya meninggal pada Kamis ketika tembok di kamp pengungsi Shati runtuh.

Sementara itu, dua anak terluka setelah tenda mereka runtuh di kawasan Al-Amadi, sementara suhu yang sangat dingin menyebabkan kematian seorang bayi di dalam tenda pengungsi di kawasan Al-Mawasi di Khan Younis kemarin.

Situasi yang Semakin Memburuk

Tim pertahanan sipil melaporkan bahwa setidaknya sepuluh rumah runtuh dalam beberapa jam terakhir, termasuk dua di lingkungan Al-Karama dan Sheikh Radwan. Penghuni rumah keluarga Darbieh di Sheikh Radwan dievakuasi setelah pintu masuknya runtuh, sedangkan keluarga Al-Madhoun dievakuasi di dekat bundaran Al-Karama di Kota Gaza.

Sistem tekanan rendah juga menyebabkan seluruh kamp di wilayah Al-Mawasi di Khan Younis kebanjiran dan menimbulkan kerusakan di wilayah yang luas di Al-Basa dan Al-Baraka di Deir al-Balah, pasar pusat di Al-Nuseirat, dan wilayah Yarmouk dan Al-Mina di Kota Gaza.

Seorang bayi perempuan yang keluarganya menjadi pengungsi akibat perang genosida Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza, juga meninggal karena terkena dinginnya musim dingin. Ini terjadi ketika Badai Byron menerjang daerah kantong tersebut di tengah berlanjutnya pembatasan Israel terhadap persediaan penting musim dingin.

Rahaf Abu Jazar yang berusia delapan bulan dilaporkan meninggal pada Kamis setelah tenda keluarganya di Khan Younis terendam air ketika hujan deras membanjiri tenda-tenda di seluruh wilayah kantong tersebut semalaman, menurut kantor berita Reuters. Ibunya, Hejar Abu Jazar, memberi makan bayinya sebelum mereka tidur. “Ketika kami bangun, kami menemukan hujan menimpanya dan angin menimpanya, dan gadis itu tiba-tiba meninggal karena kedinginan,” katanya kepada Reuters.

Share This Article
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *