Penutupan Operasi Pencarian dan Evakuasi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK-THT di Gunung Bulusaraung resmi ditutup pada hari ketujuh, Jumat (23/1/2026), setelah seluruh 10 korban ditemukan dan diserahkan kepada Tim DVI Polri. Hal ini diumumkan oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii dalam konferensi pers yang digelar di Kantor SAR Makassar pada malam hari.
Operasi SAR yang dilakukan oleh tim gabungan lintas instansi telah berjalan selama enam hari sejak kecelakaan terjadi pada Sabtu (17/1/2026). Selama masa tersebut, lebih dari seribu personel terlibat dalam proses pencarian, termasuk bantuan dari TNI, Polri, pemerintah daerah, komunitas pecinta alam, relawan, serta Pramuka. Selain itu, warga setempat juga turut serta memberikan dukungan dalam operasi tersebut.
Proses Identifikasi Korban
Dari total 11 kantung jenazah yang diserahkan oleh Tim SAR gabungan, tiga di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Deden Maulana (Pegawai KKP), Florencia Lolita Wibisono (Pramugari), dan Esther Aprilita (Pramugari). Sementara tujuh korban lainnya masih dalam proses identifikasi oleh Tim DVI Polri.
Korban yang belum teridentifikasi terdiri dari lima kru pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dan dua pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Lima kru pesawat tersebut antara lain Andy Dahananto (pilot), Muhammad Farhan Gunawan (co-pilot), Hariadi (Petugas Operasi Penerbangan), Restu Adi (teknisi), dan Dwi Murdiono (teknisi). Sedangkan dua pegawai KKP yang menjadi korban adalah Ferry Irawan dan Yoga Naufal.
Persiapan untuk Operasi Kesiapsiagaan
Meski operasi pencarian dan evakuasi telah selesai, Basarnas tetap siaga untuk melakukan evakuasi lanjutan jika ada temuan bagian tubuh korban atau jika Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membutuhkan dukungan tambahan dalam investigasi.
Syafii menyatakan bahwa operasi kesiapsiagaan akan terus berlangsung sebagai bentuk tanggung jawab pihaknya terhadap keluarga korban dan proses investigasi. Jika ada laporan dari masyarakat tentang adanya bagian tubuh korban yang tersisa, Basarnas akan segera bertindak untuk mengevakuasi dan menyerahkan ke Tim DVI Polri.
Bantuan untuk Investigasi
Sementara itu, mengenai puing-puing pesawat yang masih tersisa di lokasi kecelakaan, Syafii menyatakan bahwa Basarnas bersedia membantu KNKT jika diperlukan. Namun, dengan kondisi saat ini, tidak semua puing dapat dievakuasi karena risiko dan kesulitan akses ke lokasi.
Tim SAR Gabungan telah menemukan bukti-bukti penting seperti black box dan beberapa komponen pesawat. Menurut Syafii, bukti-bukti tersebut sudah cukup untuk mendukung proses investigasi yang akan dilakukan oleh KNKT.
Alat Bantu dalam Operasi SAR
Untuk mendukung operasi pencarian dan evakuasi, TNI mengerahkan tiga unit pesawat intai Boeing 737 serta satu unit helikopter H225M Caracal. Sementara itu, Basarnas menggunakan helikopter AS 365 Dauphin HR-3601 dalam proses evakuasi korban.
Seluruh upaya yang dilakukan oleh tim gabungan menunjukkan komitmen tinggi dalam menemukan dan menyelamatkan korban serta memastikan proses investigasi berjalan dengan baik.