Belacan Bangka Belitung Tembus Rp300 Ribu Per Kilogram

Kaila Azzahra
4 Min Read

Harga Belacan di Bangka Belitung Melambung, Lebih Mahal dari Timah

Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, harga belacan atau terasi di Bangka Belitung mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Di Pasar Kota Pangkalpinang, satu kilogram terasi bisa mencapai Rp250 ribu per kilogram, bahkan ada pedagang yang menjualnya hingga Rp300 ribu per kilogram. Hal ini membuat harga belacan melebihi harga pasir (bijih) timah, komoditas utama provinsi ini.

Reaksi Masyarakat yang Luar Biasa

Kenaikan harga belacan ini menjadi sorotan warga setempat, terutama melalui media sosial. Anta Wirja, seorang warga Kota Pangkalpinang, membagikan video singkat tentang harga belacan yang viral. Dalam video tersebut, ia menyampaikan bahwa harga belacan lebih mahal dari harga timah.

“Dugo e pacak harge belacan lebih mahal dari harge timah,” ujarnya dalam konten video yang kemudian viral. Konten itu menarik banyak perhatian, bahkan potongannya masuk tayangan televisi nasional.

Anta mengaku tidak menyangka akan sampai sejauh itu. Ia hanya ingin berbagi informasi sederhana tentang kondisi pasar. Namun, respons dari warganet sangat besar. Banyak yang kaget dan membandingkan harga belacan dengan daging sapi, bahkan menyebutnya sebagai “barang mewah”.

Peran Belacan dalam Kehidupan Sehari-hari

Belacan bukan sekadar bumbu pelengkap di Bangka Belitung. Hampir seluruh masakan tradisional menggunakan bahan ini, seperti lempah kuning, lempah darat, hingga sambal. Anta mengatakan bahwa dalam seminggu, dia bisa tiga kali memasak menggunakan belacan.

“Ini memang kebutuhan, bukan sekadar tambahan,” katanya. Bahkan, ia menyebut belacan sebagai “kebutuhan pokok ke-10” bagi masyarakat Bangka.

Kenaikan Harga Menjelang Idul Fitri

Kenaikan harga belacan mulai terasa menjelang Idul Fitri 2026. Anta awalnya hanya mendengar kabar dari tetangga, namun setelah memastikan langsung ke pasar, ia yakin harga benar-benar naik.

Menurutnya, harga belacan juga dipengaruhi oleh kualitas. Belacan dengan warna kemerahan dan aroma khas biasanya dihargai lebih tinggi dibandingkan yang berwarna gelap. Belacan asal Toboali, Bangka Selatan, masih menjadi favorit karena kualitasnya yang terjaga.

Faktor Udang dan Produksi yang Berkurang

Sementara itu, Rama Karna Maulana, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, membenarkan adanya kenaikan harga belacan. Namun, ia menegaskan bahwa harga di tingkat produsen tidak setinggi yang beredar di media sosial.

“Kalau di Bangka Selatan, kisaran Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram. Sekarang mulai turun di angka Rp100 ribu sampai Rp120 ribu,” ujarnya.

Rama menjelaskan bahwa kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan baku utama, yakni udang rebon. Kondisi ini menyebabkan produksi belacan menurun. Ia menambahkan bahwa kondisi ini merupakan siklus tahunan yang dipengaruhi musim.

Penyebab Kenaikan Harga

Faktor utama kenaikan harga belacan adalah kurangnya pasokan udang rebon, yang merupakan bahan baku utama. Saat musim udang melimpah, produksi meningkat dan harga cenderung turun. Sebaliknya, ketika pasokan menurun, harga akan naik.

“Ini memang faktor musiman. Kalau bahan baku banyak, harga turun. Kalau sedikit, otomatis naik,” jelas Rama.

Meski harga belacan tinggi, permintaan tetap tinggi. Warga tetap mencari belacan berkualitas, meskipun harganya mahal. Ini menunjukkan betapa pentingnya belacan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bangka Belitung.

Share This Article
Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *