Cara Menperin Agus Gumiwang Bangun SDM untuk Industri Indonesia Masa Depan

Ratna Purnama
5 Min Read

Pendidikan Vokasi sebagai Fondasi untuk Masa Depan Industri Nasional

Pendidikan vokasi tidak hanya menjadi jalur alternatif dalam sistem pendidikan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang yang sangat penting dalam membangun daya saing industri nasional di tingkat global. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa investasi terbaik untuk masa depan industri bukan hanya pada mesin atau teknologi, melainkan pada manusia. Dengan SDM yang kompeten dan unggul, industri akan tumbuh lebih produktif, resilien, dan berdaya saing global.

Penguatan pendidikan vokasi merupakan strategi utama dalam membangun industri nasional yang bernilai tambah tinggi, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Langkah ini selaras dengan arah Asta Cita pemerintah dan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) yang menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah, inovasi teknologi, serta transformasi industri berbasis keberlanjutan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan terus memperkuat sinergi antara pendidikan dan industri melalui beberapa langkah, seperti standardisasi kompetensi, pemagangan, sertifikasi, serta modernisasi sarana pembelajaran. Tujuannya adalah agar mampu menjawab kebutuhan industri masa depan yang semakin dinamis.

Agenda “Vokasi Go Global”

Untuk memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok dunia, pemerintah mengembangkan agenda “vokasi go global” yang mengarahkan pendidikan vokasi pada standar kompetensi internasional, literasi teknologi maju, dan kemampuan adaptif terhadap dinamika pasar global. Melalui pendekatan tersebut, Kemenperin mendorong penguatan kurikulum yang mengacu pada standar industri internasional, penerapan sertifikasi profesi berlevel global, perluasan kemitraan strategis dengan industri mancanegara, serta fasilitasi mobilitas tenaga kerja terampil lintas negara.

Selain itu, lulusan vokasi juga didorong untuk membangun jejaring alumni berskala global agar dapat memperkuat konektivitas industri dan memperluas peluang kerja maupun kolaborasi bisnis internasional.

Model ini dirancang untuk mendukung Indonesia masuk ke rantai pasok global pada sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, otomasi industri, energi hijau, serta manufaktur berkelanjutan.

Peran BPSDMI dalam Pengembangan SDM

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Doddy Rahadi, menjelaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi merupakan bagian penting dari SBIN, yang memberi penekanan pada pengembangan SDM industri berdaya saing tinggi. Menurutnya, sektor-sektor prioritas nasional saat ini membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan baru yang relevan dengan teknologi mutakhir.

“Kita harus menjawab kebutuhan masa depan. Target pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi tidak mungkin tercapai kalau SDM-nya masih seperti dahulu. SDM harus produktif, terampil, kompeten, dan berorientasi global,” ujar Doddy.

Ia menegaskan bahwa pendidikan vokasi Indonesia tidak boleh terbatas pada penyedia tenaga kerja untuk industri domestik, tetapi harus menjadi bagian penting dari ekosistem industri global, baik melalui kompetensi teknis, mobilitas tenaga kerja, maupun jejaring profesional.

Memperkuat Ekosistem Industri

Lebih lanjut, Kemenperin terus memperkuat ekosistem pendidikan vokasi melalui modernisasi kurikulum, peningkatan kapasitas instruktur, penyediaan teknologi pembelajaran, serta perluasan jejaring global. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan SDM yang adaptif terhadap disrupsi teknologi dan memiliki kompetensi untuk memperkuat daya saing industri nasional di arena global.

Salah satu satuan unit pendidikan vokasi milik Kemenperin yang menjalankan mandat tersebut adalah SMK-SMTI Yogyakarta. Unit pendidikan ini telah menerapkan model pendidikan dual system dengan komposisi praktik mencapai 70 persen, dan kurikulum berstandar internasional sebagai strategi menyiapkan SDM industri yang unggul dan siap kerja.

SMK-SMTI Yogyakarta, yang dikelola langsung oleh BPSDMI Kemenperin, tercatat sebagai sekolah negeri terakreditasi A dan bersertifikat ISO 9001:2015. Sekolah ini menerapkan model pembelajaran berbasis proyek, keterampilan teknis, serta karakter kerja, yang dipadukan dengan fasilitas laboratorium, workshop, dan sertifikasi kompetensi internasional.

Untuk memberikan kompetensi yang diakui industri global, siswa SMK-SMTI Yogyakarta mengikuti sertifikasi Vapro (Belanda) dan Siemens (Jerman), serta sertifikasi nasional melalui BNSP dan kemampuan bahasa Inggris melalui TOEIC.

Penerapan sertifikasi ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terstruktur, dari penerimaan siswa, pembelajaran di sekolah, magang di industri, hingga penempatan kerja. SMK-SMTI Yogyakarta juga melibatkan industri sebagai mitra dalam pengembangan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, magang, serta penyerapan lulusan.

Masa studi sekolah ini selama tiga tahun, dengan empat semester pembelajaran di sekolah, dan dua semester di industri. Untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja sektor manufaktur, sekolah mengembangkan tiga konsentrasi keahlian, yakni Teknik Kimia Industri, Kimia Analisis, dan Teknik Mekatronika. Semuanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan industri berbasis teknologi, otomatisasi, dan standar kualitas.

Setiap tahun, lulusan SMK-SMTI Yogyakarta terserap bekerja di industri, dan sisanya melanjutkan studi atau berwirausaha. Ini menunjukkan daya saing lulusan dan efektivitas model pendidikan vokasi yang diterapkan oleh Kemenperin.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *