Saham Bank Besar Turun Jelang Akhir Pekan, Ini Rekomendasinya

Hendra Susanto
5 Min Read

Pergerakan Saham Bank Besar di Akhir Pekan

Pada penutupan perdagangan Jumat (19/12), saham sejumlah bank besar mengalami pelemahan. Hal ini terjadi menjelang akhir pekan, dengan beberapa bank mencatat penurunan harga saham pada hari itu.

Saham PT Bank Central Asia (BBCA) ditutup di level Rp 8.050 per saham atau turun 1,53%. Meskipun demikian, selama sepekan terakhir, saham BBCA menguat tipis sebesar 0,63%. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 0,91% ke level Rp 4.340 per saham. Pada awal perdagangan, saham BBNI sempat menguat hingga Rp 4.380 per saham, namun kembali lesu menjelang penutupan. Selama sepekan terakhir, saham BBNI juga menguat 2,36%.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun tipis 0,26% ke level Rp 3.770 per saham. Pada pembukaan perdagangan, saham BBRI sempat naik ke Rp 3.800 per saham, tetapi akhirnya kembali turun. Selama sepekan terakhir, saham BBRI menguat sebesar 3,86%.

Berbeda dengan saham PT Bank Mandiri (BMRI) yang menguat 0,49% pada penutupan perdagangan hari ini, mencapai level Rp 5.175 per saham. Saham BMRI dibuka menguat dan dipengaruhi oleh aksi korporasi, yaitu rencana pembagian dividen interim 2025 sebesar Rp 100 per saham. Total pembagian dividen tersebut sebesar Rp 9,3 triliun, berdasarkan jumlah saham beredar perseroan sebesar 93,33 miliar dan memperhatikan jumlah saham treasury perseroan.

Selama sepekan terakhir, saham BMRI melonjak sebesar 7,37%. Analis CGS Sekuritas Adrian Alamsyah Saputra memproyeksikan bahwa prospek kinerja fundamental sektor bank jumbo akan membaik pada 2026. Ia menilai pemulihan akan mulai terlihat sejak kuartal keempat tahun ini, seiring dengan menguatnya pertumbuhan kredit, terutama dari sisi manual sales.

Adrian juga memproyeksikan pertumbuhan kredit bank-bank besar mencapai sekitar 9% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan tahun 2025. Kondisi biaya dana atau cost of funds dinilai membaik berkat penempatan dan injeksi likuiditas pemerintah ke bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), serta tren suku bunga acuan yang cenderung melandai.

Kombinasi penempatan likuiditas dan arah suku bunga yang stabil diperkirakan akan menahan tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Dengan begitu, kinerja perbankan pada 2026 berpotensi lebih baik dibandingkan tahun ini.

Investor Asing Kembali Memborong Saham Bank

Investor asing terpantau ramai membeli saham-saham bank jumbo. Misalnya, pada perdagangan kemarin, saham BMRI ramai dibeli oleh investor asing dengan nilai mencapai Rp 472,7 miliar, disusul oleh BBCA yang diborong sebesar Rp 173 miliar. Selain itu, saham BBNI juga diborong asing sebesar Rp 32,5 miliar. Namun, investor asing terpantau melepas saham BBRI dengan nilai sebesar Rp 25,5 miliar.

Menurut Ardian, investor asing belakangan telah kembali memborong saham-saham perbankan setelah sebelumnya mengoleksi saham-saham konglomerasi. Kondisi ini akan membuka peluang besar masuknya kembali dana asing di tahun depan, mengingat saham perbankan berkapitalisasi besar selama ini menjadi salah satu favorit investor global.

Rekomendasi Saham dari CGS Sekuritas

CGS Sekuritas merekomendasikan saham BMRI dan BBCA. Keduanya dinilai memiliki eksposur kuat di segmen wholesale yang diuntungkan oleh membaiknya sentimen bisnis, sekaligus berpeluang menjadi penerima manfaat utama dari potensi masuknya dana asing. Target harga yang dipatok untuk masing-masing adalah BBCA di Rp 10.700, BMRI Rp 5.600, BBRI Rp 4.900, dan BBNI Rp 5.300.

Perspektif dari Head of Research KISI

Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menilai penguatan saham BBCA merupakan respons yang wajar. Menurutnya, sebelum rilis kinerja, pergerakan saham BBCA sempat tertinggal dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Market merespons positif. BBCA sebelumnya sempat lagging dari IHSG, sehingga penguatan selama sepekan bisa dilihat sebagai proses re-pricing yang wajar. Ke depan, Wafi menilai saham BBCA masih memiliki prospek yang solid, meskipun potensi kenaikannya tidak seagresif saham perbankan berkapitalisasi menengah maupun kecil. Namun demikian, BBCA tetap menjadi saham perbankan dengan profil risiko paling rendah di sektor ini.

Wafi merekomendasikan buy untuk saham BBCA dengan target harga di level Rp 10.000 per saham. Dari sisi fundamental, kinerja BBCA hingga sisa tahun 2025 masih akan terjaga kuat. Pertumbuhan kredit dinilai sehat, ditopang struktur dana murah atau current account saving account (CASA) yang dominan, biaya kredit (cost of credit /CoC) yang rendah, serta net interest margin (NIM) yang relatif stabil.

Strategi BBCA ke depan tidak akan berfokus pada akselerasi pertumbuhan yang agresif, melainkan pada konsistensi kinerja dan kualitas pertumbuhan. Di sisa 2025, fokus BBCA adalah menjaga konsistensi laba dan quality growth, bukan ekspansi agresif.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *