Perubahan Dramatis di Lambung Bukik Saat Ramadan
Pada bulan Ramadan, suasana yang biasanya penuh kegembiraan dan keramaian kini berubah menjadi sunyi dan penuh kesedihan bagi warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu telah mengubah hidup mereka secara drastis, memaksa banyak warga tinggal di pondok darurat dan menjalani ibadah puasa dalam kondisi yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kehidupan yang Berubah
Eni (55), salah satu warga setempat, menceritakan pengalamannya menjalani Ramadan kali ini. Dulu, ia selalu sibuk mempersiapkan sahur dan berbuka puasa di rumah permanennya. Namun kini, ia harus tinggal di sebuah pondok darurat bersama suami dan anak perempuannya. Rumah mereka, meskipun masih berdiri, kini berada di zona rawan banjir, sehingga keluarganya tidak berani kembali menempati tempat tersebut.
“Ada sensasi yang berbeda, apalagi sekarang berbuka tidak lagi di rumah,” ujar Eni dengan nada bicara yang tenang namun penuh ketabahan. Ia menyadari bahwa Ramadan kali ini tidak lagi seperti dulu, karena situasi yang dihadapi sangat berbeda.
Ancaman banjir susulan selalu menghantui pikiran Eni. Setiap kali hujan turun, rasa cemas mulai merayap. Keputusan untuk tidak kembali ke rumah adalah langkah yang penuh pertimbangan, karena keamanan menjadi prioritas utama.
Perubahan Aktivitas Ibadah
Selain perubahan tempat tinggal, aktivitas ibadah juga mengalami perubahan. Surau Jamiaturrahmah, tempat warga biasanya berkumpul untuk salat tarawih, kini telah hanyut terbawa arus banjir. Warga kini harus beralih ke surau lain, seperti Surau Barokah, yang berada di perbukitan dan berjarak sekitar 700 meter. Medan jalan yang cukup curam membuat perjalanan menjadi lebih melelahkan.
“Semua ini kehendak Yang Kuasa. Kita sebagai umat hanya bisa taat dan menjalani apa yang sudah digariskan,” ujar Eni. Ia percaya bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan, dan ia bersyukur bisa tetap menjalankan kewajiban sebagai umat beragama.
Pengalaman Maini: Trauma yang Tidak Mudah Terlupakan
Maini, warga lain di Kelurahan Lambung Bukik, juga mengalami pengalaman serupa. Ia menceritakan betapa mengerikannya kekuatan air yang turun dari hulu sungai saat banjir terjadi. “Saya melihat dengan mata kepala sendiri, rumah-rumah di sini hanyut seperti perahu di atas air. Begitu cepat, begitu kuat,” katanya.
Maini bukanlah orang baru dalam menghadapi bencana alam. Ia pernah menjadi korban banjir besar pada tahun 2012, namun kali ini dampaknya jauh lebih destruktif. “Jika dulu air hanya membawa lumpur, kali ini banjir menghabisi harta benda warga secara total tanpa menyisakan banyak hal,” ujarnya.
Hilangnya Surau Jamiaturrahmah menjadi pukulan batin yang sangat berat bagi Maini. Baginya, surau itu bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan pusat spiritualitas tempat ia dan warga lainnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. “Semuanya habis. Puluhan rumah hilang, bahkan surau tempat kami biasa beribadah sehari-hari juga sudah tidak ada lagi,” katanya.
Wajah yang Berubah
Wajah Kelurahan Lambung Bukik kini telah berubah drastis pasca-kejadian tersebut. Jika dulunya kawasan ini ramai dengan hiruk-pikuk aktivitas warga, kini suasana sunyi senyap justru yang mendominasi di setiap sudut kampung. Di tengah kesunyian itu, ketabahan warga seperti Eni dan Maini menjadi simbol kekuatan. Meski Ramadan tahun ini harus dilalui di bawah bayang-bayang puing dan trauma, semangat mereka untuk tetap menjalankan kewajiban sebagai umat beragama tidak luntur sedikit pun.