Guci Hancur Akibat Banjir Bandang Gunung Slamet

Lani Kaylila
7 Min Read

Banjir Bandang Menghancurkan Kawasan Wisata Guci

Banjir bandang yang terjadi pada Jumat (23/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) dini hari, menerjang sejumlah daerah di lereng Gunung Slamet. Kejadian ini disebabkan oleh luapan sungai-sungai yang berhulu di Gunung Slamet. Banjir membawa serta lumpur, bebatuan, dan pohon, sehingga mengakibatkan kerusakan besar di beberapa wilayah.

Daerah yang terdampak banjir antara lain Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Purbalingga, dan Banyumas. Salah satu kawasan yang paling parah adalah Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, khususnya Daerah Wisata Guci. Akibat terjangan banjir bandang, Guci porak poranda. Untuk Guci, banjir bandang kali ini merupakan yang kedua dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Sebelumnya, banjir bandang juga menyerang Guci pada 21 Desember 2025. Namun, dampak banjir kali ini lebih besar dibanding kejadian sebelumnya. Tiga jembatan di kawasan Guci hilang diterjang banjir, yaitu Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5. Ketiganya menjadi akses utama penghubung antarobjek wisata dan menuju ke Desa Guci.

Intensitas hujan yang tinggi sejak beberapa hari terakhir di wilayah Kabupaten Tegal menyebabkan aliran Sungai Gung meluap. Puncaknya terjadi pada Jumat malam pukul 20.00, saat air mulai meluap. Pada Sabtu dini hari, debit air mulai tak terbendung dan menerjang kawasan di sepanjang aliran Sungai Gung.

Selain banjir bandang, longsor juga terjadi setelah hujan deras intensitas tinggi yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu pagi. Air bah berwarna cokelat pekat mengalir deras dari hulu Gunung Slamet, membawa material lumpur, pasir, hingga ranting-ranting kayu.

Dampak Kerusakan di Guci

Pantauan Tribun Jateng di lokasi, pada Sabtu pagi, kondisi Pancuran 13 Guci porak poranda. Kolam Pemandian Air Panas Pancuran 13 hilang tertutup material pasir yang longsor. Satu ekskavator rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai hancur.

Guci besar berwarna emas yang biasanya berdiri kokoh di tengah-tengah kawasan Pancuran 13, sekarang sudah tinggal kenangan karena hilang diterjang air bah. Loket depan, kamar mandi bilas, bahkan patung naga dan sinterklas juga hilang tak tersisa. Kondisi lebih parah karena jembatan di sekitar lokasi Pancuran 13 yang menjadi akses penghubung utama dan sudah berusia puluhan tahun juga hilang diterjang banjir.

Tak sampai di situ, kolam pemandian Pancuran 5 dan Kolam Renang Barokah juga hilang. Kawasan Pancuran 13, Pancuran 5 dan sekitarnya penuh dengan material pasir, bebatuan yang tercampur air sehingga cukup sulit untuk akses jalan.

Seorang warga Guci, Hasemi bercerita, intensitas hujan tinggi pada Jumat malam dan sungai mulai meluap, pada Sabtu pukul 01.00 dini hari. Menurut Hasemi, suara gemuruh terangan air terdengar sampai ke pemukiman yang berjarak sekitar ratusan meter dari Pancuran 13. “Suara gemuruh air terdengar sampai ke permukiman rumah warga yang jaraknya sekitar 250 meter. Bencana paling parah karena banyak yang mengalami kerusakan tidak hanya jembatan, tapi banyak pohon tumbang dan longsor,” cerita Hasemi.

Bencana juga disertai longsor di bukit atas Desa Guci. Longsor dilaporkan cukup parah dan menambah kepanikan warga. Sebanyak 700 bibit pohon yang rencananya akan ditanam di lereng Gunung Slamet, pada 7 dan 15 Februari mendatang, ikut hanyut terbawa banjir.

Waterboom Guciku Terkena Dampak Banjir

Selain Pancuran 13, Pancuran 5, Curug Jedor, dan jalur pendakian via Permadi, Hot Waterboom Guciku yang berada di kawasan DTW Guci Kabupaten Tegal tak luput dari terjangan banjir bandang. Kondisinya tak kalah memprihatinkan seperti beberapa lokasi lain yang terdampak meluapnya aliran Sungai Gung.

Kolam pemandian utama Hot Waterboom Guciku yang terdapat perosotan, permainan jaring, dan wahana lainnya warna air berubah menjadi keruh kecokelatan. Bagian kolam renang air panas ini dipenuhi dengan material pasir bahkan ada dua pohon yang terbawa arus sampai ke lokasi. Tidak hanya di bagian kolam, di area sekitarnya juga dipenuhi dengan pasir yang tercampur air sehingga membuat tekstur seperti lumpur dan becek.

Pantauan Tribun Jateng di Guciku, beberapa orang sedang kerja bakti membersihkan sisa-sisa lumpur baik di kolam ataupun sisi lainnya. Guciku pun sementara waktu tutup untuk umum melihat kondisi yang tidak memungkinkan dan masih dilakukan upaya pembersihan sisa material banjir.

Ditemui di lokasi, Pengelola Hot Water Boom Guciku, Prambudi mengungkapkan, banjir mulai menerjang masuk ke kawasan Guciku, pada Sabtu pukul 03.00 dini hari. Prambudi memprediksi, ketika dua sampai tiga hari ke depan kondisi cuaca masih sama intensitas hujan tinggi dan durasi lama, maka bisa terjadi banjir susulan.

“Selama saya di sini (Guciku) sejak tahun 2005 berarti sekitar 20 tahun, baru kali ini mengalami kondisi banjir yang sangat parah,” ungkap Prambudi. Selain kolam Guciku yang terdampak banjir bandang, menurut Prambudi, jembatan kaca di tempatnya juga turut hilang terbawa arus air. Padahal jembatan kaca yang ada di Guciku tingginya kurang lebih 7 meter dan sekarang ini sudah hilang tak ada jejak.

Pascabanjir bandang, Prambudi menyebut proses pembersihan terus dilakukan dan kemungkinan membutuhkan waktu lumayan lama mengingat material yang ditinggalkan cukup banyak. Untuk sementara waktu Guciku tidak beroperasi. Bahkan wisatawan yang sudah booking atau pesan penginapan di Guciku untuk bulan Februari, semuanya dikembalikan.

Plh Bupati Tegal: Tiga Jembatan Hilang

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Tegal, Ahmad Kholid menjelaskan, ada tiga jembatan yang terdampak banjir bandang sampai hilang. Kholid menyebut bencana kali ini lebih parah dari peristiwa sebelumnya yang terjadi pada akhir tahun 2025.

“Ada tiga jembatan yang hilang diterjang banjir yaitu jembatan Curug Jedor, jembatan Pancuran 13 dan jembatan Pancuran 5,” kata Kholid. “Tentu kami (Pemkab Tegal) prihatin dengan kondisi sekarang ini,” sambungnya.

Sementara waktu jembatan di Pancuran 13 dan Pancuran 5 Guci ditutup untuk umum karena memang tidak bisa dilalui kendaraan ataupun aktivitas warga. Adapun jembatan di Curug Jedor akan segera dilakukan penanganan sementara menggunakan jembatan bailey untuk alternatif.

“Saya imbau kepada masyarakat selalu waspada karena intensitas hujan masih cukup tinggi dan belum aman,” imbaunya.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *