Kehidupan yang Terbatas dan Harapan Pengakuan
Di balik gemerlap dunia hiburan Tanah Air, tersimpan kisah pilu yang jauh dari sorotan kamera. Ressa Rizky Rossano, pemuda berusia 24 tahun asal Banyuwangi, kini harus menjalani kehidupan yang serba terbatas sambil memikul luka lama yang selama ini terpendam.
Kondisi ekonomi yang sulit bahkan memaksanya menghentikan pendidikan di bangku kuliah, sebuah kenyataan pahit yang ia alami di tengah upayanya mencari kejelasan atas jati diri. Ressa mengaku sebagai anak kandung penyanyi dangdut Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan. Namun, selama bertahun-tahun, identitas tersebut disebut disamarkan.
Ia tumbuh besar dengan status sebagai adik Denada, bukan sebagai anak, dan dibesarkan oleh keluarga besar di Banyuwangi. Pengakuan mengenai asal-usulnya baru ia ketahui setelah beranjak dewasa, sebuah fakta yang mengubah arah hidupnya secara drastis.
Merasa hak-haknya sebagai anak tidak pernah dipenuhi, Ressa akhirnya memilih menempuh jalur hukum. Ia menggugat Denada ke pengadilan dengan tuntutan pengakuan sebagai anak kandung sekaligus ganti rugi atas dugaan penelantaran yang dialaminya sejak kecil.
Gugatan tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang yang sarat kebingungan, kekecewaan, dan tekanan batin. Kini, di tengah proses hukum yang berjalan, Ressa harus menghadapi kenyataan hidup yang semakin berat. Selain berjuang mendapatkan kejelasan status dan keadilan, ia juga harus merelakan bangku kuliah yang terpaksa ditinggalkan akibat keterbatasan biaya.
Dari Kehidupan Normal ke Dunia Nyata yang Keras
Kehidupan Ressa jauh berbeda dengan yang dijalani Denada, yang namanya melambung di industri hiburan. Setelah kondisi ekonomi keluarga besarnya memburuk pasca meninggalnya Emilia Contessa, ibunda Denada, Ressa harus memutuskan putus kuliah demi bertahan hidup.
Kini, kesehariannya diisi dengan bekerja sebagai penjaga toko Madura 24 jam di Banyuwangi. “Tidak ada pemasukan sama sekali setelah Bu Emilia meninggal. Akhirnya, anak tersebut mencoba menuntut Denada,” ungkap kuasa hukum Ressa, Moh Firdaus Yuliantono, Jumat (9/1/2026).
Menguak Identitas yang Tersembunyi
Ressa baru mengetahui identitas aslinya saat duduk di bangku SMA. Selama ini, ia dibesarkan di Banyuwangi dan mengira dirinya adalah anak dari bibinya, adik dari Emilia Contessa. “Awalnya dengar dari kabar selentingan, lalu dia diberitahu oleh seseorang yang sangat dipercayainya… bahwa ia bukan anak dari bibi Denada, melainkan anak Denada,” terang Firdaus.
Menurut Firdaus, Ressa diduga dibawa dari Jakarta ke Banyuwangi 24 tahun lalu karena Denada enggan statusnya sebagai ibu diketahui publik. “Yang pasti, Denada tidak mau terlihat memiliki anak. Sejak dititipkan, Denada tak pernah menafkahi anaknya,” tegas Firdaus.
Ressa bahkan sempat menanyakan langsung kepada Denada, namun jawaban yang diterimanya tetap sama: ia adalah “adik,” bukan anak.

Gugatan dan Harapan Pengakuan
Kini, Ressa menempuh jalur hukum di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Ia tidak hanya menuntut pengakuan sebagai anak Denada, tetapi juga ganti rugi materiel miliaran rupiah, yang mencakup biaya pendidikan dari SD hingga SMA serta biaya hidup yang selama ini tidak diberikan.
“Semua biaya tersebut dimintakan kepada Denada untuk diganti dan diajukan kepada majelis hakim,” tambah Firdaus. Kuasa hukum Denada, Muhammad Iqbal, mengonfirmasi adanya gugatan tersebut. Pihaknya sudah menghadiri mediasi, meski mengaku belum mempelajari detail materi gugatan secara mendalam.
“Terkait substansi tuduhan penelantaran anak dan status Ressa sebagai anak kandung, kami masih perlu berdiskusi lebih lanjut dengan klien,” ujarnya.
Sebuah Cerita yang Masih Terbuka
Hingga kini, kasus ini masih berada dalam tahap mediasi. Jika mediasi gagal, persidangan akan dilanjutkan untuk membuktikan klaim masing-masing pihak. Di tengah semua itu, kehidupan Ressa tetap sederhana: bekerja di toko, menata hari-hari, sambil membawa harapan akan pengakuan yang selama ini direnggutnya.
Kisah Ressa bukan sekadar soal hukum atau ganti rugi. Ini tentang seorang pemuda yang menapaki kenyataan pahit, menuntut haknya, dan mencari identitas yang selama ini disembunyikan. Sebuah perjalanan dari kebingungan dan penelantaran menuju pengakuan yang ia impikan.