Gegeran yang Membuat Heboh

Hendra Susanto
6 Min Read

Perpecahan di PBNU dan Proses Islah yang Membingungkan

Pada akhir tahun 2025, NU mengalami peristiwa penting yang menarik perhatian publik. Neraca merah yang terjadi sebelumnya akhirnya ditutup dengan tinta biru. Sebenarnya, neraca itu sudah mulai berubah menjadi biru pada hari Natal, tanggal 25 Desember. Namun, baru pada tanggal 28 Desember, perubahan tersebut benar-benar terlihat.

Tiga hari sebelum tutup tahun, terjadi pertemuan khusus di rumah Rais Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya Timur. Dalam pertemuan ini, dua tokoh utama yang berseberangan hadir: KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf – Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziyah. Bahkan, Saifullah Yusuf duduk di sebelah Gus Yahya. Tampaknya, Gus Ipul dan Gus Yahya memiliki perbedaan pendapat – antara Sekjen dan Ketua Umum. Pernah juga terdengar bahwa Rais Aam berseberangan dengan Gus Yahya karena memihak Gus Ipul.

Anda mungkin sudah mengetahui bahwa Gus Yahya memberhentikan Gus Ipul. Alasannya adalah karena Sekjen tersebut dianggap tidak menjalankan tugasnya secara baik, terutama dalam hal menandatangani pengesahan pengurus cabang NU. Berkas-berkas yang menumpuk menjadi bukti dari kekurangan tersebut. Konon, alasan pemberhentian ini bukan karena Gus Ipul sibuk sebagai Menteri Sosial kabinet Prabowo, melainkan karena dia merasa tidak sependapat dengan komposisi pemilihan di muktamar NU tahun depan.

Sebelumnya, Gus Yahya sendiri telah diberhentikan oleh Rais Aam pada bulan November lalu. Dengan demikian, terbentuklah dua kubu di PBNU. Keduanya sama-sama berkantor di gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta. Gedung ini memiliki sembilan lantai, cukup untuk menampung dua pengurus besar, bahkan jika ada tiga sekalipun.

Perpecahan ini menyebabkan heboh di kalangan elite dan media sosial. Namun, sampai saat ini, perpecahan tersebut belum mencapai tingkat akar rumput atau batang bawah. Justru, arus bawah NU justru menjadi kelompok penekan yang sangat kuat. Mereka tidak peduli apa penyebab pecahnya hubungan, maupun siapa yang salah dan benar. Yang penting, mereka ingin NU tetap utuh dan berdamai.

Mereka juga tidak peduli bagaimana cara berdamainya: yang penting islah. Beberapa dari mereka berkumpul di rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, pada 20 Desember. Sementara sebagian lainnya menggelar Musyawarah Kubro di pondok “Bintang Sembilan” Lirboyo pada 21 Desember.

Pondok Pesantren Lirboyo terletak di pinggiran barat Kota Kediri. Para peziarah Gua Bunda Maria pasti melewati Lirboyo. Pertemuan di Lirboyo ini sangat besar. Kiai-kiai “Bintang Sembilan” hadir, termasuk KH Ma’ruf Amin, mantan wapres, yang hadir via Zoom. Para ketua wilayah juga hadir. Hanya sedikit dari para ketua cabang yang absen.

Hasil dari pertemuan tersebut adalah kesepakatan untuk melakukan islah. Bahkan, mereka memaksakan agar islah dilakukan. Caranya adalah, jika seseorang tidak mau islah, maka harus meletakkan jabatannya. Atau, mandatnya akan dicabut. Batas waktu untuk islah hanya tiga hari.

Namun, keesokan harinya kembali heboh. Gus Yahya pergi ke Pesantren Buntet, Cirebon. Di sana, ia merespons hasil Musyawarah Kubro di Lirboyo. Ia pun bercerita panjang, detail, dan njlentreh. Menurut versinya, situasi yang terjadi adalah sangat jelas. Penjelasan Gus Yahya begitu kuat sehingga mereka yang menontonnya langsung memihaknya. Sangat runtut dan logis. Menurut saya, kubu Rais Aam “habis” di situ.

Kronologi yang disampaikan Gus Yahya begitu jelas hingga ia heran mengapa masih ada pihak yang menyebut diri netral. “Kan sudah sangat jelas siapa yang salah dan siapa yang benar.” Kira-kira begitu penjelasannya. “Jika pemecatan saya itu dianggap sah, sama dengan menganggap saya ini kafir harbi yang layak dibunuh,” ujar Gus Yahya.

Menurutnya, islah yang akan dilakukan harus jelas dulu, siapa yang salah dan siapa yang benar. Setelah itu, baru islah. Setelah menyimak video itu, saya menjadi pesimistis: islah ini islah bersyarat. Maka, saya ragu islah bisa berlangsung – seberapa kuat pun tekanan dari Lirboyo.

Apalagi, hari itu juga, video Gus Yahya itu disambut oleh kubu Rais Aam – juga lewat video. Kiai Miftachul Akhyar berpendapat bahwa pemecatan Gus Yahya adalah sah dan tidak melanggar aturan organisasi. Lalu, pertemuan Lirboyo dianggap sebagai “pertemuan informal” yang tidak punya kekuatan organisatoris untuk dilaksanakan.

Itulah sebabnya, Kiai Miftach tidak menghadiri Musyawarah Kubro di Lirboyo. Sebenarnya, ia sendiri ingin hadir. Tapi, ia diingatkan bahwa tidak ada kewajiban secara organisasi harus hadir.

Setelah menyimak dua video itu, saya pun mengontak berbagai sumber di internal NU. “Saya bingung,” kata saya. “Ini islah atau tidak, sih?” Situasi kembali reda setelah digelar rapat konsultasi Syuriyah, Mustasyar, dan Tanfidziyah di Lirboyo pada 25 Desember 2025. Kiai-kiai sepuh hadir. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf juga hadir. Mereka saling bertabayun. Hasilnya, kedua pihak sepakat islah.

Media pun ramai menyambut keputusan Lirboyo itu. Perpecahan berakhir. Happy ending. NU kembali rukun. Segera pula dilaksanakan muktamar perdamaian di NU.

Jagat NU makin terang pada 28 Desember. Semua pihak yang bertikai berkumpul di rumah Rais Aam Miftachul Akhyar. Lengkap. Acaranya informal: silaturahmi. Tapi, yang dibahas tentang muktamar.

Bertengkar seru, dalam bahasa Jawa, disebut “gegeran”. Menurut Gus Dur si humoris, di NU itu “gegeran” sudah biasa. Jangan khawatir. “Gegeran” itu akan selalu diakhiri dengan “gergeran” – bersenda gurau yang penuh tawa.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *