Balasan Maut Khamenei, Hujan Api Rudal Kheibar Shekan Iran di Tel Aviv

Zaiful Aryanto
5 Min Read

Perkembangan Terbaru dalam Konflik Iran dan Amerika Serikat

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah meninggal dalam serangan yang dilakukan oleh pasukan gabungan AS-Israel. Pada saat ini, konflik antara Iran dan negara-negara Barat terus memanas, dengan serangan balasan yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap Tel Aviv.

Serangan tersebut menggunakan sistem rudal Kheibar Shekan, sebuah senjata canggih generasi ketiga yang mulai beroperasi sejak 2022. Rudal ini dikenal dengan kemampuannya untuk melepaskan sekitar 20 hingga 80 submunisi (bom kecil) di ketinggian sekitar 7 kilometer di atas permukaan tanah. Setiap submunisi membawa sekitar 2,5 kg hingga 7 kg bahan peledak, setara dengan daya hancur roket jarak pendek Hamas atau Hizbullah.

Rudal Kheibar Shekan memiliki jangkauan hingga 1.450 km dan mampu melakukan manuver di fase terminal untuk menghindari sistem pertahanan udara seperti Patriot atau Iron Dome. Dalam serangan terhadap Tel Aviv, rudal ini digunakan secara masif, seperti hujan api, guna memaksimalkan kerusakan di area pendudukan.

Perkembangan Militer AS dan Israel

Kampanye AS-Israel melawan Iran memasuki tahap selanjutnya, dengan operasi yang bertujuan untuk lebih lanjut melumpuhkan kemampuan militer Teheran. Letnan Jenderal Eyal Zamir, kepala militer Israel, menyatakan bahwa lebih dari 60 persen peluncur rudal balistik Iran dan 80 persen sistem pertahanan udaranya telah dihancurkan dalam kampanye yang sedang berlangsung melawan Iran.

“Sekarang kita beralih ke fase operasi selanjutnya. Pada fase ini, kita akan lebih lanjut membongkar rezim dan kemampuan militernya,” ujar Zamir dalam pernyataannya. Ia juga menambahkan bahwa ada kejutan tambahan di depan yang belum dapat diungkapkan.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap rezim Iran secara “dramatis”. Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan pasukan Amerika mengantisipasi kemampuan Iran dan menyusun strategi mereka sesuai dengan hal tersebut. “Kami sangat familiar dengan kemampuan Iran, dan seperti yang bisa Anda bayangkan, kami merencanakannya sejak awal,” katanya.

Penggunaan Sistem Pertahanan dan Drone Kamikaze

Sistem pertahanan AS terhadap pesawat nirawak telah lama menuai kritik karena rudal-rudal mahal sering digunakan untuk menembak jatuh pesawat nirawak yang relatif murah yang dikerahkan oleh Iran dan sekutunya. Namun, Cooper mengatakan AS telah “berada di sisi lain” dari ketidakseimbangan biaya tersebut. “Sekarang, kita menghabiskan banyak waktu menembak jatuh drone seharga $100.000 dengan rudal seharga $10.000,” jelas dia.

AS juga mengerahkan unit drone kamikaze baru untuk pertama kalinya selama operasi Iran. Drone tersebut dikembangkan setelah bertahun-tahun AS menangkap dan merekayasa balik model-model Iran. Bagian dari kampanye yang lebih luas, yang disebut Operasi Epic Fury, bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan rudal balistik dan kekuatan angkatan laut Iran, kata para pejabat.

Serangan Terhadap Iran dan Dampak Ekonomi

Serangan AS-Israel ke Iran terjadi setelah AS meningkatkan kehadiran militer terbesarnya di kawasan itu dalam beberapa dekade. Otoritas Israel dan AS menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk melacak pergerakan para pemimpin senior Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan “pemboman berat dan tepat sasaran” di Iran akan berlanjut sepanjang minggu atau lebih lama.

Militer AS juga telah menyerang 30 kapal angkatan laut Iran. “Dan hanya dalam beberapa jam terakhir, kami menyerang kapal induk drone Iran, yang ukurannya kira-kira sebesar kapal induk Perang Dunia II. Dan saat ini, kapal itu terbakar,” kata Cooper.

Konflik saat ini sudah jauh lebih intens daripada perang Israel-Iran tahun lalu, di mana AS ikut campur menjelang akhir dengan mengebom situs nuklir Iran dan Iran menanggapi dengan serangan terencana terhadap pangkalan militer AS di Qatar.

Dampak Geopolitik dan Ekonomi

Ratusan serangan rudal dan drone Iran telah membuat orang-orang berhamburan mengungsi di negara-negara Teluk yang sebelumnya relatif terisolasi dari gejolak di kawasan tersebut. Uni Emirat Arab mengatakan bandara utama Dubai telah terkena dampaknya, dan para turis serta orang lain tersentak mendengar dentuman rudal pencegat. Arab Saudi mengatakan telah mencegat serangan tersebut, dan memanggil duta besar Iran.

Harga minyak melonjak tajam ketika perdagangan pasar dimulai pada hari Minggu karena para pedagang bertaruh bahwa pasokan dari wilayah penting tersebut akan melambat atau berhenti. Serangan di dan dekat Selat Hormuz, titik rawan minyak terpenting di dunia, juga meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan.

Sebagai tanggapan, delapan negara yang merupakan bagian dari kartel minyak OPEC+ mengatakan mereka akan meningkatkan produksi minyak mentah.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *