Gubernur Koster Ajak Sulinggih Kuatkan Dresta Bali dan Jaga Keseimbangan Sekala Niskala

Hartono Hamid
5 Min Read

Peran Sulinggih dalam Menjaga Keseimbangan Bali

Gubernur Bali, Wayan Koster, menekankan pentingnya peran para Sulinggih dalam menjaga keseimbangan antara dunia sekala dan niskala di Bali. Mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang cukup berat dalam menjaga kedamaian dan keselamatan Bali secara spiritual. Pernyataan ini disampaikannya saat memperingati Ulang Tahun Sabha ke-4 Kertha Hindu Dharma Nusantara Pusat (Dhira Sera Dharma Manah), di Sekretariat SKHDN Pusat, Denpasar, pada Minggu (22/2).

Bali, dengan penduduk sekitar 4,5 juta jiwa, memiliki ciri khas yang membedakannya dari provinsi lain. Budaya menjadi cara hidup yang mendasar di Bali. Salah satu contohnya adalah budaya dan adat istiadat yang digunakan untuk menjaga Bali melalui ritual dan spiritual. Kebiasaan ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari upacara sederhana seperti saiban dan sarana canang hingga upacara besar seperti Eka Dasa Ludra, yang dilaksanakan secara turun-temurun sejak dulu.

Kebiasaan ini tidak hanya menjadi identitas Bali, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke pulau ini. Gubernur Koster menyampaikan bahwa Bali dibedakan oleh kebudayaan yang dimiliki, dilestarikan, dan dijaga hingga saat ini. Ia menegaskan agar jangan sampai kita kehilangan jati diri dan kebiasaan hidup lantaran mengimpor budaya asing, yang bisa mematikan budaya lokal itu sendiri. Kekuatan Bali terletak pada kebudayaan, adat, dan istiadat tersebut.

Kebudayaan sebagai Fondasi Ekonomi Bali

Selain itu, Gubernur Koster menegaskan bahwa perekonomian Bali tumbuh dari kebudayaan. Oleh karena itu, adat istiadat dan budaya di Bali harus dijaga dengan kekuatan yang terarah, sehingga dapat menghalau ancaman baik dari luar maupun dari dalam. Melalui Nangun Sat Kerthi Loka Bali, ia mengajak seluruh masyarakat Bali untuk menjaga keselarasan hidup baik secara sekala maupun niskala.

Untuk mencapai hal ini, semua tatanan adat istiadat, budaya, dan kebiasaan yang berdasarkan budaya ketimuran harus terus disosialisasikan dan diperluas. Hal ini melibatkan nilai-nilai sopan santun, etika, moral, norma, serta toleransi yang saling mendukung antara satu sama lain.

Pentingnya Keberadaan Sulinggih

“Agar tidak kehilangan jati diri dan magnet yang dimiliki selama ini, berhubung Bali tidak memiliki sumber daya alam kecuali budaya, maka Bali harus hidup dan terus berkembang dengan budaya yang dimilikinya. Oleh sebab itu Nangun Sat Kerthi Loka Bali dijalankan baik secara sekala maupun niskala,” katanya.

Koster menekankan agar tatanan secara niskala jangan diganggu dan harus dijaga oleh para Sulinggih. Sehingga yang harus dijaga adalah para Sulinggih yang sudah melaksanakan swadarma sesuai dengan dresta Bali, yang memberikan efek Bali bisa ajeg, damai hidup berdampingan, serta pura bisa terpelihara dengan baik melalui cara yang sesuai.

Tanggung Jawab Bersama dalam Melestarikan Budaya

“Untuk terus menjaga Bali dengan budaya, adat dan istiadatnya, saya harapkan para sulinggih terus menegakkan betul dresta Bali, dan jangan sampai meluntur agar saat melaksanakan pembenahan menuju hal yang lebih baik di bidang kebudayaan, adat dan istiadat kita tidak mengulang dari awal, oleh karenanya kita semua harus yakin dan turut serta untuk menjaganya melalui dresta,” jelasnya.

Dresta Bali harus tetap dijaga dan tidak bertambah banyak, agar tidak hancur dan rusak. Desa adat terus ada untuk menjaga budaya Bali dan menjalankan ritualnya dengan sangat tertib. Terlebih di tengah perkembangan jaman yang semakin pesat.

Penghargaan terhadap Para Sulinggih

Sekali lagi, pihaknya mengingatkan bahwa para Sulinggih adalah mereka yang menjaga Bali secara ritual. Sehingga sebagai pemerintahan (guru wisesa) berkewajiban memberikan perlindungan dan perhatian kepada para Sulinggih, agar mereka dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dalam rangka menjaga Bali, dan mampu membawa arus kebaikan secara terus menerus.

Dang Dhira Rajya/Rajya Rshi (Manggala Uttama) Sabha Kertha Hindu Dharma Nusantara Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, menyampaikan bahwa para Sulinggih se-Bali akan tetap konsisten melaksanakan tugas dan menjaga Bali secara niskala. Mengingat keseimbangan sekala dan niskala akan membawa semua pada kedamaian cara berpikir, berkata dan berbuat yang baik dalam menjaga Bali, melalui program-program pemerintah yang menjadi visi dan misi untuk diwujudkan.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *