Gubernur Sulut YSK Beri Kabar Gembira untuk Penambang Rakyat: Kami Akan Temukan Solusi

Amanda Almeirah
5 Min Read

Penambang Rakyat di Bolaang Mongondow Raya Mengeluh Kesulitan Menjual Emas

Para penambang rakyat di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) mengeluhkan kesulitan dalam menjual emas hasil tambang mereka. Masalah ini memicu keresahan di kalangan masyarakat, terutama karena kondisi ekonomi yang semakin berat. Hal ini tidak luput dari perhatian Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus Komaling (YSK), yang segera bertindak untuk mencari solusi.

YSK menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak akan tinggal diam melihat keluhan warga. Ia menyatakan bahwa solusi tengah disiapkan agar aktivitas ekonomi para penambang tetap berjalan tanpa melanggar aturan hukum. Pernyataan tersebut disampaikan saat ditemui di Wisma Negara Bumi Beringin, Selasa (3/3/2026).

Dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulut yang digelar pagi itu, masalah pertambangan rakyat menjadi salah satu topik utama. Pembahasan difokuskan pada langkah konkret agar para penambang tidak lagi mengalami hambatan dalam menjual emas mereka, namun tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tidak hanya berhenti di forum resmi, YSK langsung bergerak cepat pada malam harinya dengan mengundang pimpinan wilayah Pegadaian Sulut untuk membicarakan solusi teknis. Ia menyebut komunikasi lanjutan akan dilakukan agar keputusan yang diambil benar-benar matang dan bisa segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Walaupun tadi pagi sudah muncul solusi, malam ini saya langsung berkomunikasi dengan Pak Kakanwil. Besok beliau akan berdiskusi secara internal untuk mematangkan langkah yang bisa membantu masyarakat penambang,” ujar YSK.

Pemerintah, kata YSK, ingin memastikan penyelesaian dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. Pendekatan yang diambil tetap mengutamakan kepentingan rakyat sekaligus kepastian hukum.

“Intinya kami pemerintah berusaha menyelesaikan masalah tanpa masalah. Masyarakat penambang sabar, karena negara akan hadir membela kalian. Jadi ada solusinya,” tandasnya.

Solusi yang Diterima oleh Para Penambang

Sementara itu, Kepala Kanwil Pegadaian Sulut, Maksum, menyatakan pihaknya menyambut baik inisiatif gubernur membuka ruang dialog bersama. Ia menegaskan Pegadaian tetap menerima emas masyarakat untuk digadaikan, selama bukan berasal dari tindak pidana seperti pencurian.

Menurutnya, layanan gadai berlaku selama empat bulan. Apabila belum dapat ditebus dalam jangka waktu tersebut, nasabah cukup memperpanjang dengan membayar sewa modal untuk periode selanjutnya. Selama kewajiban tersebut dipenuhi, emas yang digadaikan tetap menjadi milik nasabah, meski perpanjangan dilakukan dalam waktu yang lama.

“Jadi walaupun bertahun-tahun, selama sewa modalnya dibayar, emas itu tetap menjadi milik nasabah,” tambahnya.

Penambang Rakyat dari BMR Batal Demo Usai Bertemu Gubernur YSK

Penambang di Sulawesi Utara akhirnya membatalkan rencana aksi unjuk rasa setelah mendapatkan solusi dari Gubernur YSK. Solusi tersebut didapat saat bertemu dengan YSK di Wisma Negara Bumi Beringin, Selasa (3/3/2026). Mereka adalah penambang rakyat dari wilayah BMR.

Kedatangan para penambang dipimpin sejumlah tokoh BMR, di antaranya Marlina Moha Siahaan, James Tuuk, serta Aditya Moha Siahaan. Pertemuan tersebut membahas keresahan masyarakat penambang yang belakangan kesulitan menjual emas hasil tambang.

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Gubernur YSK menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Ia menjelaskan, persoalan pertambangan rakyat menjadi agenda utama dalam rapat Forkopimda Sulut. Fokusnya mencari jalan keluar agar hasil tambang tetap bisa dijual tanpa melanggar aturan hukum.

Tak hanya itu, YSK juga langsung berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Pegadaian Sulut guna membuka akses layanan bagi masyarakat.

“Kami pemerintah berusaha menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Masyarakat penambang sabar, karena negara akan hadir membela kalian. Jadi ada solusinya,” tandasnya.

Mendengar penegasan tersebut, suasana ruangan mendadak riuh. Sejumlah penambang yang hadir spontan meneriakkan, “Batal demo… batal demo!” sebagai bentuk dukungan atas solusi yang disampaikan gubernur.

James Tuuk mengungkapkan, Gubernur YSK sangat memikirkan kondisi masyarakat, terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Kami berterima kasih kepada Pak Gubernur yang sudah memfasilitasi. Beliau khawatir kalau masyarakat tidak punya uang saat Lebaran. Saya minta kepada adik-adik penambang dan seluruh masyarakat, solusinya sudah ada. Berpuasalah dengan tenang, jangan demo,” ujarnya.

Senada disampaikan Aditya Moha Siahaan. Ia mengajak masyarakat bersyukur atas langkah konkret yang diambil pemerintah provinsi.

“Pak Gubernur sudah memperjuangkan 63 blok khusus untuk penambang rakyat. Ini legacy, bukan keputusan biasa. Jadi kalau solusinya sudah ditemukan, untuk apa lagi demo?” katanya.


Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *