Hambatan Kurikulum Jadi Penghalang Pemanfaatan STEM untuk Pemberdayaan Generasi Muda Desa

Bayu Purnomo
4 Min Read

Tantangan dan Peluang Pemanfaatan STEM dalam Pemberdayaan Generasi Muda di Desa

Pengembangan generasi muda di daerah terutama di kawasan transmigrasi seperti Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah utamanya adalah rendahnya minat siswa terhadap bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Selain itu, kendala kurikulum juga menjadi hambatan dalam pemanfaatan STEM untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

Kesenjangan Kurikulum dan Minat Siswa yang Rendah

Menurut penelitian oleh Tim Ekspedisi Patriot-ITB Output 1, yang melakukan pengabdian di Kawasan Transmigrasi Prafi, kesenjangan antara kurikulum SMA (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka) dengan kurikulum perguruan tinggi menjadi salah satu hambatan. Perubahan kurikulum yang dinamis juga memperparah situasi ini.

Selain itu, ditemukan bahwa minat siswa terhadap bidang sains, khususnya STEM, masih sangat rendah. Padahal, inovasi hanya akan muncul jika mata pelajaran dasar seperti Matematika, Fisika, dan Kimia (Mafiki) dapat dikembangkan secara baik.

Potensi yang Belum Tersentuh di Distrik Prafi

Di Distrik Prafi, tim menemukan potensi yang belum maksimal dimanfaatkan. Sebagian besar warga adalah petani dengan persentase usia produktif yang tinggi. Namun, keterlibatan sekolah dalam perekonomian lokal dan pemanfaatan lahan masih minim. Lulusan cenderung memilih karir di TNI/Polri, dengan minat melanjutkan ke perguruan tinggi yang rendah.

Implementasi STEM dalam Pendidikan

Lokakarya yang diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Patriot-ITB bertujuan untuk membuka wawasan guru tentang pentingnya STEM dalam pendidikan. Dalam lokakarya tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya fokus pada Capaian Pembelajaran (CP), tetapi juga mengembangkan potensi siswa.

Beberapa cara implementasi STEM dalam pendidikan antara lain:

Mengarahkan siswa melakukan identifikasi kualitas air secara sederhana

Membantu dalam memasarkan produk dengan teknologi informasi sederhana

Mengaplikasikan STEM dalam mata pelajaran tertentu atau muatan lokal

Menggunakan STEM dalam research based learning dengan bidang yang terintegrasi dan berdampak pada ekonomi desa

* Membuat produk sederhana berbasis sains seperti sabun, hand sanitizer, hingga alat penyaring air sederhana

Poin Implementasi dan Rekomendasi

Dari diskusi panel dan tanya jawab, beberapa poin penting terkait implementasi STEM muncul. Salah satunya adalah pengembangan SDM guru. Keterbatasan tenaga pengajar menjadi tantangan utama, terutama jika STEM diintegrasikan sebagai muatan lokal (mulok) atau ko-kurikuler.

STEM dinilai cocok diimplementasikan dalam muatan lokal, ko-kurikuler, atau dimodifikasi dalam proyek Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dengan penekanan pada landasan teori, analisis, implementasi ke masyarakat, dan keberlanjutan.

Komitmen Dinas Pendidikan dan Keberlanjutan

Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari berkomitmen untuk merekomendasikan pendekatan STEM sebagai program prioritas pada tahun 2026 di tingkat SMA. Pengembangan aspek pertanian dan lingkungan menjadi hal utama dalam penerapan STEM di kawasan transmigrasi Prafi.

Perlu juga pemantauan dan pendampingan berkelanjutan dari Dinas Pendidikan dan akademisi. Melalui pendekatan STEM, para peserta lokakarya sepakat untuk menyatukan pemahaman dan memulai perubahan dari tingkat bawah, yaitu tingkat desa.

STEM sebagai Solusi Kritis

Kepala Bidang SMA/SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat, Recky Risamasu, menegaskan bahwa STEM sangat penting untuk mengubah mindset pembelajaran yang selama ini cenderung monoton. Ia mengakui manfaat besar dari STEM dan menyatakan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh terhadap perubahan ini.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah merumuskan rekomendasi strategi pengintegrasian STEM dalam kurikulum sekolah dan implementasinya untuk memanfaatkan potensi ekonomi dan menyelesaikan masalah lokal di desa.

Kesimpulan

Pengembangan STEM di kawasan transmigrasi Prafi memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui generasi muda yang kreatif dan inovatif. Dengan kolaborasi antara guru, siswa, dan komunitas, serta dukungan dari pemerintah dan akademisi, STEM dapat menjadi solusi kritis dalam menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di daerah tersebut.

Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *