- Tantangan dan Peluang Pemanfaatan STEM dalam Pemberdayaan Generasi Muda di Desa
- Kesenjangan Kurikulum dan Minat Siswa yang Rendah
- Potensi yang Belum Tersentuh di Distrik Prafi
- Implementasi STEM dalam Pendidikan
- Poin Implementasi dan Rekomendasi
- Komitmen Dinas Pendidikan dan Keberlanjutan
- STEM sebagai Solusi Kritis
- Kesimpulan
Tantangan dan Peluang Pemanfaatan STEM dalam Pemberdayaan Generasi Muda di Desa
Pengembangan generasi muda di daerah terutama di kawasan transmigrasi seperti Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah utamanya adalah rendahnya minat siswa terhadap bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Selain itu, kendala kurikulum juga menjadi hambatan dalam pemanfaatan STEM untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
Kesenjangan Kurikulum dan Minat Siswa yang Rendah
Menurut penelitian oleh Tim Ekspedisi Patriot-ITB Output 1, yang melakukan pengabdian di Kawasan Transmigrasi Prafi, kesenjangan antara kurikulum SMA (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka) dengan kurikulum perguruan tinggi menjadi salah satu hambatan. Perubahan kurikulum yang dinamis juga memperparah situasi ini.
Selain itu, ditemukan bahwa minat siswa terhadap bidang sains, khususnya STEM, masih sangat rendah. Padahal, inovasi hanya akan muncul jika mata pelajaran dasar seperti Matematika, Fisika, dan Kimia (Mafiki) dapat dikembangkan secara baik.
Potensi yang Belum Tersentuh di Distrik Prafi
Di Distrik Prafi, tim menemukan potensi yang belum maksimal dimanfaatkan. Sebagian besar warga adalah petani dengan persentase usia produktif yang tinggi. Namun, keterlibatan sekolah dalam perekonomian lokal dan pemanfaatan lahan masih minim. Lulusan cenderung memilih karir di TNI/Polri, dengan minat melanjutkan ke perguruan tinggi yang rendah.
Implementasi STEM dalam Pendidikan
Lokakarya yang diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Patriot-ITB bertujuan untuk membuka wawasan guru tentang pentingnya STEM dalam pendidikan. Dalam lokakarya tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya fokus pada Capaian Pembelajaran (CP), tetapi juga mengembangkan potensi siswa.
Beberapa cara implementasi STEM dalam pendidikan antara lain:
Mengarahkan siswa melakukan identifikasi kualitas air secara sederhana
Membantu dalam memasarkan produk dengan teknologi informasi sederhana
Mengaplikasikan STEM dalam mata pelajaran tertentu atau muatan lokal
Menggunakan STEM dalam research based learning dengan bidang yang terintegrasi dan berdampak pada ekonomi desa
* Membuat produk sederhana berbasis sains seperti sabun, hand sanitizer, hingga alat penyaring air sederhana
Poin Implementasi dan Rekomendasi
Dari diskusi panel dan tanya jawab, beberapa poin penting terkait implementasi STEM muncul. Salah satunya adalah pengembangan SDM guru. Keterbatasan tenaga pengajar menjadi tantangan utama, terutama jika STEM diintegrasikan sebagai muatan lokal (mulok) atau ko-kurikuler.
STEM dinilai cocok diimplementasikan dalam muatan lokal, ko-kurikuler, atau dimodifikasi dalam proyek Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dengan penekanan pada landasan teori, analisis, implementasi ke masyarakat, dan keberlanjutan.
Komitmen Dinas Pendidikan dan Keberlanjutan
Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari berkomitmen untuk merekomendasikan pendekatan STEM sebagai program prioritas pada tahun 2026 di tingkat SMA. Pengembangan aspek pertanian dan lingkungan menjadi hal utama dalam penerapan STEM di kawasan transmigrasi Prafi.
Perlu juga pemantauan dan pendampingan berkelanjutan dari Dinas Pendidikan dan akademisi. Melalui pendekatan STEM, para peserta lokakarya sepakat untuk menyatukan pemahaman dan memulai perubahan dari tingkat bawah, yaitu tingkat desa.
STEM sebagai Solusi Kritis
Kepala Bidang SMA/SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat, Recky Risamasu, menegaskan bahwa STEM sangat penting untuk mengubah mindset pembelajaran yang selama ini cenderung monoton. Ia mengakui manfaat besar dari STEM dan menyatakan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh terhadap perubahan ini.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah merumuskan rekomendasi strategi pengintegrasian STEM dalam kurikulum sekolah dan implementasinya untuk memanfaatkan potensi ekonomi dan menyelesaikan masalah lokal di desa.
Kesimpulan
Pengembangan STEM di kawasan transmigrasi Prafi memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui generasi muda yang kreatif dan inovatif. Dengan kolaborasi antara guru, siswa, dan komunitas, serta dukungan dari pemerintah dan akademisi, STEM dapat menjadi solusi kritis dalam menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di daerah tersebut.